jump to navigation

22 feb 2008 Februari 22, 2008

Posted by nurdiyanti in semangat word's.
add a comment

:) Hidup itu terlalu singkat untuk dilewatkan dengan pilihan yang salah(dari film”Tak Biasa”)

:) Jadikan doa sebagai lentera jiwa, agar langkah selalu terayun di jalan Allah swt.

:) Bintang terus bersinar&harapan akan terbentang sepanjanghayat, semangat!

:) Jadilah pemenang dalam setiap langkah hidupmu.

:) Yang terindah belum tentu yang terbaik. Selalu berusaha dan bersemangat supaya hidupmu berarti.

:) Keajaiban tercipta karena kita berani bermimpi dan berusaha menjadikannya kenyataan.

:) Biarkan lelah memikirkan kelelahannya sendiri.

DEMO BUAT SANG PRESIDEN Januari 30, 2008

Posted by nurdiyanti in artikel.
add a comment

Tanda Cinta Mahasiswa Bagi Pemimpin

Kunjungan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono di Universitas Negeri Yogyakarta disambut dengan aksi oleh mahasiswa. Betapa tidak?
Di tengah tidak stabilnya kondisi dalam negeri, mahalnya biaya pendidikan, melambungnya harga sembako, KKN yang semakin meluas, kriminalitas dan angka kemiskinan yang semakin meningkat membuat gerah sejumlah kalangan, tak terkecuali mahasiswa…

Akhir-akhir ini tentu kita sering mendengar berita demo dimana-mana. Aksi yang merupakan eufimisme dari demo sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Rakyat pun tak sungkan lagi dalam mengadakan aksi, mulai dari tingkat kelurahan yang menuntut kepala desa yang korupsi, pengaduan pilkada yang disinyalir mengalami kecurangan hingga aksi mahasiswa dalam memperjuangkan uneg-unegnya yang dirasa mengganjal dalam bangsa. Indonesia seperti orang tua yang melahirkan sebuah bayi baru yang diberi nama demokrasi.
Reformasi yang terjadi hampir sepuluh tahun yang lalu melahirkan bayi baru yang menurut saya, kita sendiri belum tahu bagaimana cara merawatnya. Semenjak reformasi digulirkan, rakyat seakan-akan terlepas dari belenggu kepatuhan mutlak. Kebebasan itu pun semakin mendekatkan kita pada kasi kekerasan tanpa memperhatikan kepribadian bangsa kita lagi. Bangsa yang dikenal dengan keramahannya, musyawarah dan bangsa yang beragama. Ketika kasi berlangsung semua sifat tersebut melebur dalam aksi yang tidak terkendali. Kebebasan pun di ekspresikan dengan berbagai cara, diantaranya dengan mengadakan demo.
Namun yang lebih mengejutkan kita adalah proses dari penyampaian aspirasi tersebut yang masih diwarnai dengan kekerasan. Bentrok dengan aparat pun tak terelakkan lagi. Tak ada demo yang tak rusuh, begitulah selalu. Sebagai contoh, demo yang digelar oleh para mahasiswa di jogja, selasa(24/1) kemarin sempat terjadi ketegangan dari pihak aparat kemanan dan para mahasiswa yang ingin bertemu dengan presiden secara langsung. Walaupun tidak menimbulkan korban jiwa namun aksi tersebut sudah merupakan cermin perjalanan demokrasi di indonesia. Karena walaupun kita sudah mempunyai demokrasi, tak ada jalan lain dalam menyampaikan aspirasi kalau tidak mengadakan aksi masa kepada pemerintah.
Mempertemukan dua kepentingan yang berbeda, itulah yang terjadi. Di satu sisi aparat kemanan berusaha mengamankan presiden dari kemungkinan aksi rusuh masa, sedangkan mahasiswa mempunyai kepentingan dalam menyampaikan aspirasi mereka. Kedua pihak yang merasa paling benar bersitegang, dan mengesampingkan rasionalitas masing-masing. Tak pelak lagi, aparat keamanan yang merasa terisnggung dan tersulut emosinya ‘mengamankan’ mahasiswa yang dianggap melampaui batas. Apakah tidak ada cara lain tanpa kekerasan?
Ketegangan yang terjadi dan sikap tidak mau mengalah seringkali memicu timbulnya kekerasan. Aksi saling dorong, pemukulan, dan bentrok tentu bukan lagi hal yang aneh di masa sekarang. Mahasiswa pun tak kan dikenali lagi ciri khas intelektualitasnya jika sudah mengadakan demo. Rasionalitas dikesampingkan dan emosi semakin tersulut. Aparat keamanan pun semakin berang melihat sikap demonstran yang tidak terkendali dan seringkali dengan alasan keamanan mengadakan tindak kekerasan.
Seharusnya penyampaian aspirasi mahasiswa melalui aksi yang digelar mendapatkan tanggapan sebagaimana mestinya dari aparat pemerintah. Bukan tanpa sebab jika mahasiswa melakukan aksi, ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada pemegang amanah rakyat tersebut. Saya kira temu presiden dengan mahasiswa dan mengadakan diskusi secara terbuka tidak ada salahnya. Bukankah presiden adalah penyambung lidah rakyat?
Bagaimana akan menyambung lidah rakyat, jika tidak bisa mendengar aspirasi yang ada. Pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin dalam memperbaiki keadaan negeri ini, namun pastilah ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Maksud baik dari pemerintah dalam menerapkan berbagai kebijakannya belum tentu dimengerti oleh masyarakat dan mahasiswa. Ada berbagai pertimbangan yang menjadi kunci penentu munculnya berbagai kebijakan tersebut. Hal inilah yang perlu dijelaskan supaya terjadi tepa selira dan sikap saling mendukung, karena semuanya mempunyai tujuan yang sama, memperbaiki kondisi bangsa.
Waktu terus bergulir perubahan yang diharapkan semakin jauh dari harapan masyarakat. Mahasiswa-sebagai kaum yang identik dengan intelektualitasnya-diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa. Tidak sekedar memberikan kritik, serta mengadakan aksi jika situasi yang ada tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sebaliknya masing-masing elemen yang ada dapat memberikan kontribusinya sesuai dengan kemampuan yang dimilki, bersama-sama membangun bangsa.
Kebebasan dan demokrasi yang ada hendaknya digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab. Bangsa kita memang baru belajar dengan demokrasi yang ada, namun alangkah bijaknya jika kita mampu menggunakan demokrasi sebagai sarana dalam mencapai tujuan.
Bangsaku, marilah kita belajar bersama. Mahasiswa, bersikaplah dengan lebih bijak lagi, tak selamanya emosi membawa kita pada tujuan yang diharapkan. Ciptakanlah suasana aksi damai tanpa kekerasan sehingga kita mampu memberi teladan pada rakyat tentang arti demokrasi. Demokrasi yang dipahami tidak sekedar mengadakan demo dengan kekerasan. Intelektualitas dalam berfikir, rasionalitas dan perasaan dalam bertindak, tanggung jawab serta niat baik dalam membangun bangsa merupakan sebuah kombinasi yang tepat untuk dilakkukan. Para pemimpin bangsaku, dengarkanlah suara kami(rakyat), kami yakin apa yang kalian lakukan semata-mata demi kebaikan bangsa.
Alangkah bijaknya jika terdapat kerjasama yang saling bersinergi antara pemimpin dan rakyat sehingga tidak timbul kesalahapahaman yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan kerugian. Transapransi kebijakan yang ada dan didengarkan aspirasinya adalah harapan terbesar sehingga tidak lagi timbul prasangka. Pemimpin pun dapat menjadi penyambung lidah rakyat. Penyambung lidah dalam bertindak dan memperjuangkan tujuan bersama.
Sebagai pemimpin, mungkin aksi yang dilakukan oleh mahasiswa dapat dipandang sebagai tanda cinta dari sang anak kepada orang tuanya. Tanda cinta ketika ia bertanya apa yang terjadi dengan bangsa? Tanda cinta ketika suaranya ingin didengar dan diperhatikan. Bagaimanapun juga, bangsa ini adalah sebuah keluarga yang tidak dapat bekerja sendiri. Mungkin saja dengan adanya aspirasi yang didengar lewat aksi, pemerintah menemukan sebuah kesadaran baru dan jalan bagi perbaikan bangsa. Semangat!!!

BAGILAH RUANG DI HATIMU Januari 29, 2008

Posted by nurdiyanti in artikel.
add a comment

 

Sering kali, kita mengalami kesulitan dalam menghadapi masalah…

Bagaimana menempatkan dan menyelesaikannya dalam kapasitasnya masing-masing

Solusi yang bisa kita tempuh, salah satunya dengan membagi ruang-ruang di hati

Membagi setiap ruang sesuai dengan kapasitasnya…

 

 

Setiap permasalahan mempunyai karakteristiknya sendiri. Entah merupakan faktor yang mendorong dan menghambat penyelesaian masalah, peristiwa yang turut menyebabkan munculnya sebuah peristiwa, kondisi psikologis seseorang, kemampuan untuk menghadapi masalah dll.

Saat mendapatkan masalah, kita terbiasa menempatkan semua hal dalam satu tempat tanpa memilah terlebih dahulu. Akibatnya masalah yang ada justru bertambah kompleks dan membingungkan, bukan? Hal ini disebabkan kita mencampuradukkan semua masalah menjadi satu.

Tentu saja setiap orang hanya mempunyai satu hati. Tapi kita bisa menyiasatinya dengan membagi hati kita menjadi ruang-ruang tertentu sesuai dengan porsi masalah yang ada. Anda tidak perlu kawatir jika kehabisan tempat dalam hati andaJ karena hati merupakan representasi dari pikiran. Jika anda menganggap hati sempit, maka anda akan merasa kehabisan ruang dihati. Sebaliknya jika anda merasa hati anda luas, maka anda tidak akan pernah kehabisan ruang di hati.

Sebagai contoh, anda mempunyai masalah yang berkaitan dengan saudara anda, tentu saja anda tidak bisa mencampurkan masalah ini dengan masalah pekerjaan di kantor. Berpengaruh terhadap peran kita dalam lingkungan yang lain, tentu saja akan membawa dampak negatif. Kita menjadi semakin tertekan, masalah terlihat bertumpuk dan menjadi sulit mencari akar dan penyelesaian masalah.

Jika anda membagi hati dalam ruang-ruang, maka akan mudah mengontrol setiap hal yang ada. Anda bisa menempatkan masalah kuliah, di salah satu ruang yang khusus mengatasi masalah kuliah. Dengan begitu anda tidak akan merasa kewalahan dalam memikirkan segala permasalahan. Permasalahan pun tidak akan overlapping dan membuat kita bertambah bingung, kita bisa menyelesaikannya sesuai dengan konteks maslahnya.

Hati, memang digunakan sebagai tempat menimbang rasa. Sebagai salah satu tempat yang sering kali dijadikan acuan dalam mengambil keputusan selain faktor rasionalitas. Oleh karena itu kita harus hati-hati dan jangan menjadikan masalah yang ada sebagai beban. Hidup manusia pastilah ada ujiannya. Jika kita mampu menyelesaikannya maka kita akan mendapatkan hikamh dari peristiwa yang ada. Menjadikannya sebagai pengalaman dalam langkah hidup kita selanjutnya.

Jadi kalau anda merasa kesulitan dalam mengatasi permasalahan yang ada, maka anda dapat membaginya ke dalam ruang-ruang tertentu dihati anda,ok? Good luck!!!

 

 

SEMANGAT!!! Januari 4, 2008

Posted by nurdiyanti in artikel.
3 comments

 

Semangat!!!

Mungkin kata yang paling sering anda dengar belakangan ini, bukan?

Sebuah kata motivasi yang ditujukan pada setiap orang dan setiap waktu

Mungkin, banyak dari kita yang perlu memompa diri dengan berbagai kata-kata penyemangat agar hidup menjadi semakin berharga tanpa diwarnai oleh keluhan semata.

Sebenarnya masih banyak kata penyemangat lainnya yang sering kita dengar. tapi saya lebih suka memakai kata semangat dalam memotivasi diri jika perasaan putus asa menimpa saya.

Entah kenapa, akhir-akhir ini banyak sekali sahabat yang bercerita tentang rasa putus asanya pada asa. Sering kali mereka mengeluh tentang masa kuliah yang tidak menyenangkan, berbeda pendapat dengan orang tua, bertengkar dengan teman dan bagi yang tidak kuliah, mengeluh tentang hidupnya yang terkesan luntang-lantung tanpa harapan.

Sepintas, pernyataan dan keluhan mereka beralasan, banyaknya masalah yang mereka hadapi membuat mereka berputus asa dan tidak mempunyai harapan. Benarkah, masalah yang menimpa mereka pantas dihargai dengan rasa putus asa?

Masalah adalah hal wajar yang menimpa setiap orang. Masalah yang dihadapi oleh manusia merupakan sebuah tahap pembelajaran bagi kita dalam bertahan hidup. Ga’ keren kan, kalau kita mengaku sebagai manusia cerdas dan pemberani namun menghadapi masalah saja tidak berani dan berputus asa?

Manusia punya beragam peran dalam hidup, dari mulai seorang anak, teman, pelajar, pengusaha dll. Setiap peran pun mempunyai berbagai aspek yanng harus dijalani oleh setiap orang secara seimbang sesuai dengan perannya masing-masing. Tidak jarang berbagai peran tersebut membuat mereka mempunyai konflik karena kepentingan yang saling bersinggungan dalam peran mereka. Sebagai contoh, seorang hakim yang mengadili tindak pidana yang dilakukan oleh anaknya sendiri. Tentu saja, hakim tersebut akan mengalami berbagai macam konflik yang timbul dari dalam dirinya. Seorang hakim dituntut untuk berbuat adil, menjatuhkan sanksi dengan seadil-adilnya sesuai dengan KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). Namun, disisi lain, hakim tersebut juga seorang ayah yang mempunyai kewajiban untuk melindungi anaknya. Kasih sayang yang tumbuh dari orang tua terhadap anaknya tentu saja tidak mengijinkan suatu hal yang buruk menimpa anaknya. Nah, disinilah konflik muncul dan mulai menguji manusia untuk menyelesaikan masalahnya. Apakah, ia akan berbuat adil ataukah akan menyelamatkan anaknya?

Untuk menyelesaikan masalahnya maka kita harus kritis dan memetakan masalah tersebut secara jelas dan jujur. Kita harus dapat membedakan peran apa yang sedang kita jalani dan apa yang harus dilakukan sesuai dengan peran kita tersebut. Jika kita didalam peradilan dan menjalankan tugas sebagai hakim maka yang harus kita ingat adalah kita berperan sebagai hakim. Kita harus bisa mengesampingkan perasaan-perasaan sebagai ayah. Dan tugas sebagai hakim adalah melaksanakan peradilan dan memberikan penilaian secara adil. Jika anak kita bersalah maka kita harus memberikan sanksi sesuai dengan tindak pidana yang dilakukan. Dan peran sebagai ayah adalah ketika melihat anaknya berbuat kesalahan, menyalahkan anak atas perbuatannya bukanlah jalan yang tepat. Kita harus dapat melakukan refleksi atas setiap kejadian dan merencanakan masa depan selanjutnya bagi anak kita. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya untuk menyelamatkan masa depan anak kita sekeluarnya dari penjara. Dan bukannya menyuap atau membela anak kita ketika melakukan kesalahan. Dengan begitu diharapkan anak kita bisa belajar dari kesalahannya.

Rasa putus asa yang hinggap pada sebagian orang ketika melakukan kesalahan merupakan salah satu hal yang timbul ketika merasa bahwa tidak ada jalan keluar atas setiap masalah yang dihadapi. Rasa putus asa ketika menjalani kuliah yang terasa membosankan bisa timbul akibat kurangnya rasa syukur. Setiap hal di dunia ini tentu saja mempunyai sisi yang baik dan buruknya. Kita harus pandai-pandai menyiasatinya agar hidup kita tidak terasa membosankan seperti yang dirasakan oleh teman saya. Selain itu kita perlu menimbang kembali untuk apa kuliah saya? Mengingat kembali tujuan yang ingin dicapai akan membangkitkan kembali semangat untuk maju dan menjalani hidup.

Setidaknya kita harus sadar bahwa apa yang kita jalani saat ini belum tentu bisa diraih oleh semua orang. Tumbuhkan semangat untuk pantang menyerah dan menyikapi segala sesuatunya dengan cara pandang yang lebih optimis. Dengan begitu kita tidak akan merasa menyesal, kecewa, ataupun putus asa ketika menghadapi sebuah masalah.

Rasa syukur atas semua anugerah yang telah diberikan oleh Allah SWT, perlu kita tumbuhkan sehingga kita tidak akan mengalami perasaan putus asa. Oleh karena itu setiap saat, saya selalu berusaha menularkan semangat pada teman-teman saya. Baik dengan ungkapan kata-kata semangat, good luck maupun berbagai kata-kata penyemangat lainnya. Lama-kelamaan banyak teman-teman yang bertanya karena saya selalu berkata semangat dan protes ” Apa ga ada kata lain, selain semangat sih?” tanya seorang teman pada saya suatu ketika. Saya hanya bisa tersenyum saja menanggapinya.

Saya rasa setiap orang membutuhkan dorongan dari lingkungan sekitarnya dalam menjalani hidup, ini bukan berarti ketergantungan. Tapi dikarenakan setiap orang membutuhkan seseorang, pemberi dukungan yang senantiasa mengingatkan agar tidak putus asa dalam menjalani hidup.

Meskipun saya terus mengingatkan teman untuk bersemangat dalam menjalani hidup, bukan berarti juga saya tidak mengalami perasaan putus asa. Perasaan putus asa bukanlah hal yang buruk, namun yang perlu dilakukan upaya selanjutnya setelah mengalami putus asa. Dan jangan terus menerus menyesali keadaan yang sudah terjadi, oleh karena itu ketika mengalami masalah hendaknya jangan terlalu berputus asa, seakan-akan tidak ada jalan keluar.

Kita harus optimis dalam menjalani hidup supaya kita tidak terbelenggu oleh perasaan negatif yang merugikan kita. Selalu bersemangat dalam menjalani hidup, itu kuncinya. Tularkanlah perasaan untuk terus bersemangat pada siapa saja. lingkungan yang postif tentunya akan mempengaruhi kita secara positif pula. Semangat!!!

 

Refleksi Akhir Tahun Desember 24, 2007

Posted by nurdiyanti in artikel.
1 comment so far

Sekarang, senin 24 oktober 2007…

Tanggal yang mengingatkan kita bahwa akhir tahun pun tiba. Apa yang sudah kita lakukan setahun ini? Berbagai rencana yang sudah kita targetkan tentu sudah menampakkan hasilnya. Apakah kita berhasil memenuhi target-target yang sudah kita tetapkan atau belum?

Jika sudah, tentu kita akan bergembira karena apa yang kita harapkan tercapai. tapi jika belum, tentu kecewa yang kita dapat. Apa yang membedakan antara keberhasilan dan kekalahan kita di tahun ini?

Banyak hal yang perlu kita rencanakan lagi, evaluasi atas hasil yang sudah kita lakukan haruslah dilakukan dengan sungguh-sungguh agar kita bisa membuat kebijakan dan rencana baru di tahun depan.

Kita harus mempunyai gambaran pasti tentang hal-hal yang akan kita lakukan di tahun yang baru. Jangan sekali-kali berkata, “aku akan berusaha melakukan yang lebih baik dari tahun kemarin”, seolah-olah kita tidak mempunyai gambaran pasti tentang apa yang akan dilakukan di tahun depan. Jika hanya meniatkan melakukan yang lebih baik di tahun depan, tentunya setiap orang pun bisa mengatakannya. Rencana pasti, itulah yang ahrus kita buat mulai dari sekarang. Jangan pernah menyia-yiakan hidup yang telah diberikan oleh Allah SWT secara serampangan.

Semoga kita bisa mengambil hikmah atas setiap kejadian yang menimpa kita. Setiap kejadian tentu mempunyai sisi baik dan buruknya. Tinggal bagaimana kita mau memaknainya, mengeluh bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Bersyukur adalah hal tepat yang patut kita lakukan, karena bagaimanapun segala yang terjadi merupakan proses pembelajaran diri yang akan menguatkan dan mendewasakan kita.

Setiap orang menurut saya adalah seorang pejuang. Manusia harus berjuag dalam hidup dan pantang berputus asa atas semua rintangan yang mengahdang kita dalam mencapai impian.

Setiap orang berhak mendapatkan kebahagiaannya, moga kita semua bisa mendapatkan kebahagiaan kita. Amien

Wassalam

GORESKAN PENA KETIKA DEPRESI MENYAPA Desember 24, 2007

Posted by nurdiyanti in artikel.
3 comments

“Goreskan pena saat Anda tidak bisa bercerita pada orang lain. Hal ini akan membuat Anda merasa lebih nyaman bila mampu mengeluarkan beban sekaligus melatih mengatasi depresi.”
~ Sofa Nurdiyanti

Kebanyakan orang mungkin pernah merasakan depresi. Kalau ada suatu kondisi tertentu yang membuat kita tidak siap menerimanya, terkadang kondisi itu membuat kita mengalami depresi. Depresi tidak mengenal perbedaan umur, status sosial, tempat, dan waktu. Hal ini terjadi karena setiap orang mempunyai potensi mengalami depresi, sama dengan potensi untuk menjadi gila.

Perbedaan yang tampak ketika orang mengalami depresi adalah pada cara mengatasi masalah serta pengungkapan depresi itu sendiri. Orang yang positive thinking akan lebih mudah menyelesaikan masalahnya. Mungkin, awalnya individu tersebut mengalami perubahan sikap. Namun, hal ini tidak berlangsung lama. Sementara itu, orang yang mempunyai orientasi negative thinking akan sulit mengatasi depresi. Ini berarti, orang berego kuat dan berorientasi pada realitas, biasanya relatif akan lebih mampu mengatasi konflik serta mempertahankan keseimbangan emosinya. Kalau tidak matang secara emosional, akan terjadi banyak masalah.

Banyak hal dilakukan oleh individu ketika mengalami depresi. Individu akan melakukan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism). Bentuk-bentuk dari mekanisme pertahanan diri menurut Freud (psikoanalisis) ada 15 macam, yaitu penolakan, represi, asketisisme, isolasi, melawan diri sendiri, proyeksi, tawanan altruistik, pembentukan reaksi, penghapusan, introjeksi, identifikasi dengan penyerang, regresi, rasionalisasi, dan sublimasi.

Hal yang paling sering dilakukan individu ketika mengalami depresi adalah penolakan, penghapusan, dan rasionalisasi. Penolakan dilakukan dengan cara memblokade peristiwa-peristiwa yang datang dari luar kesadaran. Penghapusan adalah menghapus pikiran atau perasaan yang tidak mengenakkan. Rasionalisasi adalah pendistorsian kognitif terhadap “kenyataan” dengan tujuan agar kenyataan tersebut tidak lagi memberi kesan menakutkan.

Sebenarnya, apa arti depresi itu sendiri? Depresi dalam batas-batas tertentu berhubungan dengan pilihan-pilihan negatif dan keputusan-keputusan yang menghancurkan diri sendiri. Sering kali orang menyamakan arti depresi dengan stres. Padahal, stres dan depresi mempunyai makna yang berbeda. Stres lebih pada tidak seimbangnya antara sumber stres dan resource, atau tidak seimbangnya tekanan dari lingkungan dengan kemampuan kita untuk menghadapinya.

Depresi merupakan salah satu gangguan afeksi dengan ciri-ciri sebagai berikut.

1. Secara umum, orang tidak pernah merasa senang dalam hidup. Aktivitas yang dilakukan setiap harinya tidak bisa memberikan kepuasan pada individu. Segala aktivitas, hobi, dan pekerjaan yang dilakukan sehari-hari kurang memberikan tantangan serta membuat si individu tidak mengalami kesenangan. Fase ini secara klinis disebut dengan anhedonia atau ahedonia.

2. Distorsi dalam perilaku makan. Ada orang yang makan terlalu banyak ketika mengalami depresi tingkat sedang. Namun, orang yang mengalami depresi tingkat parah tidak mempunyai selera makan.

3. Gangguan tidur, dalam hal ini individu bisa menjadi sulit tidur atau bahkan menjadi lebih banyak tidur.

4. Gangguan dalam tingkat aktivitas normal seseorang. Individu yang mengalami depresi akan cenderung melakukan pekerjaan secara berlebihan atau cepat merasa letih dan lemah.

5. Kurang energi. Individu cenderung mengatakan bahwa dirinya lelah. Hal ini bisa disebabkan oleh proses-proses biologis. Depresi merupakan masalah psikobiologis. Artinya, kehidupan mental dan emosional seseorang mempunyai basis biologis yang kuat.

6. Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup yang tidak berguna. Individu merasa apa yang dilakukannya tidak mempunyai manfaat yang berarti. Hal ini karena individu mempunyai kepercayaan diri yang rendah.

7. Kapasitas yang menurun untuk bisa berpikir dengan jernih serta untuk memecahkan masalah secara efektif. Gejalan lain, yaitu kesulitan untuk memfokuskan perhatian pada sebuah masalah dalam jangka waktu tertentu. Hal ini dapat mengurangi produktivitas dan mengacaukan rutinitas.

8. Perilaku merusak diri sendiri secara tidak langsung, seperti makan berlebihan sekalipun yang bersangkutan, misalnya, mempunyai masalah kesehatan semacam diabetes, minum-minuman keras, dsb.

9. Mempunyai pikiran ingin bunuh diri. Tentu saja perilaku ingin bunuh diri merupakan tindakan merusak diri secara langsung.

Jika mempunyai lima atau lebih dari tanda-tanda atau gejala tersebut, jelas kalau individu tersebut mempunyai kemungkinan besar mengalami depresi. Hal yang wajar ketika setiap ada masalah tertentu kita merasa tidak bisa menceritakannya pada orang lain. Ada masalah-masalah tertentu yang tidak bisa diceritakan pada orang lain meskipun kita mempunyai sahabat karib sekalipun. Setiap orang mempunyai wilayah privat yang tidak bisa dimasuki orang lain.

Nah, hal ini terkadang membuat kita tertekan. Karena, kita menyimpan masalah sendiri tanpa tahu bagaimana cara mengatasinya. Padahal, kita membutuhkan cara dan sarana untuk mengatasi masalah itu.

Memang, mengungkapkan masalah pada orang lain belum tentu bisa membantu. Namun, ini berguna untuk mengeluarkan beban pikiran. Bercerita pada orang lain dapat membantu kita mengontrol perilaku yang merusak yang kadang tidak kita sadari. Misalnya saja jarang makan, tidak melakukan aktivitas sehari-hari secara teratur, dan lainnya.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan jika tidak bisa bercerita pada orang lain? Menulis merupakan salah satu alternatif pilihan yang dapat kita ambil. Menulis dapat membantu kita untuk mengungkapkan beban dan kegundahan hati tanpa perlu bercerita pada orang lain. Menulis membantu kita untuk memahami lebih jauh apa yang sedang menimpa diri kita.

Mengurai tulisan dapat meningkatkan kesadaran tentang hal-hal tertentu yang tidak atau belum kita sadari sebelumnya. Menulis bisa berarti juga mengungkapkan masalah pada objek lain sebagai pengganti teman atau orang yang kita percayai. Diari merupakan salah satu contoh yang tepat untuk belajar menguraikan masalah. Karena, dengan terbiasa menulis kita dapat belajar berkompromi dan secara mandiri menciptakan ide-ide untuk memecahkan masalah kita.

Jika tidak bisa memecahkan masalah kita tidak perlu berkecil hati. Karena, terkadang ada hal-hal yang tidak perlu kita selesaikan. Terlalu fokus pada masalah dan melupakan hidup yang kita jalani juga bisa menimbulkan masalah baru. Menulis saja sudah membantu kita meluapkan emosi atau peristiwa yang tiba-tiba terungkap kembali (katarsis).

Seiring berjalannya waktu, kita akan semakin terampil dalam memecahkan masalah tanpa melibatkan dan tergantung pada orang lain. Pertimbangan orang lain dibutuhkan jika kita benar-benar tidak bisa menyelesaikannya, atau karena keputusan kita memang memengaruhi orang lain. Kita tidak bisa disebut dewasa jika kita tidak bisa mengambil keputusan sendiri, bukan?

Belajar membuat keputusan atas masalah yang kita hadapi merupakan salah satu proses dalam pengembangan diri menuju ke kedewasaan atau kematangan pribadi. Di sinilah kita dituntut untuk dapat mengambil keputusan yang tepat atas setiap masalah yang kita hadapi. Karena, kita sendirilah yang lebih tahu tentang keadaan diri kita sendiri.[sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suka baca buku cerita, nonton kartun Detective Conan, Bintang, dan tertarik dengan bidang sejarah, arkeologi, bahasa, budaya, dan politik. Tapi, sekarang ia lagi “nyasar” ke bidang psikologi. Nur aktif menulis di “eksis” sebuah wadah jurnalistik Fakultas Psikologi, Sanata Dharma. Ia tengah semangat berlatih untuk menjadi penulis dan trainer. Email: nurrohmah_06@yahoo.com.

EKSISKAN JIWA LEWAT MENULIS Desember 24, 2007

Posted by nurdiyanti in artikel.
add a comment

 Oleh: Sofa Nurdiyanti

“Sungguh sebuah buku dapat mengubah jiwa dan nasib dunia…”
~ Mohammad Fauzil Adhim

“Menulis bisa menjadi sarana untuk mengungkapkan perasaan seseorang.” Ungkapan ini mungkin tidak asing lagi bagi kita semua. Pada saat tertentu, terkadang kita tidak bisa menceritakan perasaan kita pada orang lain. Nah, dengan menulis kita bisa belajar mengungkapkan perasaan lewat tulisan. Ya! Ungkapkanlah perasaan lewat tulisan. Eksiskan jiwa lewat menulis. Lewat tulisan kita bisa belajar tentang banyak hal.

Bisa jadi, menulis merupakan kegiatan sehari-hari yang terlewatkan begitu saja, tanpa kita tahu betapa berharganya sebuah tulisan. Padahal, menulis merupakan salah satu sarana pengembangan diri maupun pembentukan karakter seseorang. Lewat tulisan, kita bisa lebih arif dalam menentukan langkah-langkah dalam hidup kita.

Dunia tulis-menulis sudah dikenal sejak zaman sebelum masehi. Kita bisa tahu lewat prasasti yang ditinggalkan oleh peradaban zaman dulu. Prasastilah yang berbicara tentang peradaban suatu bangsa pada kita. Lewat prasasti pula kita tahu ternyata peradaban mereka tidak kalah maju dengan zaman kita sekarang (abad 21).

Barangkali, jika manusia zaman dahulu tidak memprakarsai dan menciptakan metode menulis untuk berkomunikasi, kita masih terkungkung oleh bahasa isyarat. Komunikasi kita akan terbatas dalam satu kelompok masyarakat saja, dan kita tidak bisa berkembang atau berinteraksi dengan masyarakat lainnya.

Mengapa harus dengan menulis? Hal inilah yang perlu kita cermati lebih lanjut. Menulis sama dengan mendokumentasikan fakta, pengetahuan, peristiwa penting, bahkan sejarah peradaban suatu bangsa sekalipun. Tanpa menulis, segala sesuatunya akan menguap begitu saja. Tidak tersampaikan, tersimpan, dan tidak diketahui oleh generasi yang akan datang. Padahal, sebuah tulisan dapat memberitahu fakta-fakta (informasi) yang berguna sebagai aset penting di masa yang akan datang.

Contoh, lewat prasasti yang ditemukan, kita dapat mengetahui peradaban bangsa Mesopotamia (sekarang lebih dikenal dengan nama Irak). Prasasti berhuruf paku itu berisi hukum dan undang-undang yang telah terbentuk sebelum masehi. Undang-undang tersebut dikenal dengan nama hukum Hammurabi (Codex Hammurabi).

Perkembangan bangsa Cina pun semakin pesat, terutama sejak ditemukannya cara pembuatan bubur kertas. Ditemukannya kertas jelas sangat mendukung kegiatan menulis, sekaligus merupakan cikal bakal perkembangan sastra di Cina yang begitu pesat. Banyak peradaban bangsa-bangsa sebelum masehi yang bisa kita teliti lewat prasasti dan bangunannya. Peradaban tersebut tidak akan kita ketahui kalau bangsa-bangsa itu tidak mendokumentasikannya melalui bahasa tulisan.

Manfaat menulis
Menulis, kadang menjadi kegiatan yang membosankan pada sebagian besar orang. Tak jarang pula, aktivitas menulis terkesan ekslusif untuk kalangan tertentu saja. Padahal, kegiatan menulis ini bisa dilakukan oleh semua orang. Dan, menulis merupakan salah satu kegiatan yang mempunyai dampak positif bagi kita.

Dari pengamatan saya, menulis mempunyai banyak manfaat sebagai berikut.

1. Menulis dapat melatih kepekaan kita. Hal ini terjadi karena, sebagai penulis, kita dituntut untuk peka dan tanggap terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Dengan menulis, indera kita akan menjadi semakin terasah dan jeli, terutama dalam melihat segala peristiwa yang dapat dijadikan sebagai bahan tulisan.

2. Dengan menulis, eksistensi kita akan diakui oleh masyarakat secara luas. Karena lewat tulisan, pembaca mengenal pribadi maupun gagasan-gagasan kita. Menulis membuat kita bisa memberikan sumbangsih bagi dunia. Asal, tulisan kita bersifat membangun dan bukan sekadar tulisan tanpa makna.

3. Menulis merupakan sarana refleksi dan perencanaan yang matang tentang hal-hal yang akan kita lakukan di masa mendatang. Banyak hal yang kita lakukan, namun terkadang terlepas dari refleksi diri. Akibatnya, kita sendiri jadi kurang menyadari apa yang telah maupun ingin kita lakukan. Jadi, buatlah rencana-rencana secara matang untuk setiap target hidup kita supaya hidup menjadi jelas dan terfokus.

4. Menulis merupakan sarana untuk melatih kemampuan mengomunikasikan ide-ide kita pada orang lain. Menyampaikan ide pada orang lain bukanlah hal yang mudah. Bisa jadi, apa yang kita pikirkan dan kita sampaikan menjadi tidak sesuai. Mungkin, ini karena kita jarang menyampaikan ide kepada orang lain. Akibatnya, kita jadi gagap saat harus mengutarakannya. Nah, belajar menulis bisa melatih kemampuan kita dalam memilih kosa kata, menata kalimat, atau membangun argumen sehingga orang mengerti apa yang ingin kita sampaikan.

5. Menulis juga merupakan sarana untuk melatih ego kita. Dalam menyampaikan ide kepada orang lain dalam bentuk tulisan, kadang kita terjebak untuk menuliskan banyak ide sekaligus dalam satu tulisan. Padahal, belum tentu ide-ide tersebut dapat kita satukan dalam sebuah topik tulilsan. Akibatnya, tulisan jadi tidak fokus dan tidak punya arah yang jelas. Pembaca pun jadi kurang paham dengan maksud tulisan tersebut.

Uraian di atas hanyalah sebagian kecil dari manfaat kegiatan menulis. Masih banyak lagi manfaat lainnya yang bisa kita gali.

Kiat menulis
Menulis bukanlah hal yang sulit dilakukan. Menulis bisa dilakukan oleh setiap orang, tanpa mengenal tingkat pendidikan, jabatan, rentang usia, atau strata sosial. Menulis bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Menulis juga tidak memerlukan banyak biaya karena yang dibutuhkan hanyalah kemauan dan keseriusan untuk memulai serta berlatih. Jadi, siapa pun bisa menulis asal mau dan rajin berlatih. Nah, berikut adalah beberapa cara praktis berlatih menulis.

1. Mulailah menulis dari sekarang. Tidak perlu memikirkan tema-tema besar terlebih dahulu. Karena sekali lagi, ini adalah salah satu proses belajar yang tidak dapat dikuasai dalam sekejap. Menulislah dengan sepenuh hati. Jangan ragu memulai menuliskan kejadian-kejadian yang baru kita alami. Bandingkan pengalaman yang baru saja dialami dengan hasil tulisan; apakah tulisan ini sudah bisa menyampaikan sebagian besar maksud atau perasaan yang ingin disampaikan?

Jika belum, teruslah mencoba, mencari beberapa alur atau kosa kata yang spesifik dengan peristiwa terkait. Dalam latihan menulis, kejadian-kejadian keseharian merupakan salah satu tema yang mudah ditulis. Menulis diari adalah contoh yang bagus dalam proses belajar menulis.

2. Sediakan waktu minimal 30 menit setiap harinya untuk merefleksikan kejadian/ide yang ingin dituangkan dalam bentuk tulisan. Tumbuhkanlah motivasi dan semangat pantang menyerah untuk terus belajar dan belajar. Karena, sebrilian apa pun ide, cerita, atau artikel yang kita pikirkan, mereka tetap akan tersimpan dalam memori—atau bahkan terlupakan—jika kita memutuskan menyerah untuk menuliskannya.

Semakin sering kita berlatih, semakin banyak pula kosa kata yang kita kuasai. Dan, ini akan membuat tulisan kita punya ciri khas (spesifikasi) tersendiri. Minat yang ingin kita tekuni—entah jadi penulis buku motivasi, novel, skenario, cerpen, dll—akan semakin kelihatan.

3. Jika mengalami kesulitan dalam menuliskan alur cerita atau artikel, maka buatlah kerangka tulisan. Ini merupakan jembatan untuk mentransformasikan ide dalam bentuk tulisan. Kerangka tulisan tidak harus kaku atau tidak bisa diubah sama sekali. Kerangka tulisan harus bisa dikembangkan, sejalan dengan ide-ide baru yang mungkin muncul. Atau, mungkin juga berbagai data yang nantinya dapat dikaitkan dengan tulisan kita. Fungsi kerangka tulisan memang untuk memudahkan kita dalam menulis.

4. Saat menulis, kita tidak perlu memikirkan masalah editing terlebih dahulu. Keterampilan editing akan dikuasai sering semakin meningkatnya intensitas penulisan. Yang terpenting, pembaca mampu memahami maksud tulisan kita. Nah, manakala ide bisa tersampaikan melalui tulisan-tulisan, jangan ragu untuk meningkatkan kemampuan editing. Sebab, kemampuan ini penting sekali bagi seorang penulis.

5. Seraplah wawasan dan pengetahuan sebanyak mungkin. Ini akan sangat berguna sebagai referensi atau gudang ide dalam proses menulis. Menonton siaran berita di televisi, baca berita di koran dan majalah, baca berbagai jenis buku pengetahuan, dan browsing informasi terbaru di internet, semuanya sangat berguna bagi proses belajar kita.

6. Terakhir, kirimkan artikel, opini, cerpen, novel, atau berbagai bentuk tulisan lainnya ke media-media. Kita tidak akan pernah tahu kualitas tulisan yang kita buat bila tidak pernah berinisiatif mengirimkannya ke media massa. Ketika mengirimkan tulisan, jangan pernah takut mengalami penolakan. Sebab, penulis yang berhasil bukanlah mereka yang tidak pernah gagal sama sekali. Penulis yang berhasil adalah mereka yang terus belajar dari kesalahan atau kekurangan yang dibuat, dan kemudian mengambil langkah-langkah perbaikan.

Nah, buat Anda yang ingin keberadaanya diakui secara luas, menulis merupakan salah satu pilihan yang tepat. Eksiskan jiwa muda Anda dengan menulis. Jadikan aktivitas menulis sebagai sarana pengembangan diri. Sebab, mengembangkan diri tidaklah selalu berarti mencari sesuatu yang baru dari luar diri kita. Mengembangkan diri juga bisa dimulai dengan mengembangkan potensi yang ada dalam diri setiap orang.

Saya pun yakin, menulis merupakan potensi yang ada dalam setiap orang. Karena, pada dasarnya setiap orang mampu punya banyak ide berharga dan punya kemampuan menulis, sekecil apa pun itu. Jadi, berapa pun usia Anda sekarang—terlebih lagi jika masih berusia muda—kembangkan potensi tersebut dan teruslah berlatih menulis. Siapa tahu, dengan menulis kita bisa menginspirasi orang lain untuk maju dan berkembang.

Dan ingat, semangat jiwa muda akan selalu ada bukan karena hitungan usia. Namun, jiwa muda akan senantiasa bergelora karena ide-ide kita yang mengandung semangat untuk selalu eksis dan berkembang.[sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa semester tiga Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia suka membaca buku dan saat ini aktif menulis di majalah “eksis”, sebuah wadah jurnalistik Fakultas Psikologi, Sanata Dharma. Ia tengah semangat berlatih supaya kelak mampu menjadi penulis dan trainer. Email: nurrohmah_06@yahoo.com.

Hello world! Desember 24, 2007

Posted by nurdiyanti in Uncategorized.
1 comment so far

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!