Panti Jompo dan Cinta yang Terlewatkan 3 Februari 2010
Posted by nurdiyanti in artikel.add a comment
“Caramu dan cara mereka yang sayang kepadamu dalam menjalani hidup menentukan reputasimu; caramu dan cara mereka yang sayang kepadamu dalam menghadapi kematian mengungkapkan karaktermu.”
~ John William Russel III
Cinta merupakan salah satu topik yang tiada henti dikupas oleh manusia. Begitu banyak kisah mengenai cinta yang unik namun bersifat universal. Beragam wajah cinta yang menemani kehidupan manusia di bumi. Namun, terkadang ada cinta yang terlewatkan oleh kita semua. Cinta yang secara sengaja atau tidak mungkin kita lewatkan setelah kita mengenal cinta yang lain. Cinta itu adalah cinta kita kepada orang tua.
Sepintas, judul artikel di atas terlihat mirip dengan salah satu judul lagu milik salah satu band terkenal mengenai patah hati. Namun, di sini saya tidak hendak menulis kisah tentang patah hati. Judul tersebut ditulis berdasarkan pengalaman saya ketika mengerjakan salah satu tugas psikogerontologi di semester 6. Psikogerontologi merupakan mata kuliah pilihan yang mempelajari perkembangan lansia.
Salah satu tugas akhir dari matakuliah psikogerontologi adalah melakukan perbandingan perkembangan lansia yang tinggal di rumah dengan lansia yang tinggal di panti jompo. Kami diberi tugas mewawancarai empat lansia yang berbeda secara individu. Namun, kami boleh mewawancarai lansia yang sama asalkan membahas secara mandiri. Akhirnya, saya dan ketiga teman memutuskan bersama-sama pergi ke salah satu panti jompo di daerah Pakem, Yogyakarta. Setelah mengurus perizinan, akhirnya kami bisa melakukan observasi dan wawancara.
Sebelumnya, kami merasa canggung dan ragu ketika hendak melakukan wawancara. Namun, sambutan dari mbah-mbah yang tinggal di panti jompo sungguh luar biasa. Mereka menyambut kami dengan ramah ketika pertama kali bertemu. Rasa canggung dan malu yang sebelumnya ada seketika lenyap. Yang ada justru rasa nyaman dan senang karena kehadiran kami diterima dengan tulus. Mereka menganggap kami seperti cucu mereka sendiri.
Proses wawancara dan observasi pun berjalan dengan lancar. Dari hasil wawancara dengan para mbah mengenai kisah hidup mereka sampai akhirnya tinggal di panti jompo sungguh membuat saya terharu. Salah satu mbah yang saya wawancarai, sebut saja Mbah T. Mbah T, berada di panti jompo sejak dua tahun yang lalu. Kisah hidup beliau sungguh sangat mengharukan. Beliau dipenjara pada masa G30S/PKI karena difitnah oleh seorang polisi. Akibatnya, beliau dipenjara hampir 30 tahun. Setelah keluar dari penjara, beliau sempat bekerja di beberapa tempat. Namun, karena faktor usia yang sudah lanjut, maka beliau berhenti bekerja dan kembali ke tempat keponakannya (beliau tidak menikah akibat dipenjara). Namun, tidak lama berselang beliau dimasukkan ke panti jompo. Tampaknya, kehadiran beliau kurang diharapkan di rumah keponakannya.
Meski merasa kecewa terhadap sikap keluarganya, namun beliau tidak menaruh dendam terhadap keluarganya. Beliau tetap menerima dan mengikhlaskan semuanya. Beliau berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan di panti jompo. Banyaknya teman senasib yang tinggal di panti jompo membuat beliau tidak lagi merasa kesepian. Beliau masih mau bersosialisasi dengan lansia lainnya, pergi ke gereja, dan menjalani aktivitas yang ada di panti jompo.
Lansia lainnya sebut saja Mbah G, merupakan salah satu lansia yang bersemangat dalam menjalani kehidupannya di panti jompo. Meski sudah berumur 80 tahun, beliau masih mampu menjalani aktivitas sehari-hari tanpa bantuan orang lain. Bahkan, beliau menjadi salah satu wakil dari wisma tempat beliau tinggal. Beliau masih sanggup mengambilkan jatah makanan untuk lansia yang berada di wisma tempat beliau tinggal. Di panti jompo tersebut, masing-masing lansia berada dalam satu wisma tertentu. Sebuah wisma biasanya di isi oleh delapan sampai sepuluh orang. Ada lansia yang tinggal dengan gratis, ada pula lansia yang membayar biaya hidup di panti. Biasanya lansia yang membayar merupakan lansia yang berada di panti karena keinginan keluarganya.
Mbah G berada di panti karena terkena razia oleh polisi karena tersesat sewaktu hendak ke Jakarta. Beliau sebelumnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Setelah terkena stroke, beliau pulang ke Yogyakarta. Setelah sembuh, beliau berniat kembali ke Jakarta karena rindu dengan anak majikannya yang telah dianggap seperti anaknya sendiri. Ketika hendak ke Jakarta, beliau lupa sehingga terlantar di jalan selama beberapa hari. Kemudian beliau dibawa ke dinas sosial. Walaupun masih memiliki saudara di Yogyakarta, namun beliau lebih memilih tinggal di panti jompo. Hal ini disebabkan kehadiran beliau di rumah saudaranya kurang diharapkan. Di panti jompo, kehadirannya lebih bisa diterima. Beliau merasa nyaman dan kerasan, walaupun terkadang merasa rindu untuk berkumpul bersama dengan keluarganya.
Selain kedua cerita di atas, masih banyak lagi cerita yang menyedihkan tentang lansia di panti jompo. Yang menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa harus ada panti jompo di Indonesia? Bukankah kultur Indonesia sangat menghargai relasi kekeluargaan? Patriarki, bilateral, matrilineal, semuanya merupakan sistem kekeluargaan yang mengatur pola kekeluargaan di Indonesia. Meski berbeda, tapi semuanya menghargai kekerabatan. Adanya marga untuk beberapa suku juga merupakan salah satu tanda, kuatnya relasi kekeluargaan di Indonesia. Marga sebagai salah satu penanda adanya ikatan satu darah. Mereka yang mempunyai marga yang sama akan merasa senang ketika bertemu di lain tempat. Rasa persaudaraan yang kuat membuat mereka saling membantu jika ada kesulitan.
Entah karena ikatan kekeluargaan yang mulai luntur ataukah karena proses akulturasi budaya di Indonesia yang ikut mempengaruhi berkurangnya kasih sayang antara keluarga? Yang pasti panti jompo bukanlah tempat yang layak untuk setiap orang tua menghabiskan sisa hidupnya. Di manakah cinta? Adakah anak yang melewatkan cinta untuk orang tuanya?
“Cinta ibu sepanjang masa, cinta anak sepanjang galah”. Peribahasa ini dimengerti setiap orang. Apakah panti jompo merupakan salah satu bukti pembenaran bahasa tersebut? Selain peribahasa tersebut, banyak kita temui peribahasa lainnya mengenai begitu berharganya orang tua. “Surga di bawah telapak kaki ibu”. Durhakalah kita jika menyakiti hatinya. Apa yang mampu mengeraskan hati seorang anak hingga mampu mengusir pergi orang tuanya? Orang tua yang telah membesarkan kita dengan limpahan kasih sayang tanpa lelah.
Berdasarkan hasil wawancara yang saya peroleh, lansia yang tinggal di rumah lebih bahagia dibandingkan dengan lansia yang tinggal di panti jompo. Memang, ini bukanlah kesimpulan yang didapat melalui penelitian resmi. Namun, setidaknya inilah yang dapat saya laporkan dalam tugas akhir psikogerontologi.
Lansia yang tinggal di rumah lebih bahagia karena merasa masih dibutuhkan dan disayangi oleh anggota keluarganya. Masa pensiun mereka isi dengan melakukan kegiatan yang belum sempat mereka kerjakan sewaktu muda. Misalnya dengan berkebun, melakukan aktivitas sosial, berolahraga secara rutin, menjaga cucu, dsb. Semua kegiatan tersebut menjadikan mereka lebih bahagia. Mereka dapat memanfaatkan waktu secara optimal.
Hal ini dapat dielaskan dengan teori aktivitas yang dikemukakan oleh George Maddox (1964). The Activity Theory (Teori Aktivitas), menyatakan kebahagiaan dan kepuasan timbul dari adanya keterlibatan dan penyesuaian diri dalam menghadapi tantangan hidup. Semakin orang-orang dewasa lanjut (lansia) aktif dan terlibat, semakin kecil kemungkinan mereka menjadi renta dan semakin besar kemungkinan mereka merasa puas dengan kehidupannya. Teori aktivitas ini menyatakan bahwa individu-individu seharusnya melanjutkan peran-peran masa dewasa tengahnya di sepanjang masa akhir.
Setiap orang tentunya ingin hidup bersama dengan orang yang dikasihi hingga akhir hayatnya. Ini merupakan sebuah keinginan sederhana yang terkadang sulit direalisasikan. Apalagi bagi mereka yang kurang diterima oleh anggota keluarganya. Banyak alasan yang dikemukakan bagi mereka yang dengan sengaja menaruh orang tua di panti jompo. Entah karena merasa sibuk, tidak cukup waktu untuk mengurus orangtua, adanya ketidaksepahaman antara orang tua dan anak, ketidakcocokan antara menantu dengan mertua sehingga membuat sang menantu menolak kehadiran orang tua pasangannya dalam kehidupan rumah tangga, dll. Tentu saja alasan tersebut logis bagi mereka, tapi bagi saya alasan mereka tidak disertai dengan nurani.
Jika setiap orang mau menengok kembali ke belakang, saat di mana orangtua membesarkan mereka dengan limpahan kasih sayang. Apakah masih ada rasa tega untuk menitipkan orang tua dipanti jompo? Katakanlah orang tua mempunyai kesalahan, tidak membesarkan dan memberikan kasih sayang sesuai dengan harapan kita. Berkonflik dengan pasangan hidup kita, atau kita tidak mempunyai waktu cukup untuk merawat orang tua, apakah semua itu bisa dijadikan pembenaran atas tindakan menitipkan orang tua dipanti jompo?
Saya kira setiap orang tentunya pernah berbuat salah. Tapi tindakan menitipkan orang tua ke panti jompo atau menyerahkan perawatannya kepada orang lain bukanlah ide bagus. Seperti halnya semua orang berhak sukses, tentu semua orang juga berhak bahagia! Bahagia karena keberadaannya menjadi bagian dari sebuah keluarga yang saling menyayangi, bahagia karena bisa berkumpul dengan orang-orang yang dicintai dan bahagia karena mereka diberi kesempatan untuk menyanyangi keluarga yang dikasihinya. Seharusnya tidak ada beban dalam mencintai. Orang tua kita yang seharusnya melewatkan sisa hidupnya dengan bahagia, berkumpul bersama dengan orang-orang yang disayangi. Bukannya terasing di tempat lain, dan melewatkan cintanya yang seharusnya masih bisa kita terima.
Mungkin ada beberapa di antara kita yang berpikiran dengan memberikan materi cukup, maka kebutuhan akan kasih sayang bisa diganti. Ini sungguh merupakan dua hal yang berbeda. Materi memang penting, tapi tidak bisa mengganti kebutuhan akan kasih sayang. Ada cerita dari adik saya yang juga kebetulan kuliah di jurusan psikologi dan juga mengunjungi panti jompo. Ada seorang lansia yang merupakan ibu dari seorang bupati dari Jawa Tengah yang tinggal di panti jompo. Sebelumnya, ibu tersebut dibujuk akan di ajak jalan-jalan ke daerah Yogyakarta, tapi ternyata beliau dititipkan di panti jompo hingga sekarang. Setiap bulan hanya satu pegawai bupati itu yang menengok keadaannya. Bupati dan keluarganya tak pernah sekalipun mengunjunginya.
Sungguh ironis sekali. Ternyata pendidikan dan jabatan yang bagus tidak menjamin adanya perubahan cara pandang seseorang. Ia tetap saja menitipkan orang tuanya di panti jompo. Apa pun alasannya saya kira, itu merupakan hal yang sulit diterima oleh akal sehat. Tentu saja ia mempunyai materi yang cukup untuk merawat orang tuanya, lalu apa persoalan yang membelitnya hingga bertindak sedemikian rupa?
Saya pun teringat tentang sebuah keluarga di desa tempat saya tinggal. Ada sepasang lansia yang hidup rukun bersama dengan keluarganya. Meskipun mereka tidak mempunyai materi yang cukup, hidup dalam kesederhanaan yang bahkan bisa dikatakan kekurangan, namun mereka tidak pernah terlihat mengeluh. Mereka cukup senang dengan kehidupannya, apa pun yang mereka dapatkan di hari itu selalu disisihkan untuk membelikan jajanan bagi cucu mereka.
Walau sudah lanjut usia mereka masih sanggup bekerja, entah mencari kayu, bekerja di sawah, membuat tempe, dll. Fisik mereka masih bagus, tapi yang paling penting mereka bahagia karena bisa berkumpul dengan anak dan cucu mereka. Yah, walaupun terkadang ada konflik antara mereka dan anak tapi tak terbersit sekalipun niat untuk meninggalkan orang tua.
Seperti pepatah jawa,”Mikul dhuwur, mendhem jero” yang artinya kalau orang lain mempunyai kebaikan, kita banggakan atau dijunjung tinggi sebaliknya jika mempunyai keburukan kita tutupi keburukannya atau pendam sedalam mungkin. Begitu juga halnya sikap kita kepada orang tua, berbakti baik semasa hidup maupun ketika orang tua kita sudah meninggal. Mengangkat tinggi derajat orang tua semasa hidup dan ketika sudah meninggal pun harus tetap menghormatinya.
Saya tidak tahu mengenai persoalan yang dihadapi oleh mereka yang sudah berkeluarga. Namun, saya menjadi terpikirkan oleh satu hal. Ketika saya menikah nanti, pasangan saya harus bisa menerima saya dan keluarga saya seutuhnya. Saya tidak ingin meninggalkan ibu saya. Satu-satunya orang tua yang masih bersama saya. Saya hanya ingin berbakti kepada orang tua meskipun dengan hal yang sederhana, merawatnya, dan tidak ingin beliau merasakan kesendirian di akhir hidupnya karena masih ada keluarga yang menyayanginya. Boleh saja hidup kita kekurangan secara materi, namun jangan sampai kekurangan kasih sayang dalam hidup. Bagaimana dengan Anda? Hamasah!!![sn]
* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.
Kesempatan 31 Januari 2010
Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.add a comment
Kuputar waktu di hariku yang lalu
Lalu ku temukan
Rahasiaku
Ku ingat dan kenang semuanya lagi
Dalam batas rasa dan waktu
Yang pernah ada
Biarpun jejak itu tak sempurna
Aku coba raih lagi
Dalam tiap kesempatan
Yang nyatanya..
Terus kuabaikan biarpun memanggilku selalu
Kesempatan?
Akankah terulang
Untuk kesekian kalinya?
Walau ku terus lepaskan
Karena ketakutanku
Karena egoku
Biarpun kuterima sekarang
Tak kan kembali
Sama seperti butiran hujan yang telah jatuh..
Tak mungkin tetes itu menjelma sama
Butuh waktu
Tuk lalui fase kehidupan
Yang telah dijanjikan Tuhan
Untukku dan untukmu
Tak kan pernah sama
Biarpun bernaung dalam harap yang sama
Kesempatan?
Bagaimana ku ingkari hati dan lewatkan kesempatanku tuk bahagia?
31 januari 2010
1:20AM
Note: Don’t worry girls.. Aih… adakah kesempatanku meraihnya? Kebahagiaanku sekali lagi? Sabar… sabar… Kinur… Semuanya pasti bisa kamu lewati.. Hapus semua sedihmu segera… Biarpun sakit.. Nanti kan jadi lebih mudah dan kuat daripada sekarang ini… Believe in God way…(@_@)
JIKA AKU BERMIMPI 31 Januari 2010
Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.add a comment
Jika aku bermimpi
Aku tak hanya berdiam diri saja
Mungkin ku terdiam lama
Tapi aku berusaha menggenapkan kapasitasku sebagai manusia
Mengumpulkan energi
Demi raih mimpi
Jika aku bermimpi
Ku merasa bisa meraihnya
Hingga membuatku sulit bernafas
Karena angan yang membuatku terus bergerak maju
Aku tak mudah menyerah
Meski terbentang kecewa didepanku
Jika aku bermimpi
Ku acuhkan perputaran dunia
Ku genggam kuat-kuat tujuanku
Biar tak terlepas
Jiwa dalam ragaku
Karena mimpiku menggerakkan jiwaku
Jika aku bermimpi
Biarlah Tuhan yang temani jalanku
Memberiku kekuatan dan senyum
Tuk terus langkahkan kaki
Meski yang lain menyingkir sepi
Dari jalan yang kutempuh
Jika aku bermimpi
Ku berikan seluruh hidupku
Demi mewujudkannya
Meski mustahil di kata orang
Aku tak kan peduli
Karena ku tahu apa yang ingin kuraih
Jika aku bermimpi
Biarpun masa terus menjauh
Ku tak kan menyerah
Dengan mudah
Biarpun lelah
Aku akan terus melangkah
Jika aku bermimpi
Tak kan kubiarkan cemooh orang
Merampas tekadku
Dan hentikan semua yang telah kumulai
Tak kan berhenti
Hingga teraih mimpi dengan suka di segenap jiwa…
31 januari 2010
1:09 AM
Note: Ganbate Nur!!! Jangan nglamun terus euy… Kamu kudu bisa atasi semua masalahmu.. Terus melangkah dan seleseikan semua hingga akhir… Semangat, fokus, dan kerja dong!!! Mooooonnsss… Give me your advice,hahaha….. I need you more than everything…. Biar senyummu temani langkahku… (@_@)
Masih saja 29 Januari 2010
Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.add a comment
Biarpun kupasrahkan segala mimpiku..
Ku berikan rahasia hidupku
Masih saja
Terasa kurang…
Tak menggugah hatimu…
Biarpun kutunjukkan setiaku…
Dalam bilangan tahun yang kuacuhkan untukmu…
Masih saja
Kau anggap lalu
Kau pun berlalu, tak pedulikanku…
Biarpun ku berikan semua rasa yang ada
Hanya untukmu, tak terbatas…
Melebihi anganku
Tetap saja
Kau sapa sesaat
Dan anggapku tak ada
Dunia yang kulihat
Ku arahkan padamu..
Suara yang kudengar
Hanya katamu
Suka yang kurasa
Hanya senyummu
Racun dan penawar hidupku
Cemas dan takut…
Keinginanku yang melawan realita
Buatku terus bermimpi
Akan sketsa masa depan
Yang sulit tergapai
Jikalau rumitnya hidup
Membatasi inginku
Kupasrahkan mimpiku
Hanya berkata dalam hati..
Engkau tahu
Apa inginku…
Engkau tahu
Apa rasaku
Engkau tahu
Apa mimpiku
Dan kabulkan untukku
Meski sesaat
Biar terkenang di jejak hidupku
Ada…
Pernah ada…
Meski sesaat
Menaungi hariku
Dengan senyum yang tak terlupakan
Mencintai hidupku
Merindukan hariku
Di jiwaku
Ada..
Pernah ada..
Kamu…
Di jiwaku…
28 januari 2010
10:52 PM
Note: Lucky? Bad or Good? I just a human… Yongkru…. My Only One…
>*_*<
Aku menyesal 28 Januari 2010
Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.add a comment
Aku menyesal
Karena terlambat
Mengetahui arah hati
Aku menyesal
Karna kutahu keliru
Mengisi hari dalam arah yang salah
Terukir hari dalam benak
Menyimpan kenangan
Dalam kata terbata
Itu aku
Berdiri
Dalam jeda waktu
Menunggu
Jeda waktu masih berjalan
Tersirat rasa yang masih bertanya?
Benarkah jalanku kini?
28 januari 2010
3:17 AM
Note: So? What can I do for you??? Hehe… loading e koq soyo suwe ya??? Hamasah Kinur:p
BINTANG HATI 28 Januari 2010
Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.add a comment
(Soulmate? Where is him?)
Biarpun jauh
Antara hatiku dan cahayamu
Kurelakan
Dengan seulas senyum
Biar terbawa abadi di ingatanmu…
Aku pun turut bahagia
Ingatkah engkau
Akan mekarnya kelopak anggrek?
Ia, yang bertahan di segala musim
Tak akan menyerah
Tetap hidup dan mewarnai bumi
Begitu jua adanya aku…
Walau kini, ku menyepi bersama langit yang gelap…
Aku kan terus melalui masa
Menjalani takdirku
Seperti yang lain…
Teruntuk sebuah bintang yang akan terus bersinar
Di hatiku…
Ku berikan cahayaku
Yang akan menaungi langkahmu
Seiring doaku untukmu
Dengan sinar bahagia
Agar kau bahagia…
Selamanya…
28 januari 2010
3:10 AM
Note: I’ll be there for you.. Like Gandhi to his wife… I have a magic words for you,”That we may ever live as friend. You are my best friend” Hehe… Wah, kapan aku bisa bilang kayak gini? Kata Gandhi ne bener2 co cuiiiittttt…. Ntar pasti da waktunya… >*_*<
Harap 28 Januari 2010
Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.add a comment
Jika ku terus memohon
Berharap terulang dengan bahagia yang sama
Berharap kau mengerti
Dengan semua inginku
Ku rasa kan sia-sia
Hanya menenggelamkan diriku
Tak akan berarti…
Terarak harap yang terserak
Harap yang ku usir selalu
Tapi setia menunggu diriku
Harap
Yang selalu mengikuti
Disetiap langkah yang kuambil…
Jikalau telah usai
Kuharap beri jawab yang kupinta
Atau biarkan aku pergi
Dengan rahasia
Yang tersimpan rapi
Jikalau terang jalanku nanti
Kuharap lega mempermudah hidup
Yang semula buatku ragu
Karena drama yang tak menentu
Enggan buatku berpaling
Meski sesaat…
Meski terdengar gaungku
Sampai denganmu…
Acuhkan saja
Letakkan saja di tepi
Biar sendiri
Seperti awalnya
Biar terbawa sinar bahagia yang lain
Biar lara segera usai
Meski dengan kata terbata…
Untuk pesan terakhir
Bintang
Yang kan dibawa pergi menjauh
Ich schade, sie…
28 januari 2010
1:05 AM
Note : Bintang Jatuh says,” Sterne gesehen warden noch schÖner, wenn sich in einem breiten un dunkel…”. Let see.. I just wanna say,” Immer die leuchtenden sterne, obwohl dark orbit. Please.. Help me or let me out… No reason… No story.. Enough…” Duh…. Beratnya…. Sabar Nur…
Doa Minta Sakit Maag 25 Januari 2010
Posted by nurdiyanti in artikel.add a comment
Suatu ketika saya pernah berdoa, doa yang saya kira tak akan diminta oleh orang lain. Saya dengan penuh kesadaran, berdoa kepada Allah agar diberi sakit maag hehehe…. Mungkin Anda akan menganggap saya bodoh, kurang bersyukur, atau bahkan gila karena berdoa diberi sakit. Tetapi, saya sungguh berdoa agar diberi sakit maag.
Cerita ini bermula ketika saya mengetahui banyak di antara teman-teman yang menderita sakit maag. Anak kuliahan tidak tahu kenapa sedikit banyak punya riwayat dengan sakit maag. Mungkin karena pola makan yang tidak teratur menyebabkan teman-teman saya memiliki sakit maag. Maklum saja, jauh dari rumah merupakan sebuah pengalaman baru di antara mayoritas teman-teman saya. Mengurus diri sendiri, mengerjakan tugas kuliah, mengikuti aktivitas di kampus, sehingga sering kali membuat saya dan teman-teman lupa waktu.
Cerita tentang mahasiswa yang semasa sekolah sehat dan ceria bisa jadi stres berat kalau tidak cepat-cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus. Kalau di rumah bisa makan tiga kali sehari, tidur siang, dan main bersama dengan teman-teman, rasanya hal itu seperti mimpi waktu kuliah. Euforia tentang dunia mahasiswa yang menjunjung kebebasan, idealis, dan mandiri bisa jadi hancur jika tak sanggup menyesuaikan ritme yang sungguh amat berbeda dengan masa sekolah.
Awal masa kuliah pun, menjadi sumber stres terbesar bagi saya saat itu. Menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sama sekali baru, belajar mengurus diri sendiri, dan dituntut untuk selalu up to date dengan informasi di kampus, sungguh sangat melelahkan bagi saya. Apalagi saya tidak pernah jauh dari rumah. Hidup berbalik 180 derajat, rasa cemas dan stres menjadi makanan sehari-hari. Bayangan saya akan dunia kampus yang menyenangkan seakan sirna. Semuanya di luar perkiraan saya.
Awal masa kuliah, saya belum bisa membagi waktu dengan baik. Makan sering kali terlupa begitu saja. Sering kali makan di sore hari sekaligus makan malam. Jadwal kuliah di semester pertama lebih banyak masuk pagi, sebelum jam 7 sudah harus di kampus. Sedangkan warung makanan rata-rata belum buka, jadi tidak sempat sarapan. Jeda kuliah sering kali malas turun dari lantai empat untuk mencari makan di luar kampus (saat itu belum dibangun kantin di dalam kampus karena ada perjanjian dengan masyarakat sekitar, masyarakatlah yang membuka kantin di luar kampus sebagai mata pencaharian mereka). Biasanya, saya akan membeli roti atau camilan di toko terdekat, bukan membeli makan di warung-warung yang pasti penuh pada jam makan siang. Jadilah saya hanya makan malam dengan menu penyetan karena pada malam hari jarang ada warung yang menjual sayur seperti waktu pagi.
Meski pola makan tidak teratur, alhamdulillah saya tidak pernah sakit maag. Hanya saja fisik saya menjadi lemah. Mudah lelah dan sakit-sakitan. Hal ini berpengaruh terhadap prestasi akademik di kampus. Saya merasa tidak bisa berprestasi seperti semasa sekolah di SMA. Ketika menyadari beberapa teman saya mempunyai sakit maag, terbersitlah rasa ingin tahu seperti apakah rasanya sakit maag. Kok saya belum pernah sakit maag, ya? Hehehe….
Mendengar cerita teman yang menderita sakit maag, sungguh membuat saya miris. Mereka bilang, “Rasanya sakit banget kalau kambuh.” Mereka tidak bisa makan sembarangan. Harus makan nasi dulu, jangan sampai lupa sarapan dan kambuh. Ke mana-mana membawa obat pereda sakit maag. Kalau melihat hal itu, sungguh membuat saya merasa kasihan pada mereka. Sehingga, itu membuat saya berpikir, “Rasanya gimana, ya?” Selain teman kuliah pun, ternyata ada lagi seorang teman yang juga terkena sakit maag. Jika melihatnya secara fisik, orang tidak akan mengira ia terkena maag. Dia berbadan tinggi besar dan relatif gemuk, tetapi tetap saja terkena sakit maag. Hal ini membuat saya semakin heran, kenapa mereka bisa terkena maag?
Mulai saat itu, antara sadar dan tidak, saya mempunyai satu keinginan, yakni ingin diberi sakit maag. Doa yang aneh ini pun mendapatkan jawaban dari Allah. Lebih baik dari yang saya minta dan membuat saya merefleksikan permintaan yang sungguh keterlaluan, yang baru saya sadari belakangan. Seperti salah satu bab favorit saya dari tetralogi Laskar Pelangi; “Tuhan tahu tetapi menunggu”. Diceritakan Ikal dan Arai mendapatkan balasan hukuman atas kejahilan mereka semasa kecil. Mereka mendapatkan balasan 16 tahun kemudian, yang sungguh membuat mereka menyadari kesalahannya. Seperti halnya saya, doa saya pun terjawab dengan cara yang sungguh tidak terduga.
Pada awalnya saya merasakan sakit perut selama sebulan, yang membuat saya berpikir, “Jangan-jangan, dah kena maag, neh?” Respon saya yang pertama adalah senang karena akhirnya tahu rasanya sakit maag seperti apa, walaupun itu baru sebatas dugaan saja. Tetapi hal yang aneh terjadi, sakit yang saya rasakan hilang begitu saja. Membuat saya berpikir, masak maagnya sudah sembuh? Tetapi secara fisik, saya merasa cepat lelah dan lebih banyak berdiam diri karena kaki terasa sangat capek saat pergi dan pulang kuliah. Walaupun tiap hari sudah menempuh jarak yang lumayan jauh antara pondok pesantren dengan kampus, tetap saja saya merasa mudah lelah. Hal ini bukan karena saya manja atau tidak kuat berjalan jauh. Saya sudah terbiasa berjalan jauh sejak sekolah sehingga tak menjadi masalah yang berarti ketika harus berjalan pulang pergi setiap hari.
Selain jadwal kampus yang lumayan padat, saya juga menjadi santri di salah satu pondok pesantren bagi mahasiswa di dekat kampus. Walau capek, tetapi hal ini sudah menjadi niat saya dari awal. Saya ingin sekali mempunyai pengetahuan di bidang agama secara mendalam. Dengan begitu, jadwal kuliah dan pondok semakin membuat saya kelimpungan. Meski begitu, saya tetap merasa sanggup menjalani keduanya. Namun, satu yang tidak berubah, saya semakin sering lupa makan. Lebih banyak makan camilan sebagai pengganjal perut ketika lapar.
Sewaktu pergi berlibur ke rumah kakak di Tangerang, saya terkejut ketika salah seorang teman kakak saya bilang jika saya menderita penyakit tertentu. Penyakit yang semula saya duga hanya alergi berubah menjadi penyakit yang lumayan serius. Awalnya, saya berpikir mustahil menderita penyakit tersebut jika mengingat umur yang masih muda hehehe…. Sejak saat itu, saya harus lebih berhati-hati dalam menjaga pola makan saya. Mencoba menahan diri untuk tidak memakan makanan favorit dan belajar hidup sehat. Selama di rumah kakak, saya belajar menerapkan gaya hidup sehat dan berniat menjadi vegetarian secara bertahap mengingat pantangan makanan yang harus saya hindari.
Semangat di awal proses dan lesu di akhir, itulah yang terjadi pada saya. Sekembalinya dari Tangerang, godaan makanan favorit saya pun menghadang. Niat menjadi vegetarian terlupakan begitu saja. Akibatnya sudah bisa ditebak, saya menjadi cepat lelah dan penyakit lama kambuh lagi.
Jika mengingat semua yang saya alami sekarang, saya menyesal telah berdoa diberi sakit maag. Seharusnya, saya bersyukur dengan kesehatan yang diberikan oleh Allah pada saya, bukannya menantang Allah dan berdoa yang tidak-tidak. Mungkin saja di antara Anda ada yang punya pengalaman yang hampir sama dengan saya, walaupun dalam konteks yang berbeda. Sering kali kita kurang bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan. Dan, kita justru meminta sesuatu yang kita anggap benar karena sesuai dengan keinginan kita. Setelah kita diberi jawaban atas setiap doa yang kita minta, terkadang keraguan dan kekecewaan menjadi demo tak terbantahkan kepada Allah. Kenapa tidak sesuai dengan keinginan kita?
Banyak orang yang bilang, di setiap rencana Allah baik dan buruknya di mata kita tersimpan hikmah yang besar, jika kita bersabar. Karena, rencana Allah pasti baik bagi hambanya. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita walaupun terkadang kita meragukan-Nya. Mungkin, yang dapat membantu kita mengatasi segala keraguan yang ada adalah IMAN. Jika ada iman di hati, tak perlu ada keraguan yang patut kita sandarkan pada-Nya. Mulai saja dengan hal yang sederhana, senyum dan syukur atas semua nikmat-Nya. Dan, jangan sekali-kali menantang Allah dengan keinginan yang konyol seperti yang saya lakukan hehehe…. HAMASAH!!![sn]
* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tetapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di sejumlah website kepenulisan seperti AndaLuarBiasa.com, Pembelajar.com, dan AndrieWongso.com. Saat ini ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Nur dapat dihubungi melalui pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com
Senyum… 25 Januari 2010
Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.add a comment
Ada sebuah senyum..
Yang berasal dari hati
Untuk semua hati…
Yang mampu meruntuhkan hati
Membuatku..
Terjatuh berkali-kali…
Menghilangkan sakit hati
Kecewa
Dan amarah karenanya
Senyum itu pun
Membuatku merana
Karena hilangnya merenggut jiwaku
Penawar sedih dan sepiku
Seakan langit turut tersenyum bersamanya
Memberikan bahagia tanpa batas
Ketika ku melihatnya
Warna seribu bunga
Terpancar di wajahnya
Meneduhkan hati
Menebar bahagia pada semuanya
Aku merindukan kedua lengkung itu
Jiwaku memanggil senyumnya…
Memanggil tiap detik
Dalam sedihku…
25 januari 2010
8:20 AM
Note : Tersenyumlah Kinur.. Tersenyumlah dari hati… Tak perlu memanggil jiwa yang telah pergi untuk menemanimu… Akan terhapus sedihmu dengan segera jika kau membuka hati untuk menerima semuanya… Yupz…. Lupppphhhhh my life until the end…. Hamasah:)
Deadline Kehidupanku 24 Januari 2010
Posted by nurdiyanti in diari pinguin.add a comment
Akhir-akhir ne rasanya dunia menjauh dariku..
Aku lupa, bagaimana dulunya aku begitu menikmanti apa yang aku lakukan..
Dan aku lupa bagaimana caranya aku bertahan dan memperjuangkan keinginanku.. semuanya hanya karena ketakutan yang merangkul jiwaku penuh..
Aku ketakutan…
Kesel… Kecewa.. Marah… Ga peduli.. Ga fokus dan seabreg emosi negatif lainnya menghuni jiwaku… Sekarang!!! Di saat aku butuh ketenangan dan kekuatan untuk berjuang… Sedih sendiri, mengasihani diri sendiri karena begitu rapuhnya.. Duh Gusti, nyuwun pangapunten.. Mugi-mugi kula taksih pinaringan rahmat supados saged dados tiyang ingkang amanah, mboten kados sakmeniko… Tansah ngersulo, mboten saged ningali agunging kabegjan saking Gusti Allah.. Nyuwun Pangapunten sanget…
Sedih karena sekarang aku sudah lupa, bagaimana dulunya aku bahagia atas apa yang aku jalani. Mencari ilmu seharusnya menjadi hal yang menyenangkan.. Bukan neraka yang setiap saat memanggil dan merayumu untuk masuk ke dalamnya. Andaikan aku ga berada dalam posisi yang sulit, terjepit dan ga berdaya selain menjalankan apa yang seharusnya, mungkin aku sedikit lega.
Aku tak kan dikurung sedih dan ketakutan yang amat sangat… Hikss.. Susahnya jadi orang ga punya.. Ga punya kebebasan,wkwkwk… Maunya seh ga ada deadline, kuliah menyenangkan.. Bisa jalan-jalan ma temen, ga harus kerja keras buat ambil mata kuliah penuh. Kayak SMA aja dehhh… Sekolah nyantai tapi tetap bertanggung jawab dengan prestasiku.. Maunya,hehe…
Tapi ada bagusnya juga seh dikasih deadline bisa kerja keras n dewasa lebih dini (ini versiku,haha…) Disaat temenku masih jalan-jalan. Aku dah rancang kira-kira semester depan aku ambil apa ya biar lulus cepet.. Di semester dua dah nyari info ma kakak angkatan tentang skripsi.. Dan jawaban mereka,”Dek, kamu ne baru semester dua, aku aja yang semester empat belum mikirin skripsi”. Hmm.. Capek deh… Dan bayangan ndoro kakung pun seakan hadir di depanku sambil berkata,”Kamu tu kudu pinter milih teman, cari teman yang memotivasi kamu buat maju, yang selangkah lebih maju. Aku yakin pasti ada orang-orang kayak gitu, jangan yang biasa-biasa aja, yang gaul jadi orang. Tapi gaulnya yang positif bukan yang hura-hura dst….”
Gimana ya? Kalau aku bisa kuliah kayak masak sekolah tentunya menyenangkan.. Ga usah dipaksa aku juga dah senang belajar koq, walau kakakq bilang aku gila belajar,haha… Whatever-lah.. Tapi yang pasti aku orang yang bisa dipercaya kalau masalah sekolah. Aku tahu, sekolah mahal, ga boleh neko-neko, hura-hura (apaan seh ne artinya? Haha… No time!!!)
Kerjaan pelajar ya apalagi kalau bukan belajar? Ga masalah. Masa-masa itu, aku ga pernah stress gara-gara deadline..hikss.. Aku suka belajar, sekolah dengan segala pernak-perniknya.. Aku ga pernah khawatir dapat nilai jelek. Belajar ya kalau waktunya belajar lah, nilai juga aman-aman ja. Dapat rangking dah pasti walau ga bagus-bagus banget,hehe…
Masih bisa makan 3 kali sehari, tidur siang, nonton tv, baca novel n karya sastra di perpus sekolah, bawa setumpuk buku buat nglembur baca bukan belajar,haha… Semuanya tu hal yang menyenangkan. Itu dah surga bagiku…
Tapi berbeda halnya saat kuliah…
Belum apa-apa dah ada perjanjian ma “Ndoro kakung”, my luuppphly brother-lah.. sapa maneh? “Ip kudu bagus ya? Cumclaude deh…”
“Nggih… “ Jawabku sambil patuh dengan kepala tertunduk mirip abdi dalem,hehe… Walau pikiran dah melayang-layang. Jerit, pingin lari,wkwkwk
“Ga boleh lewat 3,5 tahun..” Tegasnya…
“Ok…”pikiran masih lugu, dikira masa kuliah kayak sekolah yang dah pasti lulusnya bareng,wkwkwk
dst…
Waduh… Semester dua dah ditanya, “Judul skripsimu apa nur?” nah lho… Ne belum juga habis semester dua, masih seneng-senengnya kuliah. Belum sempat senang-senang (Ups… kirain kuliah tu kayak di tipi2 itu loh yang isinya senang2 aj,wkwkkw…). Akhirnya aku sadar, itu bukan duniamu nur… Kamu berbeda!!! Ga ada waktu buat senang-senang. Kudu kerja keras biar lulus cepat…
Pertemuan pertama ma dosen pembimbing akademik aja dah ditanya,”Kalian mau lulus dalam berapa tahun?” dengan wajah lugu pun aku bilang,”3,5 Tahun pak” seakan memecah keheningan kelas yang tadinya sunyi senyap karena tak seorang pun yang menjawab.. Duh, benar-benar.. lugu, wkwkkw… Sampe sekarang pun dosen pembimbing akademikku masih mengenaliku dan selalu bertanya, “Katanya mau lulus cepat? Kapan lulus?” Please deh pak, itu juga menjadi pertanyaan terbesarku, Hikss…
Hmm… Masak bapak ga ngrasa semua kerja kerasku? Dengan otak pas-pasan berjuang berusaha ambil sks penuh lho, ikut semester sisipan, berusaha ambil mata kuliah kakak angkatan, ambil mata kuliah tes Ro pula bareng ma grafis pas semester 7 karena dah yakin ga ada semester 8,haha… Semuanya bikin aku tambah stress deh…
Mana di kelas sering ngantuk pula. Duh, aku pun belajar di alam bawah sadar,haha… Habis depresi memperparah insomniaku… Aku semakin ga bisa tidur dimalam hari… Tidur aja habis shubuh,hiks.. bangun pagi buat kuliah mpe sore.. Wah… Untung tahan banting…
Dibela-belain belajar mati-matian tetep aja Ipk pas-pasan.. Dah nasib deh, mana ga bisa ulang lagi. Pas semester satu dengan bodohnya bilang ma Ndoro Kakung,”Mas ntar nek aku dapat C, aku ga bakal minta uang buat ngulang. Aku ngulang pake uang sendiri deh” Secara itu IP masih bagus lah… C suma 1 aj. Tapi napa semakin lama, otak semakin susah buat dapat A ya? Depresi neh (rasionalisasi lagiJ)
Sampe-sampe pernah suatu saat bilang ma mas yan,”Mas kira-kira stress berhubungan ma memori ga seh? Makin lama, nur koq tambah pelupa ya?”
“Ya, coba wae di teliti nur” Jawab singkat yang menyadarkan ku dan membuatku berpikir, nah ne judul skripsiku,haha… Telat neh, semester lima baru kepikiran itu.. Padahal dari semester tiga dah dikasih opsi judul skripsi ma ndoro kakung beserta penjabarannya.. aw..aw..…
Aku masih inget ada seorang penulis bikin artikel judule,”Cara menggembleng mahasiswa dengan otoriter” atau apa ya? Agak lupa tapi kayak e itu deh.. Disitu dijelasin kita-kiat mendidik adiknya secara militer… Saat baca pun aku cuma bisa bilang, “Duh apes tenan sing dadi adine.. Dadi kelinci percobaan buat artikelnya,haha… “ Kayaknya adiknya tuh perlu konsultasi ma psikolog buat ngetes kestabilan emosinya deh,haha.. NGRASAIN BANGET DEH… Kalau difilimin tuh artikel kayak e aku bisa nulis skenario dan menjiwai secara total peran adik penulis itu,hahaha.. Dan aku langsung dapat Piala Citra karena penjiwaan yang begitu menyentuh hati banyak orang,hehe..
Dunia emang kadang gila Ngganur, sadarlah…
“Ngganur.. Kinur.. Anak e Bapak sing ayu-ayu dhewe.. Sing pinter dhewe.. “ haha… Kangen kudangane bapak neh.. Hiks… Kangen saat-saat belajar bareng ma bapak, kangen saat beli buku bareng, kangen saat di antar ke sekolah, kangen saat di antar les nari, kangen saat bareng bapak sholat jumat dimasjid gedhe.. Kangen di gendong bapak, kangen dibawain bunga di taman pom bensin buat main, kangen saat beli sate pak tukul di beran, kangen semuanya… Hiks…
Nek dipikir-pikir manja wajar kan? Namanya juga anak kecil,hehe.. Tapi pas gedhe aku ga minta dimanja kayak gitu koq, cukup bales sms n email ku aja aku dah seneng.. Tapi ne,”Kamu dah gedhe, coba belajar urus sendiri ya” hiks.. Ya seh ga boleh manja tapi nek mpe ga bls sms n email tuh kan kebangetan, ya nggak?
Andai aja ndoro kakung tu sedikit care kayak bapak, pasti aku ga sesetres ne deh.. Tapi kan emang beda jabatan. Dia tu kakak bukan bapak, jadi ga bisa demo. Dia punya style sendiri buat didik adiknya.. bukan manjain tapi keras.. (tapi kalau deket sayangnya melebihi bapak ding, mungkin kompensasi dari rasa bersalahnya telah bersikap keras,haha.. mungkin juga aslinya ga bisa keras, jauh aja tuh sok jaim n keras,ya kan ndoro? Hayo ngaku:P)
Ga da gunanya mikirin depresi ga jelas gini. Dah cukup nangis-nangisnya di semester awal.. Sekarang dah tua euy… Ga boleh manja, ga boleh cengeng.. Kudu fight terus ma hidup,yes… Semangat!!!
Paling kalau dah suntuk, bakal diem ma lihat langit.. Bintangku mana ya? Aiaia… Kebiasaan ne sulit dihilangkan.. Andai aja ada temen buat lihat bintang bareng sambil makan bakso,haha… Duh, jo aneh-aneh deh nur… Bintangmu dah menghilang ditelan langit malam.. Lihat ja yang lain… Jo autis dhewe,whehehe…
Akhir-akhir ne napa ya emosiku ga bisa dikontrol? Semakin sering berimajinasi,hikss… Ngeri… Cepet emosi nek ditanya skripsi ma adek yang nyebelin.. Sebel.. dah tau gi stress mikir skripsi.. Masih aj ditanya dah mpe mana? Lulus kapan? Please deh, jangan mempercepat prosesku jadi gila neh.. Please ngerti dikitlah.. Ne dah muter otak, mpe muter-muter dhewe… Semakin ditanya semakin aku ngerasa bingung neh…
Apalagi di kampus beredar gossip kalau aku dah skripsi dari semester 7, jadi sering ditanya kamu kapan lulus deh? Haaaaaaaaaaa…. Dunia kampusku jangan ikutan kejam deh…
Emang seh, aku kkn semester lima bareng koko liem. Tapi kan aku belum skripsi kayak koko jadi belum bisa ujian kayak dia sekarang. Buat koko, aku salut deh.. Hebat mahasiswa pertama yang ujian pendadaran di angkatanku, cumclaude pula.. Gila, keren banget. Andai aku bisa kayak dia, padahal dia tuh kerjaan seabreg, ikut ini itu, tapi koq bisa lulus cepet, cumclaude n ga stress kayak aku ya? Haha…
Tiap lihat komputer, buka word n winamp.. Baca jurnal ma bahan-bahan selalu aja mandek duluan.. Lebih seneng nulis curhat buat posting di blog,hehe… Biar ndoro kakung tau gimana kondisi psikologisku sekarang… Biar tahu… Terus ntar pasti dengan muka dinginnya bilang,”Manja, paling cuma pingin cari perhatian aja” Huu… Kalau iya napa? Kan ndoro kakung dah tau sikapku kayak mana,hehe…
Kalau kayak gini enaknya ambil cuti aja deh, nyari kerja seadanya… Pokoknya kumpulin duit buat selesein semester terakhir ma skripsi.. Mungkin bakal makan waktu lama, tapi setidaknya aku ga akan depresi seperti sekarang… Dan mungkin jauh lebih dewasa dalam memaknai hidup ne…
Tapi kan maksud hatiku pingin cepet lulus aj, kalau ambil cuti ntar takut dah males n lupa ma kuliah… Makanya berani-beraniin bikin perjanjian maut,hiii… Kuliah lagi satu semester, minta dispensasi dengan persyaratan yang gampang seh, ga berat juga… Cuma mikir, ketik n send to email ndoro kakung… wkwkwk.. Kalau nyari duit segampang ne aku mau cuti dah…
Tapi kayak e cari duit buat mahasiswa yang belum lulus tu susah deh.. Yang dah lulus aja banyak yang nganggur apalagi yang belum lulus? Kecuali dia punya bakat khusus neh, jadi artis kek, franchise, punya usaha sendiri, punya hobi yang hasilin duit atau apa ja deh.. Pokoknya yang bikin beruang… Tapi aku masih mikir ne.. Kerja apa ya yang sesuai dengan karakterku? Ga pake tenaga fisik, pake otak, waktunya fleksibel.. Bisa atur dhewe.. N pastinya bisa hasilin banyak uang?
Nah, aku baru kepikiran neh.. Jadi motivator.. Kayak e banyak uangnya tuh.. Ngadain seminar, nyemangatin orang, bisa jalan-jalan ke banyak tempat, waktunya sedikit tapi uang banyak,hehe… Tapi suaramu nur… dibesarin dulu kek, yang keras, tegas.. Ga boleh kayak anak kecil,wkwkw… Hmm… susah juga ya?
Jadi editor neh, kayak ndoro kakung… Banyak uang juga. Tapi dah baca buku EYD, gaya bahasa, dll. Tetep aja nek nulis masih salah, kurang teliti.. Hiks.. Dasarnya ceroboh gini… Tapi masih ada harapan, semangat aja deh buat jadi editor,haha… Ndoro kakung, jadikan aku muridmu… Terimalah salam hormat dari muridmu,wkwkwk… Kan aku dah punya satu modal penting, INSOMNIA,hehe…
Jadi penulis? Nah nek ne hobi aja, aku ga bisa rencanain ne jadi sumber penghasilan uang deh, belum professional n serius dijadikan mata pencarian hidupku kelak… Soalnya masih lebih seneng nulis coretan hati daripada artikel.. N pingin belajar nulis cerpen lagi… Dah lama ga nulis cerpen jadi kaku neh bahasaku…
Kata temen-temenku bahasaku terlalu serius buat artikel, ya namanya juga artikel. Kan emang gitu bahasa resminya,hehe… Ngeles… Beda kalau aku nulis curhatan kayak gini neh. Ne sesuka-ku aja. Aku bebas nulis yang istilah gaulnya,”Gue Banget gitu” hehe… Aku bebas campur bahasa, ga mikir alinea, ide perkalimat n paragrafnya aku tabrak aja.. Aku bisa ngekek sepuasnya, ketawa semauku.. Walau belum tentu nek kalian baca ngedong n ketawa, tapi gpp.. Baca setangkep kamu aja deh…
Dah bikin jadwal… Deadline Bunda 7 Huruf, april ujian. Masih inget ne kata bunda tersayang,”Kira-kira kamu april bisa ujian ga ya?” Tergugup aku dan terbata menjawab,” E….. moga aj bu,” Ibarat komputer di warnet pas nyalain pasti ada tulisane… Loading please wait… wkwkwk…
Akhirnya bunda kembali berkata,”Ya asal kamu paham konsepnya, cepet nulisnya pasti bisa. Ya semua tu tergantung kamu” Yupz… Bunda… Aku sungguh terharu ma motivasi darimu… Moga aja aku ga terlalu fokus ma deadline tapi bisa fokus ke 7 huruf… Amin…
Ganbate for april deh…
I Don’t Care again about my deadline… Yang penting kamu jalani pelan-pelan, serius, menyenangkan dan anggap kayak masa sekolah tanpa deadline biar kamu ga depresi maneh nur…
Syukur-syukur juni bisa yudisium biar ga bayar UKT,hehe…
All… my family, my friend, my star in the sky… n semua yang baca, nitip doain aku ya? Hehe… Biar semua lancar…
Masih inget kata dosenku, “Kita harus bisa melihat sisi + dari setiap sisi – yang kita terima, ubah stress menjadi eustress”. Yupz… ada benarnya juga… Stress mikir 7 huruf telah mengalihkanku dari mikir “Bintang Jatuh” dengan segala sakitnya.. Dah mulai lupa, aiaia…. Senengnya… Tapi tetep aja kadang muncul di mimpiku,hiks…
Sabar Ngganur… Sabarlah… Moga aja ga ketemu ma “Bintang Jatuh” lagi. Segala usahaku bakal sia-sia kalau mpe ketemu… Niat, tekad, sakit hati akan hilang berganti terbangnya hati ke langit,haha… Hanya dengan senyum yang mampu membuatku jatuh…. Berkali-kali…
Dah gedhe, harus belajar bertanggungjawab. Ga boleh gampang stress dan menyalahkan orang lain lagi, tu baru namanya dewasa,hehe.. Semangat ya Kinur!!!
Jadi heran, bisa-bisanya kayak gitu…
Berdoa lebih banyak, berdoa dan berserah sepenuhnya… You can do it girls…
23 januari 2010
10:40
Note : Kun Fayakun… Ya Allah berilah hambamu kemudahan menyeleseikan ne semua. Amin…