Mengepakkan Sayap

Selamat menerbangkan sayapmu di antara angin-angin, kawan. Terbangkan segala luka, kecewa, dan keraguanmu. Terbanglah tanpa beban, dan temukanlah anugerah Tuhan yang telah disediakan untukmu…

 Bagag, Jiwan

Kamis terakhir di Desember tahun kemarin merupakan perjalanan keduaku ke Madiun. Dalam dua minggu, aku pergi dua kali ke Madiun, dan kali terakhir telah kuniatkan untuk belajar naik motor. Sudah saatnya aku memberanikan diri dan mengalahkan ketakutanku belajar motor. Pengalaman jatuh dari motor yang nyaris mencelakakanku urung membuatku belajar naik motor. Padahal, sudah sekian kali teman-temanku mengingatkan pentingnya kemampuan satu itu. Supaya tak bergantung pada orang lain jika mengharuskan naik motor.

            Pagi yang kutunggu keesokkan harinya setibanya di Madiun pun membuatku bergetar, antara senang dan takut. Atas desakkan Mbak Rini, saudara tertuaku, akhirnya aku belajar naik motor dengan Pak Dim. Kalau nungguin ponakan pertama, bakalan lama karena dia amat sibuk (sibuk ma diri sendiri:)). Ponakan nomor dua, dengan segala kebulatan tekadnya menyatakan ketakutannya kalau ngajarin buliknya ini naik motor -___-“.

            Pertama belajar langsung di depan rumah Mbak Rini yang ramai sekali. Meski jalannya kecil, jalan di Desa Sambirejo itu sering dilewati motor dengan kecepatan angin dan truk yang hilir mudik entah mengangkut apa. Mungkin hasil panen karena memang di ujung jalan terhampar sawah berkilo-kilometer.

            “Mas, suruh nambah gasnya. Biar nggak gojak-gajek motornya,” teriak salah seorang tetangga Pak Dim dari seberang jalan.

            “Nggih Pak,” jawab Pak Dim di belakangku membuatku semakin gugup.

            Pelajaran naik motor berikutnya akhirnya dilakukan di lapangan Desa Sambirejo. Pak Dim duduk di pojok lapangan dan melepasku begitu saja. Disuruh belajar sendiri, mengendalikan rem, nge-gas, dan tanah yang bergelombang. Dua hari belajar di lapangan saat sepi, ditemani sekawanan kambing, ataupun saat lapangan penuh dengan orang yang bermain bola. Kalau ingat saat dilepas Pak Dim di lapangan, kok rasanya seperti kambing lagi dilepas cari makan yang ada di lapangan -_-.

            Pengalaman dua setengah hari belajar naik motor adalah dua kali melintas ular saat belajar ngebut itu seperti dapat pesan dari alam: baru belajar nggak boleh belagu, JengJ. Selama dua hari salah baca speedometer, kupikir aku sudah bisa naik motor stabil dengan kecepatan 25 km/jam ternyata 30 km/jam. Waktu belok selalu lupa ngatur gas, dan pernah hampir nabrak pagar kuburan desa sebelah -_-. Terakhir, waktu kehabisan bensin tanpa rasa malu bilang ke penjualnya kalau aku nggak bisa buka wadah bensin karena baru belajar motor, hiks…. Malunya. Habis kan belum diajarin di mana letak wadah bensin dan cara bukanya. Aku cuma bisa ingat apa yang aku ajari doang -_-.

            Setengah hari terakhir, aku memberanikan diri ambil helm. Merasa mampu naik motor dengan kecepatan 40 km/jam di hari kedua sepanjang jalan tepi sawah yang penuh kelokan, aku memutuskan mengepakkan sayap lebih jauh lagi. Melewati Metesih, aku menuju Bagag, Jiwan. Itu daerah terjauh yang kutempuh. Aku menyusuri jalan menuju ringroad Madiun berdasarkan ingatan waktu dijemput ponakan. Menambah kecepatan hingga 55 km/jam sebenarnya. Tapi cuma bilang ke Mbak Rini dan Pak Dim bisa sampai 50 km/jam. Keberanian naik motor dengan kecepatan angin pertamaku berkat dorongan kata-kata Mbak Rin supaya kalau naik motor enggak nggremet. Who knows the meaning of nggremet? Nggremet itu merayap.

            “Mbak, aku dah bisa naik motor 50 km/jam, lho,” pamerku bangga.

            “Kok cepet men, Nur?” Mbak Rin bertanya dengan ekspresi terkejut padaku.

            “Lah, aku kan wis gowo helm, Mbak? Jare kon latihan sing banter, jo nggremet. Piye sih?”

            Mbak Rini pun diam tak berkata-kata lagi:).

            Minggu siang saat duduk di dalam bus menuju Ngawi, aku merasa tenang. Akhirnya aku bisa mengepakkan sayap pertamaku, mencapai tempat terjauh di awalku seorang diri. Aku tak perlu berteriak untuk mengungkapkan bahagiaku. Sama seperti halnya kehidupan, ada hal-hal yang cukup disimpan dan dirasakan sendiri kebahagiaannya. Adapula yang harus dibagi dengan yang lain biar bahagianya menguar lebih jauh lagi. Namun kemarin, aku cukup tersenyum sambil memeluk angan, kelak kan kutempuh jarak terjauhku dengan angin dan bahagia ribuan kali lebih indah dari kemarin. I wish…. Aamiin.

Kamis, 1 Januari 2014

19:40

Note: Kebahagiaan di akhir tahun yang memenuhi hatiku. Be brave, and keep on going Nur:).

2 thoughts on “Mengepakkan Sayap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s