Kulkas Neng Laela

Tiap kali Idul Adha tiba, aku selalu teringat Neng Laela Nur Rahmah

Ada keajaiban di kulkas Laela yang sebenarnya ingin kutulis sedari dulu…. Kulkas Laela itu kaya sekali dengan makanan. Namun, si empunya malah jarang makan. Meski jarang makan, rezekinya banyak sekali tiap pulang sekolah. Laela selalu membawa oleh-oleh entah dari sekolah, diberi tetangga, dikirim dari rumah, atau diberi makanan dari teman yang datang berkunjung.

Sejak dia hidup sendiri setelah migrasi Daeng Aisyah Vimar ke Hikari. Semakin kaya makanan di kulkasnya. Tiap kali aku ke sana, aku rajin melihat kulkas Laela. Mencari makanan yang kusuka dan membuang makanan yang sudah berhari-hari tak ia makan. Ibaratnya, aku jadi satpol pp buat kulkas Laela wkwk….

“Neng… ih.. ikannya dibuang aja ya, ini udah dari kapan ampe beku gini?” protesku padanya.

“Iya buang aja,” jawabnya kalem dengan wajah penuh kelelahan setelah mengarungi samudera kehidupan sepanjang hari hehe….

“Neng… ya ampun brownies kurma ini udah kedaluwarsa dua minggu ya? Ya ampun… tapi Sabtu kemarin, aku masih makan aja ini brownies!” ucapku kaget.

“Masak sih Nur? Ya udah, ntar buang aja deh,” jawabnya santai.

“Iya, pasti kubuang daripada ntar teman-temanmu kalau datang makan brownies ini! Tapi, Neng… kata teman kuliahku dulu yang anak farmasi. Sebenarnya, tanggal kedaluwarsa itu masih bisa dimakan sampai sebulan ke depan, kok. Aturannya sih gitu.”

Gorengan, biskuit, cokelat, sayur, lauk, sirup, kecap, saos, dan semua bahan makanan siap saji maupun makanan yang umurnya lama ada di Kulkas Neng Laela. Ibarat kata, kulkas Laela adalah toserba!

“Neng… kamu makan gitu, aku udah masak, nih,” tawarku ketika malam tiba.

“Ehm.. udah kenyang Nur tadi makan di sekolah. Ntar malam aja kalau aku lapar, aku mau bikin mie rebus!” jawabnya lagi sambil memejamkan mata.

Mie rebus dengan irisan cabai adalah makanan favorit Neng Laela selain jus dan bakso.

Kalau aku hendak ke rumahnya, Neng Laela selalu nitip, “Nur… jangan lupa beliin bakso depan RTM, ya ma jus,” begitu pesannya selalu.

Aku dengan senang hati membelikannya bakso depan RTM supaya Neng Laela mau makan. Berat badannya persis sekali dengan Nyonya Malsa. Tak pernah berubah sejak lima tahun yang lalu. Rasanya enggak ada tambahan meski satu ons. -_-

Tahun lalu, tiap kali aku ke rumah Neng Laela, aku membuang semua makanan yang kunilai tak layak menghuni kulkas Neng Laela kecuali satu kresek putih di freezer. Aku nggak pernah buka dan melihat isinya selama berbulan-bulan.

Tak selamanya hidup itu selalu menyenangkan, begitu juga dengan isi kulkas Neng Laela yang suatu ketika mengalami paceklik. Aku dan Daeng Viya yang datang lebih dulu sebelum Laela pulang ke rumah tak menemukan bahan makanan meskipun mie instan. Aku dan Daeng akhirnya menelusuri setiap jengkal kulkas Laela dan tatapan mata kami berhenti ke kresek putih itu.

“Daeng… ini apa, ya?” tanyaku sambil membuka bungkus kresek putih.

Semacam benda keras berwarna merah yang punya aura horor. Kuperhatikan lama, tapi tak kunjung temu jawabnya.

“Jangan-jangan ini daging kurban?” balas Daeng Viya sambil berpikir.

“Masak sih? Emang ini udah bulan ke berapa? Idul Adha kapan, sih?”

“Kayaknya setengah tahun yang lalu, deh! Ih.. kalau kita masak aja gimana, ya? Keracunan nggak ya? Kamu searching di internet deh Nur, soal daging yang umurnya setengah tahun masih bagus nggak dimasak?” Daeng Viya sebagai Sarjana Perikanan rupanya memiliki ketakutan terhadap daging Idul Adha haha… Ya iyalah, dia nggak menguasai masalah perdagingan karena jurusannya perikanan wkwk….

“Oke, aku searching deh.” Beberapa menit kemudian, “Daeng.. daging itu tahan bertahun-tahun kali kalau disimpan di freezer. Bisa sampai 5 tahun dan biasanya dijadikan persediaan makanan pas perang,” jelasku bersemangat.

“Oke deh, kita masak saja ya, Nur. Aku bersihin dagingnya, kamu beli bumbunya.”

Sepanjang memasak rendang, aku dan Daeng Viya tertawa terpingkal-pingkal mengingat daging itu. Setelah gulai matang, dan kami makan bersama, Neng Laela baru sampai rumah.

“Eh kalian masak apa? Aku kan nggak punya makanan. Maaf ya kulkasku kosong. Sibuk banget nih belum sempat belanja,” sapa Neng Laela.

“Iya enggak apa-apa Neng. Ayo makan bareng, nasinya juga udah matang. Kita masak gulai sapi, lho!” tawarku kalem.

“Beli daging di mana? Eh… jangan-jangan… ini daging di kulkas, ya?” tanyanya.

“Iyalah, daging dari mana lagi gitu,” sahut Daeng Viya sambil tertawa.

“Ya ampun Neng… dirimu ini kebangetan banget. Kenapa nggak bilang dari dulu ada daging, tahu gitu.. udah kumasakin buat kamu dari dulu,” protesku lagi.

Dan, kami pun mengakhiri sore itu dengan rasa kenyang di perut masing-masing dengan gulai sapi yang dagingnya sudah berumur 6 bulan. 🙂

Semalam, aku bertanya ke Neng Laela lewat WA, “Neng.. kamu masih punya daging, enggak?”

“Masih dong.”

“Masaaakkk,” balasku.

“Masakin dongggg,” balasnya lagi.

Eh Neng… hari ini, aku nggak jadi masak ragi karena Bu Yem lupa ninggalin kelapa buatku. Masak lapis daging aja deh jadinya. Minggu depan, ke sini yaaa…

Aku bakal masakin deh apa maumu wkwk

 

Hikari, 24 September 2016

20:00

Note: Kangeeeen Neng Laelaaa… Main Neng!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s