Review: Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta

Malam ini aku cemburu. Cemburu sekali pada kisah Arumdhati dan Angaraka🙂

Kumcer Tasaro GK ini akhirnya aku beli setelah terpikat pada judul bukunya yang puitis >_<

Setelah membaca “Puisi” dan “Kagem Ibuk”, aku tak sabar mengintip judul yang telah mencuri perhatianku, “Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta”. Dan aku tak salah menebak, yeay! Cerpen ini membuatku begitu terpesona. Mengingat panjangnya cerpen yang melebihi ukuran pada umumnya, rasanya cerita ini tak layak disebut Cerpen, apalagi Cerbung. Nah, lho apaan jadinya?

Aku terheran dengan kesetiaan Arumdhati pada keyakinannya akan rasa yang tak memiliki nama selama belasan tahun…

Kesetiannya pada kenangan masa lalu yang tetap dibingkainya dengan indah bertahun-tahun kemudian. Kenangan pada upacara Kasada yang mempertemukannya dengan kstaria yang menyelamatkan nyawanya, sekaligus sosok yang berhasil membuat Arumdhati menggadaikan jiwanya. Kesetiaan merawat rasa pada ksatrianya, pada Angaraka. Lelaki gagah yang mengucurkan kebahagiaan tanpa henti di masa kecilnya.

Meski perpisahan menggelayutkan rasa yang ia punya pada kesedihan, ia tetap setia. Kesetiaan yang sama tetap dimilikinya ketika ia pulang ke Gunung Brahma. Bertemu dengan ibu Angaraka yang member berita tentang lelaki yang dirindunya. Sedikit kebahagiaan saat Ibu Angaraka menceritakan tentang dirinya yang selalu dibicarakan oleh Angaraka. Bahagia sebentar, berganti duka tak berkesudahan saat ibu Angaraka bercerita, Angaraka telah bertemu wanita lain.

Terluka, bertanya akan rasa yang dimilikinya, memendam sedih, ia bersumpah tak akan kembali ke tanah kelahirannya, Tengger.

Meski selama ini ia setia tanpa bertanya, pada puncaknya ia tetap meminta jawab. Arumdhati bertanya pada ramalan yang ia percaya melebihi perasaan hati yang menahun bersamanya. Ramalan itu menyatakan rasa yang tak dimiliki Angaraka.

Arumdhati lunglai… dan tetap memberi sebuah kado di tiap tahunnya untuk Ibu Angaraka saat ramadhan tiba. Kado sebagai rasa syukurnya telah melahirkan Angaraka ke dunia…

Arumdhati berhenti memuja rasa yang dimilikinya… ia menepi, tak ingin mengganggu Angaraka.

Namun, kaitan nasib Arumdhati tak berhenti pada ramalan yang mulai dipercayainya…..

Kesetiaannya pada rasa menuntunnya pulang…

Setelah belasan tahun menunggu, Angaraka menjumpai kembali Arumdhati. Pertemuan mereka lebih indah daripada harapan yang selama ini mereka rawat dalam diam…

Tak ada lagi pertanyaan yang menemani Arumdhati dan Angaraka. Keduanya telah bicara tentang rasa, meski melewatkan kata agung yang dipuja manusia. Lewat lukisan, akhirnya Angaraka bicara. Rasa itu bernama: Tetap Saja Kusebut Dia Cinta…

Arumdhati tak lagi pergi mengembara. Ia kembali pada tanah kelahirannya. Menarikan kidung cinta yang membuatnya bertemu dengan Angaraka.

Angaraka pun tersenyum, kebahagiaan itu tetap bersemai di jiwanya meski tak berakhir pada penyatuan. Hanya berakhir pada rasa, tanpa meminta jalan penyatuan yang terasa lebih agung.

Keindahan rasa yang mereka miliki pada akhirnya lebih indah dari jalan penyatuan yang diinginkan setiap pecinta.

Terima kasih Tasaro GK buat kidung indahnya. Terima kasih Arumdhati dan Angaraka🙂 Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta

28 Oktober 2014

22:52

Note:🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s