Rumah Sakit yang Tertukar

Aku terbangun dengan rasa malas meski Mbak Roh berkali-kali membangunkanku.

“Aku baru tidur Shubuh, Mbak,” alibiku menolak membuka mata.

Ndang cepat Nung…. Wis ditelepon bola-bali iki lho, kon ndang ngeterke saline Sari,” Mbak Roh kembali bersuara.

Berhubung Mbak Roh terus-terusan menyuruh bangun, akhirnya aku bersiap pergi juga. Membawa tas jinjing berisi pakaian adikku dan membawa ransel laptopku. Jalanan di dusunku tiba-tiba jadi kecil dan pendek dari yang kuingat sejak berseragam merah putih. Segala bangunan di sepanjang jalan makin mengecil, kusam, meski ada satu-dua rumah yang berdiri megah.

Sesampainya di tepi jalan raya, aku mematung sendiri. Memfokuskan pandanganku ke ujung jalan menanti bus yang kutunggu. Selalu saja, bus itu seperti benda keramat. Jarang muncul, tapi kedatangannya selalu ditunggu. Untung saja jam masuk anak sekolah sudah lewat, kalau tidak aku harus berebut dengan puluhan anak sekolah yang melihat bus laksana hujan berlian🙂.

Setelah menit-menit yang sepi, akhirnya bus datang dan aku mendapat tempat duduk yang nyaman. Sembari mengenang jalan-jalan yang dulu kulalui, aku terdiam hingga sampai pada tujuanku, perempatan Kartonyono. Beberapa supir becak bermotor menawarkan jasanya. Dengan senang hati aku segera naik dan memberitahukan tujuanku, Rumah Sakit Widodo.

Sesampainya di Rumah Sakit Widodo dengan tenang dan penuh keyakinan aku berjalan ke meja pendaftaran.

“Mbak, kalau kamar pasien yang bernama Nur Sari Ningrum yang melahirkan di mana ya?”

“Bentar ya Mbak, kami cek dulu,” ucap Mbak Resepsionis ramah.

Setelah membolak-balik buku folio pendaftaran berisi nama-nama pasienbergaris yang sewaktu SMA kupakai untuk buku akutansi, mbaknya segera menggeleng padaku.

“Enggak ada tuh Mbak. Kapan melahirkannya?”

“Kemarin Mbak,” jawabku pasti.

Padahal kalau diingat-ingat adikku ngelahirin hari Rabu, bukan hari Kamis haha….

“Enggak ada tuh, Mbak,” ucapnya sambil membalik-balik buku berkali-kali, “coba ditelepon aja saudaranya, Mbak.”

Aku pun pergi berlalu keluar pintu. Berdiri dengan keyakinan yang masih sama: nggak mungkin salah rumah sakit! Lalu aku melihat HP yang baterainya hampir habis. Hendak menelepon, eh pulsa habis hiks. Segera aku SMS menantu ibuku yang sedang berbahagia itu mencari tahu di manakah adikku berada.

Ada pesan masuk, singkat saja,”Di rumah sakit umum, Mbak.”

Tuh kan! Habis dari kemarin saudara cuma bilang rumah sakit aja, enggak dikasih embel-embel nama rumah sakitnya sih. Segera saja aku masuk ke becak motor yang lainnya di depan rumah sakit.

“Emang enggak ada ya Mbak saudaranya tadi?” tanya bapak becak motor penuh rasa ingin tahu setelah melihatku keluar.

“Enggak ada Pak, ternyata di Rumah Sakit Umum,” jawabku setengah hati dengan perasaan kecewa.

“Pasti di UGD Mbak, coba aja tanya bagian pendaftaran UGD, pasti tahu,” bapak becak motor kembali menasihatiku.

Sesampainya di Rumah Sakit Umum Ngawi, aku langsung menuju UGD menuruti saran bapak becak.

“Mbak, mau nanya kalau pasien yang melahirkan itu ruangnya di sebelah mana ya?”

“Oh di bangsal Wijaya Kusuma Mbak, Mbak mangke lurus mawon saking tengah. Terus ngaler, belok kanan, mangke wonten bangunan tingkat mbak e ngilen malih kemawon.

“Oh… nggih matur nuwun,” jawabku tak mengerti.

Jangan minta les bahasa Inggris dulu deh Nur, kalau kamu lupa apa arti ngaler dan ngilenhiks. Efek lama menggunakan bahasa persatuan tercinta di rantau, aku malah lupa ma bahasa Ibu yang dulu begitu kuagungkan. Apa kata ibu ntar kalau tahu anak perempuannya yang diajari krama inggil sejak TK sudah lupa, bahkan untuk tingkatan krama madya sekalipun. Hadeh lieur….

Daripada pusing cari bangsal, aku segera mengirim SMS lagi, bertanya pada saudara ipar sekali lagi. Balasannya datang beberapa menit kemudian, menyuruhku menunggu di parkiran saja supaya dijemput. Dalam hati, aku masih ngeyel. Ya elah…. Masak pakai acara jemput segala. Kan tinggal bilang aja kamar nomor berapa. Meski protes, akhirnya aku tetap menunggu.

Menit-menit berlalu dalam masa penantian membuatku bosan. Kembali aku membaca denah rumah sakit yang mudah dimengerti. Gini-gini aku kan pernah jadi guru bahasa Indonesia terus ngajari anak-anak baca denah di kelas 4, masak nggak bisa nyari kamar adik sendiri sih? Batinku ngeyel. Setelah bosan menunggu, aku bertanya kepada mas-mas penjaga pintu masuk yang pakaiannya kayak Cak Jawa Timur🙂.

Untungnya pertanyaanku yang bahasa Indonesia dijawab dengan bahasa Indonesia pula haha…. Bertekad mencari, akhirnya aku bangkit dari kursi. Berusaha menelusuri arah sesuai ingatan denah dan petunjuk mas-mas yang bajunya rapi. Dari bangunan tengah rumah sakit, aku berjalan lurus, belok kanan, lalu turun menuju gedung sebelah yang bertingkat. Merasa yakin, aku meneruskan langkahku hingga ke bagian belakang.

Aku kaget setelah mendapati bangunan belakang gedung yang menanjak curam 45 derajat. Meski sepi, aku tetap naik sambil berpegangan ke bagian pinggir tangga. Sesampainya di depan pintu, ya ampun. Itu ternyata pintu masih dikunci. Berarti ini gedung nggak berpenghuni dong. Setelah turun, aku kembali bertanya kepada bapak yang bersih-bersih taman.

Lagi-lagi pertanyaanku dijawab dengan ngaler-ngilen-lurus lagi. Setelah terdiam tak mengerti, lalu kembali bertanya. Bapak yang baik hati itu pun mengulangi jawabannya dengan tanda yang berbeda: belok kiri, belok kanan, lurus, cari gedung bertingkat. Meski agak bingung akhirnya aku ketemu juga bangsal Wijaya Kusuma.

Menurut pengumuman jam besuk, aku belum boleh masuk. Beberapa orang tua terlihat berbicara dengan anak perempuannya dari luar jendela kamar. Ampun, kayak lagi ada pemisahan keluarga aja lihatnya. Tak tahan diam menunggu di luar, kuberanikan diri masuk bertanya kepada perawat yang jaga di balik pintu.

“Maaf Mbak, mau nanya, kalau saya cuma antar baju aja boleh nggak?”

“Oh ya Mbak, memang belum waktunya jam besuk, tapi kalau antar baju silakan aja.”

“Maaf Mbak, saya nggak tahu kamarnya yang mana, bisa tolong kasih tahu kamar Nur Sari Ningrum di mana?”

“Bentar ya Mbak,” perawat lagi-lagi membolak-balik buku catatan pasien dan aku menunggu dengan tabah sekaligus lelah.

“Mbak, pasiennya ternyata nggak dirawat di bangsal ini,” jelasnya kemudian.

“Lho Mbak emang dirawat di mana?”

Nggak mungkin rumah sakitnya tertukar lagi kan? Rumah sakit di Ngawi kan cuma dua, to? Batinku bertanya-tanya.

“Pasien yang bernama Nur Sari Ningrum dirawat di kelas 1A. Dari pertigaan di sebelah lurus saja, di depannya itu deretan kamarnya Mbak,” jelas perawatnya lagi.

Menuruti petunjuk perawat tadi, akhirnya di pertigaan jalan aku bertemu saudara ipar. Akhirnyaaa… andai saja aku lebih sabar menunggu haha…. Tentu aku nggak sebingung tadi. Tapi menunggu? Oh, aku lebih suka berjalan dan menemukan sendiri jalanku meski seringkali tak sesuai harapanku.

Malam setelah hujan deras di rumah sakit, 7 November 2014

21:43

Note: Untung rumah sakit di Ngawi cuma 2🙂.

4 thoughts on “Rumah Sakit yang Tertukar

  1. ckckckckck, kinuuuurr -_-‘
    I really wondering your face, tapi kebanyang daah mukanye pagimanee, whukekeke
    anyway, blognya tambah cantiiiikkk!
    lebih suka baca di blog!
    mantapkss!

    • Masak ud lupa ma wajahku yang super anggun sih mbakyu?
      Ekspresiku tetap menjaga harga diri kok, dan gbs qm bayangin krn standar ketabahan batin qt beda..
      Iya sih suka meski agak gimana karena foto anggunku jadi kecil wkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s