Trauma Nasi Kucing

nasi kucing

nasi kucing

Pertengahan 2006, aku merantau ke Jogja. Pertama kalinya aku akan menetap lama, jauh dari keluarga di Ngawi. Aku mendaftar di dua kampus, UGM dan Sanata Dharma. Meski diterima di kedua kampus, akhirnya aku memilih Sanata Dharma. Karena jurusan yang diterima di UGM bukan Psikologi, tapi Sastra Indonesia.

Sejak memutuskan memilih Sanata Dharma sebagai pilihanku, aku mulai berpuasa selama 2 minggu memenuhi nazarku. Sebelumnya, aku bernazar puasa selama 2 minggu jika diterima di UGM, dan puasa seminggu jika diterima di Sanata Dharma. Karena diterima di kedua kampus, aku memilih puasa 2 minggu. Nazarku ini mengikuti ibuku.

Sebelum aku berangkat ke Jogja, Ibu memberitahu, “Nduk, Ibu bakal puasa selama sebulan biar tercapai cita-citamu kuliah di UGM.”

Sejak kecil, ibu selalu seperti itu, bernazar dan mengajarkan aku hidup prihatin. Meski aku melarang, ibu tetap bersikukuh. Sebagai wanita Jawa, ibu sudah terbiasa melakoni puasa nazar. Demi anaknya yang hendak kuliah, ibu merasa wajib turut berupaya lewat puasanya.

Minggu, 20 agustus 2006, aku pindah ke kos Amanda di sebelah selatan kampus. Mas iparku, Mas Yan yang mencarikan kos untukku. Jaraknya cukup dekat, 10 menit sudah sampai ke kampus.

“Kalau kamu kos di Amanda, ada temanku Nur. Namanya Mbak Ika, jadi bisa titip kamu,” ucap Mas Yan sebelum aku pindah.

Selesai beres-beres kamar, aku mulai berkenalan dengan penghuni kos lainnya. Saat ditawari kue oleh teman kos, aku menolak halus. Aku tak ingin memberitahu bahwa aku sedang berpuasa.

“Nur, ntar habis maghrib, kita ma anak-anak makan nasi kucing di angkringannya Mas Agung. Kamu udah pernah makan nasi kucing belum, Nur?”

“Belum Mbak, ya udah ntar Nur ikut aja.”

Menginjak malam, Mbak Ika, mengajak seluruh anak kos makan di angkringan Mas Agung. Kata Mbak Ika, angkringan Mas Agung merupakan langganan anak-anak yang kos di Amanda. Meski aku belum mengerti sepenuhnya yang dimaksud dengan angkringan. Aku menurut saja, karena belum tahu daerah sekitar kos dan warung yang menyediakan makan sesuai seleraku.

Sesampainya di angkringan, Mbak Ika menyuruhku mengambil nasi duluan dan memilih lauk yang akan dibakar. Aku bingung dan menunggu mereka. Rupanya mereka makan belakangan, dan lebih memilih makan gorengan saja sambil minum es.

Aku mengamati angkringan dan melihat Mas Agung sedang membakar tempe dan tahu bakso goreng. Angkringan terdiri dari gerobak kayu, pembakar di sebelah kanan, dan beberapa kursi di depan gerobak. Mas Agung juga menyediakan alas terpal bagi pelanggan yang memilih duduk lesehan. Ada dua jenis bungkus nasi super imut yang berbeda, satu berisi nasi sambal teri, dan satunya nasi isi kering tempe. Selain nasi tersedia aneka gorengan, ceker ayam, sate ayam, dan sate telur puyuh.

Aku lantas mengambil nasi sambel teri, memesan dua tempe bakar, dan satu gelas isi es teh. Melihatku mengambil satu bungkus nasi, Mbak Ika menegurku.

Nduk, tambah lagi nasinya. Memangnya ntar kamu kenyang?”

“Nggak Mbak, satu aja nasinya dah cukup,” sahutku malu-malu.

“Ayo Nur, ambil lagi. Kalau lapar kita nggak tanggung jawab lho ya,” tambah Mbak Ida sambil tersenyum.

Aku hanya diam, mengangguk malu. Tak juga mengambil nasi lagi. Setelah membuka bungkusan nasi imut itu, hatiku mendadak ciut. Aih, nasinya benar-benar imut. Empat kali sendok saja, nasiku sudah habis, hiks. Masih lapar ternyata, tapi malu mengambil lagi. Pantas saja disebut nasi kucing. Porsi imutnya memang khusus untuk kucing dan cewek yang mau diet.

Aku pikir tak sopan dan memalukan mengambil nasi lebih dari sebungkus. Ternyata pikiranku salah, teman kosku yang lain setelah menghabiskan minumnya mulai mengambil 2-3 nasi kucing. Ya ampun! Ternyata dugaanku salah. Karena sudah selesai makan, aku malu mengambil lagi seperti mereka.

Aku pulang kos dengan penuh penyesalan. Apalagi besoknya aku masih berpuasa dan hanya memiliki satu botol aqua. Aku belum sempat keliling kos dan mencari toko yang menjual makanan.

Esok paginya aku segera bertanya pada temanku tempat membeli makanan selain di angkringan. Sudah cukup, aku masih harus punya energi di minggu pertama perkuliahan. Karena malu dan tidak jujur, aku lemas sepanjang hari. Malam berikutnya, ketika mereka mengajakku membeli nasi kucing, aku mantap menolak.

“Nggak Mbak, Nur sudah beli nasi di warung belakang kos,” sahutku cepat.

Nur trauma makan nasi kucing hehe…. Batinku dalam hati.

Hari-hari selanjutnya setelah masa puasa berakhir, sesekali aku ikut makan di angkringan. Aku lebih memilih makan nasi telur bakar di penyetan yang letaknya tak jauh dari angkringan. Porsi nasinya pas, dan telur bakarnya yang lezat membuatku ketagihan berlangganan. Dan berita baiknya, tak ada lagi kisah aku kelaparan karena makan nasi kucing.

Ndoro Kakung Home, 10-10-2014

Note: Jangan pernah malu mengungkapkan isi hatimu jika itu terkait makanan penunjang kehidupanmu. Ingatlah, energi yang besar berasal dari makananmu:).

2 thoughts on “Trauma Nasi Kucing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s