Bu Sarikem

Sepanjang aku bersekolah, banyak guru yang berkesan untukku. Namun, ada seorang guru yang hingga kini masih kuingat dengan baik. Namanya, Bu Sarikem. Beliau adalah wali kelasku saat kelas 1 SMP. Murid-murid memanggil beliau, Bu Sari. Aku mengenal beliau lebih dekat dari teman-teman lain berangkat dari masalah yang kuhadapi. Yaitu terkait mataku yang tak bisa melihat dengan jelas.

Sejak naik kelas 4 SD, aku sudah tidak bisa melihat dengan jelas tulisan di papan tulis. Aku hanya menatap kosong papan tulis ketika guru menjelaskan. Meski sudah duduk di bangku paling depan sekalipun, aku tetap tidak bisa membaca tulisan dengan jelas.

Selama sisa tahun terakhir berakhirnya SD, aku hanya belajar dari catatan teman sepulang sekolah. Meski aku tak bisa mengikuti pelajaran yang disampaikan lewat papan tulis, aku belajar memahami sendiri catatan temanku dengan baik. Hasilnya, aku selalu memperoleh rangking di kelas sepanjang tahun. Setidaknya aku selalu memperoleh rangking 5 besar di kelas.

Hal paling menyedihkan selama SD adalah pernah sekali aku mendapat nilai nol dalam ulangan. Bukan karena aku tidak bisa menjawab pertanyaan ulangan tersebut, tapi soal tersebut ditulis di papan tulis. Soal ulangan harian itu tidak dibacakan atau diketik dalam selembar kertas. Padahal, akulah yang menulis soal tersebut di papan tulis. Guru-guru selalu menunjukku untuk menyalin materi pelajaran yang penting di papan tulis karena menganggap tulisanku rapi. Hari itu, pertama kalinya aku merasa bodoh dan mendapat ejekan dari teman-temanku.

Meski kesulitan belajar karena penglihatanku yang tidak jelas, aku tidak berani memberitahukan hal tersebut pada guru di sekolah. Aku hanya memberitahu ibu tentang mataku yang tidak bisa melihat papan tulis. Namun, ibu tidak menindaklanjuti keluhanku. Mungkin ibu berpikir, itu hanya sakit mata biasa karena selama ini aku tetap mendapat rangking di kelas dan pujian dari guru tiap kali menerima raport.

Masa belajar di SD, kututup dengan rasa bahagia karena aku memperoleh urutan ketiga untuk nilai tertinggi UAN. Wali kelasku pun segera memberi saran pada ibu agar memasukkanku ke SMP favorit di Ngawi, SMP 2 Ngawi.

Minggu pertama belajar di SMP, kulalui dengan perasaan teramat sedih. Aku baru mengenal beberapa teman baru di kelas. Teman yang sebangku denganku pun enggan meminjamkan catatan pelajarannya kepadaku. Dia merasa terganggu dengan sikapku yang terus melihat catatan bukunya meski sudah kujelaskan kalau mataku sakit.

Minggu berikutnya aku bertukar teman sebangku. Teman sebangku yang baru lebih baik dari sebelumnya. Ia tidak marah ketika aku meminjam catatannya dan bersedia menerangkan kembali penjelasan guru. Meski sudah mendapatkan teman sebangku yang baik, aku tetap saja merasa tidak nyaman. Aku tidak ingin terus-menerus mengganggu teman dengan kekuranganku. Akhir minggu kedua, aku memberitahu ibuku kembali tentang kondisi mataku. Kujelaskan dengan lebih rinci apa yang aku alami sejak kelas 4 SD.

Ibu akhirnya mengerti kalau aku membutuhkan kacamata. Ibu pun menulis surat dan menyuruhku memberikan surat itu pada wali kelasku. Sehari setelah aku memberikan surat ibu, Bu Sari memanggilku ketika jam istirahat tiba.

“Sofa, apa benar kamu tidak bisa membaca dari tempat dudukmu? Saya dapat surat dari Ibumu, katanya kamu nangis karena nggak bisa baca papan tulis?” selidik Bu Sari.

“Inggih Bu—Ya Bu,” jawabku singkat dengan mata berkaca-kaca.

“Ya sudah, nanti Bu Sari bicara dengan BP ya, mudah-mudahan kamu dapat bantuan dari sekolah supaya belajar dengan baik,” lanjut Bu Sari berusaha menenangkanku.

Aku hanya bisa mengangguk mendengar perkataan beliau. Aku kembali duduk dengan perasaan tak menentu. Sepulang sekolah, aku bertanya kepada ibu tentang surat yang ditulisnya. Rupanya ibu meminta bantuan Bu Sari supaya sekolah membantu membelikan aku kacamata. Ibu tak memiliki uang untuk membeli kacamata untukku. Aih, sedihnya mendengar hal itu.

Hari Jumat di minggu yang sama, aku kembali dipanggil oleh Bu Sari. Bu Sari menyuruhku menemui beliau sepulang sekolah.

“Sofa, sekolah bantu kamu untuk beli kacamata. Saya diserahi tugas untuk membelikan kamu kacamata. Kita beli di Solo saja ya hari Minggu, kebetulan Minggu saya membeli baju di Pasar Klewer. Habis beli baju, nanti baru beli kacamata buat kamu,” Bu Sari menjelaskan dengan detail rencana pembelian kacamata.

Aku sangat gembira mendengar hal itu, namun kata yang bisa kuucapkan hanyalah, “Inggih Bu, matur nuwun sanget—Ya Bu, terima kasih banyak.”

***

Hari Minggu, aku dan Bu Sari pergi ke Solo. Aku gembira bisa mengunjungi Pasar Klewer setelah sekian lama. Terakhir kali aku pergi ke Pasar Klewer bersama dengan bapak dan ibu adalah saat kelas 2 SD. Karenanya, misi pembelian kacamata kala itu bisa dibilang jadi salah satu perjalanan mengenang jejak kehidupan.

Sepanjang perjalanan ke Solo, aku memerhatikan betul wajah Bu Sari. Selama 2 minggu belajar di kelas, aku baru bertemu beberapa kali dengan Bu Sari. Bu Sari berperawakan gemuk, tingginya sama dengan tinggiku saat kelas 1 SMP. Kulit beliau putih pucat, matanya besar, berhidung mancung, rambut Bu Sari lurus dan pendek sebahu. Bu Sari tak banyak bicara sehingga di mata teman-teman, wali kelas kami terlihat tegas. Oh ya, beliau mengajar bahasa Jawa. Salah satu mata pelajaran yang paling membuat teman-teman tak bersemangat belajar karena dianggap pelajaran paling susah.

Setiba di Pasar Klewer, aku mengikuti Bu Sari yang berkeliling dari satu toko ke toko lainnya untuk berbelanja baju muslim dan baju lainnya. Aku hanya diam sepanjang mengikuti Bu Sari sambil membantu membawakan belanjaan beliau. Bu Sari hafal sekali toko-toko langganan tempat beliau berbelanja. Sambil berbelanja, Bu Sari bercerita tentang usaha sampingannya menjual baju yang sudah lama ditekuninya.

Selesai berbelanja, Bu Sari membawaku ke toko kacamata di sekitar Pasar Klewer. Takut-takut aku memasuki toko kacamata tersebut. Setelah menjalani pemeriksaan di toko kacamata tersebut, bapak pemilik toko kacamata melontarkan pernyataan yang membuatku semakin sedih.

“Masih kecil kok minusnya sudah empat, Bu?” selidik bapak penjual kacamata.

Aku diam tak tahu harus menjawab apa.

“Sudah lama Pak sebenarnya sakit matanya, tapi baru sekarang diperiksa,” Bu Sari tenang menjawab.

“Harusnya diperiksa dari awal merasa kabur, biar minusnya nggak seberat ini.”

Aku dan Bu Sari sama-sama diam.

“Nanti setelah pakai kacamata pasti kamu pusing sekali. Enggak apa-apa, pakai saja. Itu namanya adaptasi karena baru pertama kali memakai kacamata dan langsung minusnya berat sekali. Kamu harus terus pakai ya, biar minusnya nggak nambah. Kalau ke kamar mandi dan tidur, kacamatanya dilepas saja,” bapak itu menjelaskan sedetail mungkin.

“Sofa, mau pilih yang mana bingkai kacamatanya?” Bu Sari bangkit dari duduknya dan mengajakku memilih bingkai kacamata.

“Sampun, kantun Bu Sari kemawon—Sudah, terserah Bu Sari saja,” jawabku malu.

Akhirnya Bu Sari memilihkan kacamata berbingkai kuning dengan lensa lebar berbentuk persegi seperti miliknya. Kacamata itu seperti yang dipakai guru-guru di sekolah. Aku malu hendak menolak pilihan beliau. Aku sudah bersyukur mendapat bantuan kacamata dari sekolah. Lagipula Bu Sari juga tahu mana yang baik untukku.

Sambil menunggu kacamataku jadi, Bu Sari mengajakku masuk kembali ke Pasar Klewer. Kami makan sate ayam yang lontongnya dibungkus plastik bening. Hal itu lagi-lagi mengingatkanku pada kenangan bersama bapak dan ibu sewaktu ke Solo. Setiap kali menemani Ibu berbelanja di Pasar Klewer, aku selalu minta dibelikan sate ayam yang lontongnya dibungkus dengan plastik bening itu. Kami makan dalam diam sambil memandangi lalu-lalang orang.

***

Senin berikutnya, malu-malu aku menyimpan kacamata dalam wadahnya dan kusembunyikan dalam tas. Teman sebangku yang mengetahui hal itu segera menegur dan menyuruhku untuk memakai kacamata. Teman-teman yang mengetahui aku memakai kacamata memiliki reaksi yang beragam. Ada yang memuji, ada yang cuek, dan adapula yang menyindir.

Saat hendak maju mengerjakan soal matematika di papan tulis, aku melepas kacamata dan meninggalkannya di meja. Lagi-lagi teman sebangkuku mengingatkan agar tak malu dan mengenakannya saat mengerjakan soal di papan tulis.

Selesai mengerjakan soal matematika, aku berbalik kembali ke bangku. Ada teman yang bersiul entah dengan maksud apa. Aku menunduk dan berusaha menutup kacamataku. Tiba-tiba ada teman TK yang saat itu sekelas denganku berteriak dengan kencang.

“Nggak usah malu, Sofa. Pakai aja kacamatanya, kamu cantik kok kayak Ibu Direktur,” Niken berteriak dari bangkunya berusaha membesarkan hatiku.

Teman-teman sekelas langsung ikut bersorak, mereka menyemangatiku. Aku melihat semuanya dengan lebih jelas. Aku seakan melihat dunia baru yang lebih indah. Segalanya terlihat terang, berwarna, dan membuatku tak mengalami kesulitan saat belajar.

Semenjak Bu Sari membantuku membelikan kacamata dengan dana sosial dari sekolah, ibu sangat berterima kasih kepada beliau. Setiap kali lebaran dan ada hajat penting, ibu selalu menyuruhku mengirimkan makanan dan kue ke rumah Bu Sari. Setiap kali aku ke rumah Bu Sari, rumah beliau selalu sepi. Kabar yang kudengar dari teman-teman, memang Bu Sari tidak menikah.

Menjelang kenaikan kelas 3 SMP, Bu Sari berpesan kepadaku untuk berkunjung ke rumah beliau sepulang sekolah.

“Sofa dipanggil Bu Sari kenapa?”

“Enggak tahu,” jawabku jujur.

“Kok bisa dekat dengan Bu Sari, sih? Bu Sari kan galak kalau ngajar,” tanya seorang teman dengan ekspresi heran.

“Bu Sari enggak galak. Bu Sari kan baik, cuma kalau ngajar memang tegas. Ya, sewajarnyalah…. Kalau galak, itu kayak guru bahasa Indonesia itu lho. Jawab atau enggak jawab pertanyaan tetap saja dipukul sama penggaris,” belaku tak rela Bu Sari disebut galak.

Ya, bagiku Bu Sari adalah guru yang baik. Beliau selalu mengajarkan bahasa Jawa dengan sabar kepada anak-anak. Beliau tetap mengajar dengan sabar, terus berusaha membiasakan krama kepada murid-muridnya supaya tidak kehilangan identitasnya sebagai orang Jawa. Beliau memberikan pujian kepada murid sepantasnya dan tidak menggunakan hukuman fisik kepada murid yang nakal.

Setibanya aku di rumah Bu Sari, beliau menanyakan tentang perkembangan saat kelas 2. Aku pun menjawab, segalanya berjalan dengan baik dan aku tetap mendapatkan rangking meski belum juga mendapat juara 1.

Seusai perbincangan tentang perkembangan belajar di sekolah, Bu Sari memberiku sebuah baju muslim. Baju muslim yang beliau berikan berwarna cokelat muda dengan model terbaru.

“Enggak apa-apa ya kalau masih kebesaran, Sofa. Biar bajunya masih bisa kamu pakai sampai SMA,” terang beliau sambil memerhatikan baju muslim yang sedang kucoba.

“Nggih Bu, matur nuwun sanget—Ya Bu, terima kasih banyak,” ucapku gembira.

Semasa SMA, aku masih rutin berkunjung ke rumah Bu Sari. Begitu juga saat awal masuk kuliah. Sebelum bertemu dengan teman-temanku, aku mengunjungi Bu Sari dan menceritakan tentang kuliahku di Jogja.

“Bagus Sofa. Kamu harus rajin belajar ya, supaya sukses dan bisa bantu ibumu,” nasihat beliau kepadaku.

Itu adalah nasihat terakhir yang kudengar dari beliau. Sebelum sempat berkunjung kembali, beliau sudah meninggal. Aku merasa sedih sekali karena tak mengetahui di mana makam beliau. Aku hanya bisa mendoakan beliau supaya mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Sosok Bu Sari membuatku belajar tentang arti seorang guru. Guru harus memiliki kepekaan terhadap situasi muridnya. Memiliki empati, menyemangati, dan terus berusaha memberikan bantuan terbaik kepada setiap murid-muridnya. Terima kasih Bu Sari atas semua pelajaran dan kebaikan yang pernah ibu berikan kepadaku dan teman-teman.

 

Hikari, 22 November 2015

Note: Tulisan ini dikirim ke SGI-DD saat kegiatan “Kado untuk Guru” tahun lalu. Buat teman-teman SMP, masih ingat nggak dengan Bu Sari atau guru lainnya?🙂

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s