Drama Kartu Transjakarta

Setelah memastikan berkali-kali jalur transjakarta arah ke Ciputat, aku mantap naik trans jurusan Tosari-Ciputat. Tujuanku pagi tadi, jalan Ir. H. Juanda di Ciputat. Eh… karena cuma bilang Halte Juanda saja, aku malah turun di Halte Juanda dekat Monas, bukan Juanda di Ciputat.

Sesampainya di Blok M, ada dua penumpang yang naik, seorang mbah berusia sekitar 70-an dan perempuan berusia 30-an. Tadinya, mereka berdua duduk dengan tenang di sebelahku. Aku juga tidak memerhatikan mereka datang dari mana hingga perempuan paruh baya itu bertanya kepadaku.

“Mbak, ini bisnya mau ke Ciputat, kan?”

“Iya Mbak ke Ciputat, kok,” jawabku santai.

“Bayar tiketnya nanti, Mbak?”

Begitu mendengar pertanyaannya, aku langsung menatapnya lekat-lekat, “Mbak memang tadi masuk dari mana? Kalau naik trans kan harus pakai kartu. Kartu seperti ini, Mbak,” jelasku sambil memerlihatkan kartu trans milikku dari BCA.

“Lho… saya nggak punya, Mbak. Memang pakai uang nggak bisa?”

“Nggak bisa, Mbak. Mbak harus beli di halte trans,” jawabku yakin.

Mengikuti perkataanku, mbak berjilbab biru tua akhirnya turun dari trans. Mataku mengikuti kepergiannya, tapi terkejut karena tak melihat halte trans di sekitar. Aku khawatir sekali kalau mbak itu kena denda atau semacamnya.

Setelah mbak berjilbab biru tua turun, pandanganku beralih ke Mbah yang duduk di sebelahku. Aku memiliki kekhawatiran yang sama, kasihan kalau mbahnya nggak punya kartu terus didenda.

Pelan, aku mulai memalingkan badan dan menyapa mbah berbaju hijau.

“Mbah.., sudah punya kartu seperti ini?” tanyaku sambil memerlihatkan kartuku.

“Enggak, ntar bayar aja pakai ini,” jawabnya santai sambil memerlihatkan uang lima ribu yang digenggamnya.

“Enggak Mbah… Mbah harus punya kartu kayak saya. Nggak bisa pakai uang,” jelasku lagi berusaha menyadarkan si mbah.

“Nggak… pokoknya nanti pakai uang saja,” sahutnya yakin.

Hadeh… aku dag-dig-dug dalam hati memikirkan nasih si mbah berkebaya hijau. Khawatir kalau mbah kena denda dan sebagainya. Pikiranku terus berkecamuk, mataku tak lepas menatap mbah di sampingku. Ya ampun, mudah-mudahan mbah di sampingku nggak disuruh bayar denda. Kasihan!

Beberapa menit kemudian, transjakarta mulai berjalan, petugas yang biasanya berdiri di depan pintu, tiba-tiba berjalan ke arah si mbah. Aku mulai berhitung dalam hati sembari merapal doa.

Dengan santai, si mbah mengulurkan uang lima ribu yang digenggamnya erat tadi. Petugas trans mengeluarkan gesek tunai BCA. Petugas menerima uang si mbah dan memberikan bukti pembayaran serta kembalian.

“Lho… Pak… kok bisa bayar pakai uang, sih?” tanyaku dengan ekspresi TERKEJUT BIN MUSTAHIL.

“Iya bisa, Mbak,” petugas trans menjawab dengan ekspresi sesantai dan secuek si mbah.

“Mbaknya ini tadi bilang ke saya, kalau bayar harus pakai kartu. Terus saya bilang, pakai uang juga bisa. Eh tadi ada Mbak yang turun juga karena dikasih tahu Mbak ini harus bayar pakai kartu,” adu si mbah dengan ekspresi penuh kemenangan.

Jeng… jeng… jeng… Rasanya ingin berkata, benarkah itu, Roma?

“Iya Mbak.. memang bisa pakai uang, kok,” tambah si bapak.

Usai petugas berlalu, mbah kembali menjelaskan padaku, “Mbak.. ini bis APTB, bisa bayar pakai uang. Nggak harus pakai kartu.”

Jeng… jeng… jeng,… Benarkah itu, Rika?

Padahal kan sebelumnya, aku udah nanya sama petugas trans kalau arah Tosari-Ciputat itu naik trans, bukan APTB.

“Bis warna biru itu trans, Mbak. Bukan APTB,” jelas mbak petugas trans di Halte Juanda sebelumnya.

Jawaban mbak petugas trans sebelumnya masih terngiang-ngiang. Antara percaya dan nggak percaya… eh beberapa saat kemudian, ada seorang ibu yang bisa turun tidak di halte.

Waaaalllaaaah… naik trans aja aku kalah gaul sama mbah yang sudah sepuh. Hiks… memalukan!

bca-transjakarta-26-01-2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s