Takdir Rindu

Tiap tetes hujan yang menyapa bumi kadang membuatku napasku tertahan…

Pada basahnya tanah yang disapa hujan, tercium olehku wangi rindu

Wangi rindu yang mewartakan ketabahan perpisahan sebelum perjumpaan abadi

Wangi rindu yang selalu mengalirkan harapan demi harapan

Dan doa ibu yang menjagaku dari lelahnya perjalanan takdir

 

 

 

Pernah angin berbisik dengan bangganya, ia mampu bergerak ke segala penjuru semesta…

Mampu membawa rinduku yang senantiasa mencari arah Surga

Aku hanya tersenyum mengabaikan kepongahannya…

Tapi, beban rindu yang tak tertanggungkan lagi membuatku percaya dengan mudahnya…

Bukankah ada banyak alasan yang bisa kujadikan sandaran?

 

 

Pelan.. perlahan… ia buatku mengangguk

Percaya saja…

Bukankah hanya angin yang mampu…

Menerbangkan rindu yang tak sanggup kusimpan sendiri

Meringankan hati yang rindunya terus tumbuh tiap detiknya

 

 

Kuterbangkan rindu demi rindu bersama angin yang mengarak air ke langit

Berharap kekuatan yang dibanggakannya benar-benar membawanya ke langit tertinggi

Tak lagi memenuhi bumi dan menyapaku lagi

 

 

Tapi…

Kiranya semesta pun tahu…

Angin bisa menjauh pergi dan datang kembali

Tak pernah benar-benar pergi apalagi mampu membawa beban seberat rinduku pergi…

Sia-sia saja..

 

 

Rupanya lebih mudah bagi angin mengarak awan…

Rupanya lebih menyenangkan membawa berkah yang diutus Tuhan

Rinduku rupanya dititipkan pada awan yang berarak…

Rinduku pun jatuh bersama kegembiraan tetes demi tetes hujan yang menyapa takdirnya

 

 

Tak pernah ada jarak yang terlampau jauh bagi tetes hujan..

Dengan derasnya… tanpa penyesalan

Karena takdirnya selalu turun ke bumi

Dan diam-diam menjelajahi langit kembali tanpa ada yang tahu

Menerima perintah Tuhan tanpa keraguan

 

 

Tetes hujan membawa kembali rinduku, menumbuhkan lebih banyak lagi… Menyebarkannya ke seluruh sudut bumi tanpa bisa kucegah…

Tersenyum dan memberiku wangi berisi pesan ketabahan

Arah Surga masih terlampau jauh, angin tak kan mampu membawa rinduku ke sana

Rinduku kembali menghuni jiwa

 

 

Mungkin benar prasangkaku selama ini..

Tak pernah ada yang sanggup menerima rindu

Kecuali jiwa yang selalu menumbuhkan rindu tanpa mempedulikan waktu

 

 

Hikari, 8 Mei 2016

20:30

Note: Lebaran? Waktunya menghirup napas sejenak… sebelum melanjutkan perjalanan hidup yang ujungnya masih terlampau jauh… Hamasah!!

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s