jump to navigation

Awali Sukses Anda dengan Menulis 19 Juni 2009

Posted by nurdiyanti in artikel.
Tags: , ,
add a comment

“Jangan sembunyikan talenta-talentamu, karena semua talentamu itu diciptakan untuk digunakan. Apa gunanya sundial (penentu waktu menurut bayangan tongkat berdiri yang tertimpa sinar matahari) di tempat teduh?”

~ Benjamin Franklin

Sukses karena menulis? Kenapa tidak? Sekarang, banyak contoh orang yang sukses karena menulis. Menulis, bisa dijadikan sebagai salah satu profesi atau pegangan hidup. Menulis, jika ditekuni secara serius, sungguh bisa dijadikan sebagai sumber nafkah. Apa pun yang berkaitan dengan menulis, mulai dari editor, kolumnis, cerpenis, penyair, novelis, wartawan, penulis skenario, dsb. Kesemua pekerjaan tadi merupakan lahan potensial buat kita.

Kebanyakan orang sering kali lebih memilih jenis pekerjaan lain yang menjanjikan salary yang tetap. Padahal, jika mereka menyadari, sebenarnya menulis pun, jika ditekuni secara serius jelas bisa menghasilkan nilai yang lebih dari sekadar gaji tetap. Apalagi jika kita memilih menjadi penulis freelance, yakni bekerja secara mandiri dan tidak terikat dengan satu jenis pekerjaan. Hal ini tentu saja membawa beberapa keuntungan sekaligus. Misalnya:

1. Penghasilan kita akan semakin besar, seiring dengan banyaknya jumlah order yang kita terima.

2. Kita bisa memilih jenis pekerjaan yang ingin kita kerjakan.

3. Kita bisa mengatur jadwal kerja dan frekuensi pekerjaan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kita.

4. Kita tidak bekerja di bawah tekanan orang lain, sebagaimana yang terjadi jika kita bekerja pada orang lain.

5. Kita dapat bekerja berdasarkan tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan oleh klien.

6. Kita bisa membuat rencana pengembangan karier yang jelas, sesuai dengan apa yang kita cita-citakan.

Keuntungan-keuntungan ini belum tentu kita dapatkan jika kita bekerja pada orang lain.

Kita akan lebih termotivasi untuk meningkatkan karier kita dan bertanggung jawab atas apa yang kita kerjakan.

Meraih setiap kesuksesan—sebagaimana yang kita inginkan—tentu saja bukan hal yang mudah. Namun, itu juga bukan merupakan hal yang terlampau sulit untuk dilakukan. Perlu rencana dan evaluasi atas setiap langkah yang ingin kita capai. Kita bisa membuat need assesment yang tepat bagi diri kita sendiri. Need assesment ini berisi tujuan yang ingi kita capai, kelebihan, dan kekurangan kita dalam hal knowledge, skill, ability, others, atau yang lebih dikenal dengan KSAO.

Selain itu, need assesment juga berisi rencana apa saja yang ingin kita capai beserta waktu pelaksanaannya untuk mengatasi hambatan yang ada. Oleh karena itu, kita memang membutuhkan need assesment. Ini penting agar kita bisa mengontrol segala perilaku dan supaya kita bisa mencapai setiap goal kita.

Berbagai kisah sukses yang sering kita dengar, tentu saja menimbulkan motivasi bagi kita untuk meniru jejak mereka. Tetapi, tetap diperlukan lebih dari sekadar motivasi untuk sukses. Sukses tidak cukup dengan motivasi saja, tetapi juga perlu usaha dan tindakan nyata untuk meraihnya. Motivasi, jika tidak diiringi dengan tindakan nyata, pasti akan mudah hilang.

Kisah sukses yang patut kita tiru, salah satu contohnya ialah Benjamin Franklin. Franklin menuai kesuksesan dalam bidang bisnis, ilmu, politik, dan tak terkecuali dalam bidang sastra. Lahir di Boston, Massachussets, pada tanggal 17 Januari 1706, dari putra seorang pedagang dan pembuat lilin sederhana yang mempunyai tujuh belas anak. itu membuat kehidupannya tidak mudah. Setelah lulus dari sekolah yang ditempuh hanya dua tahun saja, ia mulai bekerja di bidang percetakan pada usia dua belas tahun.

Franklin meninggalkan rumah pada usia 17 tahun dan menjadi seorang montir percetakan di Philadhelpia. Kemudian ia pergi ke Inggris dan bekerja di berbagai toko atau percetakaan, dan tak lupa terus menabung. Berikutnya, ia membuka percetakan miliknya sendiri tahun 1726. Dua tahun setelah itu, ia menerbitkan Pennsylvania Gazette tahun 1731, dan mendirikan perpustakaan pertama di Amerika.

Profesinya sebagai wartawan merupakan eksperimen pertamanya dalam dunia tulis-menulis, yang pada tahun 1732 membuatnya menulis dan menerbitkan Poor Richard’s Almanack. Buku kumpulan cerita dan pengalaman kehidupannya itu berkisah tentang kehidupan, cinta, politik, dan kegiatan-kegiatan manusia pada umumnya. Poor Richard’s Almanack merupakan karya populer yang banyak berisi ungkapan-ungkapan, yang kemudian dikenang oleh banyak orang. Dalam masa senggangnya, Franklin belajar sendiri tentang beragam ilmu dan empat bahasa asing. Franklin juga menulis autobiografinya, sebuah karya yang paling fenomenal dan disukai banyak orang.

Kisah sukses Benyamin Franklin berawal dari tekadnya untuk menjadi yang terbaik. Ketika itu, Franklin mendapatkan reputasi sebagai yang paling terampil dan giat di kota itu. Keberaniannya jugalah yang membuat Perancis memberikan dukungan militer dan keuangan pada saat perang revolusi. Perang ini tercetus karena penolakan petisi yang mengupayakan melonggarnya kendali Inggris terhadap rakyat jajahannya.

Franklin pulalah yang menulis proklamasi kemerdekaan, Traktat Paris, Konstitusi Amerika Serikat, dan satu-satunya orang yang menandatangani ketiganya. Franklin meninggal pada tahun 1790, saat ia berusia 84 tahun. Pemakamannya dihadiri oleh banyak orang karena jasa-jasanya yang besar. Tidak saja bagi rakyat Amerika, tetapi juga untuk dunia, karena berbagai penemuan atau karyanya yang masih banyak digunakan hingga saat ini. Salah satunya adalah “Tungku Franklin”, lensa dengan fokus ganda, dan pistol cahaya.

Franklin sudah membukikan bahwa dari usaha percetakaan yang ditekuninya itu, ia berubah dari pemuda miskin menjadi jutawan pada umur empat puluhan. Franklin tidak hanya membangun mimpinya, tetapi juga mewujudkannya menjadi kenyataan. Semua itu dijalaninya dengan penuh semangat dan keyakinan akan kesuksesan yang akan ia raih. Walaupun ia juga mengalami banyak hambatan, kekecewaan, dan kegagalan, namun ia tak pernah menyerah.

Pada masa sekarang, di saat teknologi sudah semakin maju, fasilitas serba canggih serta informasi bisa diakses dengan mudah, harusnya itu semua merupakan modal yang sangat berharga buat siapa saja yang ingin meniru jejak sukses Benyamin Franklin. Buatlah target yang berbeda, dan bahkan melebihi Franklin, untuk memacu motivasi Anda. Franklin sudah membuktikan, bahwa apa pun latar belakang, tingkat pendidikan, dan status sosial seseorang, semuanya tidak bisa menghambat tekad seseorang untuk maju dan meraih kesuksesannya. Bagaimana dengan Anda? Selamat mencoba dan meraih kesuksesan Anda dengan menulis.[sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa semester VI Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia suka membaca buku dan saat ini aktif menulis di majalah “eksis”, sebuah wadah jurnalistik di fakultasnya. Tulisan-tulisannya tersebar di sejumlah website motivasi seperti www.andaluarbiasa.com, www.andriewongso.com, dan www.pembelajar.com. Ia juga tengah semangat berlatih supaya kelak mampu menjadi penulis dan trainer andal. Pos-el: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com. nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

AKU INGIN JADI BINTANG 4 April 2009

Posted by nurdiyanti in diari pinguin.
Tags: , ,
2 comments

Bintang…
Ada banyak kata..
Yang menyertai setiap cerita
Yang tersimpan utuh di memoriku

Bintang..
Ada banyak makna
Yang kupelajari darimu
Yang tak ingin kulewatkan..

Untuk sebuah bintang harapan
Yang tak kan pernah redup..
Aku berkata..
Aku ingin jadi bintang


Suatu ketika ada teman yang bertanya,” Nur, kenapa kamu suka banget ma bintang?” Tanyanya dengan mimik serius yang membuatku ingin tertawa melihatnya. Dengan muka serius pula aku menjawab,” Karena, aku juga bintang.. Jadi, kalau kangen ma aku, lihat aja bintang-bintang. Mirip koq, ga ada bedanya, hehe… “. Tak ayal lagi, jawaban konyol itu membuat temanku merasa dipermainkan. Habis gimana ya? Banyak alasan untuk menjawab pertanyaan teman-temanku. Nah, cerita ini di buat untuk menjawab rasa penasaran teman-temanku tercinta, hehe…

Entah kenapa, aku sangat suka bintang sejak kecil. Mungkin, karena terbiasa melihatnya setiap malam, mungkin juga karena ada perasaan bahagia ketika melihatnya. Melihat pendar-pendar cahaya yang bagiku mempunyai magnet tersendiri. Ada misteri yang sanggup menarik diriku secara penuh untuk melihatnya. Di setiap sudut-sudutnya sekali pun. Rasanya seperti ada rasa hangat ketika melihatnya, ada rasa tenang dan sanggup membuatku terdiam lama selain ketika membaca sebuah buku. Bintang dan buku, menempati posisi yang sama besarnya, tidak dapat ditimbang berat mana bobotnya. Dua-duanya sama-sama menenangkan di saat-saat aku merasa gundah dan ingin merasa sendiri.

Yah, sejak kecil terbiasa melihatnya, setiap malam tanpa bosan. Sebelum tidur, melihat bintang menjadi acara wajib yang akan kulakukan, hehe.. Terkadang jika kumpul semua, kami sekeluarga akan menggelar tikar di halaman rumah untuk melihat bintang bersama-sama. Ga’ bisa dibilang lihat bintang bareng juga, karena niatnya cari angin, cerita-cerita tentang kejadian hari itu diluar sambil nunggu tukang bakso/sate lewat depan rumah terus makan bareng almarhum bapak, ibu, mbak roh, aku dan dik sari. Senang rasanya jika mengingat masa-masa itu, hehe…

Menghitung bintang, itu pekerjaan konyol yang tak akan ada habisnya, tapi tetap saja kulakukan. Ada banyak cerita yang kurangkai bersama bintang. Bintang tempatku mengadu, jika aku sedih, marah, kecewa, maupun senang. Bukannya gila lho ya, hehe.. hanya saja, aku lebih suka menceritakan hal-hal kecil yang tak ingin diketahui orang lain pada bintang. Ada begitu banyak rahasia yang kutitipkan lewat sinar bintang.

Jika ga’ ada bintang semalam saja, pasti langsung kelimpungan. “Bintangnya mana ya?” Tanyaku selalu.. Langit terlihat lebih indah jika ada bintang. Aku menyukai bintang secara utuh, dengan langit birunya, dengan bulannya dengan kehadirannya yang tak pasti, dengan sinarnya yang berkilauan termasuk dengan mendungnya, wkwkw… kan ga’ selamanya kita bisa melihat bintang, pasti ada saat dimana bintang tak terlihat dan diganti mendung. Sama seperti hidup, tak selamanya hidup kita akan bersinar seperti bintang. Ada kalanya hidup terisi kesedihan dan kekecewaan seperti mendung yang menutupi sinar bintang. Oleh karena itu, mengingkari keberadaan mendung sama saja dengan berharap hidup kita akan bahagia selamanya, sesuatu yang sangat utopis. Kecuali di surga tentunya, dimana segala kebahagiaan yang belum pernah dilhat, di dengar dan dirasakan oleh manusia tersaji dengan abadi di sisi kita nantinya.

Sejak kecil, kalau ngambek terus nangis, bapak pasti langsung digendong dan diliatin bintang. Maka dari itu sampe sekarang pun kebiasaan, kalau sedih pasti duduk diem, lihat ke langit sambil berharap bintang muncul, hehe.. Sebuah kebiasaan yang ternyata juga di miliki oleh seseorang yang kusayang sampai sekarang. Aku merasa dalam bintang ada berbagai keajaiban yang tak kutemukan pada benda ciptaan Allah lainnya, ini seh menurut perasaanku aja, hehe..

Melihat bintang, itu yang ingin kulakukan selalu. Sama halnya seperti menanti hujan di sepanjang tahun. Menanti datangnya hujan dan membasahi bumi. Mencium aroma air hujan yang menyentuh tanah… membuatku juga mencintai hujan. Habisnya dari kecil Cuma sekali hujan-hujan. Habis itu langsung pilek dan demam. Sejak saat itu pula, tiap hujan Cuma bisa lihat saja dari dalam rumah. Pasti dimarahi kalau nekat keluar. Dasarnya aku ga ‘ suka marah dan dimarahi, maka jadi anak penurutlah pilihanku. Sejak kecil suka iri jika lihat-lihat temen-temen yang lain dan adikku bisa hujan-hujan tapi aku ga bisa.

Sekarang, tiap ada hujan pasti aku suka hujan-hujan sendiri(masa kecil kurang bahagia ma hujanJ). Walau bawa payung sekalipun cuma sekedar formalitas. Kalau pulang ke asrama hujan ga’ deres-deres banget&pakai petir, ya hujan-hujanlah pilihanku, hehe..

Sejak saat itu, segala hal yang terjadi dalam hidupku pasti kusangkut pautkan dengan bintang. Tiap ada yang tanya usul nama pasti kusebut bintang, ga’ ada yang lain, hehe.. aku juga bikin nama pena Nur’ITS (Nur In The Sky). Suatu ketika masku bilang “koq nur selangit?”. “ Bukan mas, arti bebasnya menurutku cahaya di langit, itu bintang mas”Setelah tahu bahasa arabnya bintang itu najma, aku pakai nama nur najma buat fs dll. Maniak banget ma bintang pokoknya. Sejak SMA seneng bikin puisi tentang bintang dan buat motto yang berkaitan dengan bintang. “Jadilah bintang yang selalu bersinar meski gelap mengitari, selalu menerangi hati yang sunyi” hehe.. anak sma banget neh.

Yah, aku ingin jadi bintang. Selalu bersinar meski gelap mengitari. Member manfaat bagi dan kebahagiaan bagi banyak orang dengan sinarnya. Memberi cahaya di hati tiap orang dan membuatnya ga merasa sendirian lagi. Hmm, berlebihan ya? Wkwk… tapi ini yang ada dipikiranku selama ini. Meski tak selalu terlihat, bintang tetaplah bintang. Bintang akan selalu ada buat kita, ga’ akan ninggalin kita sendirian, selamanya…

Hamasah!!!

(buat bintang hatiku, semangat!!!)

KITA DAN PEMILU 4 April 2009

Posted by nurdiyanti in Uncategorized.
Tags: , , , ,
add a comment


Bagaimana sikap kita menghadapi pemilu nantinya?
Apakah hanya terdiam dan menjadi penoton semata?
Bergeraklah kawan, bergeraklah secara serentak!!!

Satu kata yang menyedot perhatian beberapa bulan terakhir adalah PEMILU (Pemilihan Umum). Bulan april menjadi bulan terpenting bagi kita semua. Pesta demokrasi setiap lima tahun sekali akan di gelar dan mencapai puncaknya pada saat pemilu di tanggal 9 april nanti. Apa yang akan kita lakukan demi menyuseskan pemilu?

Betapa tidak? Semua perhatian dan energi setiap orang tersedot untuk menyiapkan pemilu. Kampanye yang dimulai pertengahan bulan maret hampir berakhir. Setelah semua fase yang dilewati oleh masing-masing partai selama beberapa bulan terakhir ini akan menuai hasilnya. Apa yang sudah kita lakukan untuk ikut menyukseskan pemilu kali ini?Apakah kita perduli dengan pemilu sekarang ini?

Berbagai kontroversi yang menyertai pemilu kali ini, tidak lantas bisa dijadikan apologi melepaskan diri dari tanggung jawab sebagai peserta pemilu. Ada berbagai ketimpangan yang mulai menyeruak ke permukaan menjelang dilaksanakannya pemilu. Mulai dari berbagai kecurangan yang dilakukan para caleg di awal pencalonannya, kisruh kampanye, perpecahan anggota dari partai politik, adu kekuatan dengan saling menjatuhkan lawan politik, mulai melakukan strategi politik untuk menarik masa dengan janji kampanye dan koalisi-koalisi yang diharapkan mampu meningkatkan perolehan mereka hingga kemenangan yang diharapkan pun tercapai.

Keganjilan demi keganjilan yang semakin mewarnai pemilu tak ayal lagi membuat kita semakin geram. Pemilu yang diharapkan menjadi “penyelamat nasib bangsa” tidak benar-benar terlaksana sesuai dengan yang diharapkan sebagaimana mestinya, yang jujur dan bersih dari segala manipulasi dan kepentingan. Walau demikian tidak salahnya kita memberikan apresiasi positif atas kinerja pihak-pihak yang berupaya merancang pemilu dengan baik.

Banyak kepentingan yang mewarnai setiap pemilu, entah dari elit politik, masa pendukung partai, pengusaha, kepentingan Negara lain dan bahkan kita sendiri sebagai tuan rumah sekaligus objek dari pemilu. Masing-masing punya alasan yang mendasar untuk mengupayakan kepentingannya, yang seakan tak terbantahkan sehingga wajib dijadikan sebagai pembenaran atas setiap laku politiknya.

Peran apakah yang sebaiknya kita ambil pada saat ini? Terlebih lagi mengingat kapasitas kita sebagai mahasiswa? Satu hal yang pasti adalah tidak menyia-nyiakan kesempatan kita dengan turut menyukseskan pemilu, yaitu dengan cara menggunakan hak suara kita!!

Gunakan hak suara kita, dengan begitu setidaknya kita turut berperan dalam menentukan lima tahun nasib bangsa kita. Jangan sampai menyerah dan bersikap apatis terhadap pemilu. Seribu kekurangan yang menyertai jalannya pemilu bisa dijadikan sebagai alasan untuk mangkir dari tanggung jawab ikut dalam pemilu.

Temen-teman, ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari setiap peristiwa yang terjadi. Salah satunya adalah bahwa untuk mencapai sesuatu yang baik diperlukah usaha yang keras dan pantang menyerah. Usaha yang keras untuk membangun bangsa kita dan bangkit dari setiap keterpurukan yang ada.

Jangan sampai terpikirkan untuk mengabaikan hak kita dalam memilih. Hal itu hanya akan membuat kita tidak bisa berpartisipasi dalam nenilih partai/calon legislative. Bagaimanapun juga kita harus dapat menumbuhkan keyakinan bahwa masih ada harapan dalam pemilu sekarang. Jika tidak memilih, apa jadinya nasib bangsa kita?
Apakah kita senang melihat bangsa kita terpuruk terus menerus dalam keterpurukan. Meminjam istilahnya barrack obama, change!!! Kita harus bisa melakukan perubahan di mulai dari 3M seperti kata Aa’ Gym, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan mulai saat ini. Oleh karena itu mari sukseskan pemilu dengan menggunakan hak pilih kita.

Di sadari/tidak semuanya berawal dari PEMILU. Sukses tidaknya memilih pemimpin bangsa juga ada di tangan kita semua. Berfikirlah secara matang, siapa yang berhak menjadi pemimpin kita untuk masa yang akan datang. Kalau teman-teman berfikir tidak ada calon memadai, saya kira kurang bijak juga menilai dengan perspektive seperti itu. Jika benar-benar dicermati, pemilu kali ini sudah diwarnai dengan kemunculan tokoh-tokoh baik baru maupun lama yang mewarnai wajah politik di tanah air saat ini. Tentunya kemunculan banyak tokoh ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan akan kapabilitasnya memimpin bangsa kita nantinya.

Menengok kinerja beberapa pihak dalam beberapa tahun belakangan ini tentunya bisa kita jadikan salah satu tolok ukur dalam memilih pemimpin nantinya. Pasti masih ada pemimpin yang layak untuk bangsa kita. Pilihlah pemimpin yang adil dan taat pada Allah swt. Pemimpin yang adil akan membawa bangsa kita menuju ke arah yang lebih baik. Jadi buat teman-teman semua, ayo sukseskan pemilu kita kali ini dengan menggunakan hak pilih kita!!!

Hamasah!!!

Diterbitkan juga di Buletin FKM BUDI UTAMA(Forum Keluarga Muslim Bina Ukhuwah Dakwah Islamiyah Universitas Sanata Dharma)

Menghapus Dosa Ekstensial dengan Menulis 1 April 2009

Posted by nurdiyanti in artikel.
Tags: , ,
add a comment

Banyak dari kita yang tidak menyadari arti sebuah tulisan. Sehingga, kita sendiri mengabaikannya, dan tidak menganggapnya sebagai sebuah senjata, bagi pembebasan ide yang terpenjara dari hati dan pikiran kita. Bukankah kebebasan adalah hak kita? Dan, sebuah tulisan adalah salah satu warna indah bagi segala perjuangan kita.

Masih ingat dengan berbagai tulisan Sang Proklamator, Soekarno, tentang kemerdekaan? Pada masa penjajahan Jepang di Indonesia, dengan lantangnya Soekarno meneriakkan keinginannya dan keinginan bangsanya untuk merdeka. Dipenjarakan berkali-kali, tetapi itu tidak membuatnya jera dalam menulis, demi menularkan semangat kemerdekaan pada kaum pemuda Indonesia di masa itu. Apa jadinya jika para perintis kemerdekaan tersebut tidak menuliskan ide-idenya? Akankah kita dapat menikmati kemerdekaan? Walaupun, hingga kini pun, kita belum sepenuhnya merdeka dari warisan-warisan kultur penjajahan yang selama ini membelenggu kita.

Tulisan, sebuah hal besar yang artinya sering dimaknai kerdil oleh sebagian orang. Betapapun cemerlangnyaatau sedahsyat apa pun ide kitatanpa ditulis dan ditunjukkan pada orang lain, hal itu akan menjadi sia-sia. Karena apa? Karena kita sendirilah yang menilai, menikmati, dan membanggakan semua ide tersebut. Tidak ada orang yang akan turut serta menilai, memberi komentar, dan mendiskusikan buah dari pikiran kita.

Ide tidak akan terwujud nyata jika kitasebagai pemilik atau penemunya—tidak berusaha memublikasikannya ke khalayak. Karena, bisa jadi orang yang membaca tulisan-tulisan kita dapat merasakan hal yang sama, dan bahkan mau turut serta memperjuangkan ide-ide kita.

Banyak hal terjadi, dan kita lupa bahwa sejarah adalah hal berharga yang dapat kita jadikan sebagai pembelajaran bagi generasi selanjutnya. Siapa yang akan menuliskan sejarah tersebut? Kita atau orang lain yang mempunyai pandangan yang berbeda, atau bisa juga seorang penulis yang menulis dengan mengatasanamakan kepentingan tertentu. Sejarah adalah hal yang tidak boleh dimanipulasi.

Dan, generasi mendatang berhak mendapatkan sejarahnya yang asli, tanpa diwarnai oleh kepentingan tertentu yang merusak sejarah itu sendiri. Menuliskannya merupakan salah satu upaya yang bisa kita tempuh dalam memperkaya pandangan dan objektivitas suatu peristiwa. Menulis akan menjadikan belenggu-belenggu tertentu lepas dengan sendirinya.

Tak dapat dimungkiri, selama ini kita terlalu terpaku dengan berbagai hal yang membuat kita terpenjara dan menenggelamkan potensi kita. Bisa jadi, dengan terpenjaranya berbagai potensi diri tersebut, maka kita mempunyai dosa ekstensial. Maksudnya, dosa yang tercipta karena kita terlalu terpaku dan tunduk pada penghalang-penghalang internal, yang membuat kita tidak mampu memperjuangkan segala potensi diri.

Apakah kita sungguh-sungguh tidak mampu memperjuangkan ide kita? Atau, apakah kita yang terlalu takut dengan perjuangan sebuah kemerdekaan diri maupun ide? Banyak hal yang bisa kita perjuangkan dan harus kita perbaiki. Dan, salah satu senjata perjuangan pemerdekaan diri, ide, dan potensi adalah dengan menulis.

Menulislah dan sebarkan ide Anda kepada orang-orang di sekitar Anda, setidaknya agar Anda tidak mempunyai dosa ekstensial. Apa pun yang terjadi kemudian, paling tidak kita telah memperjuangkan dan berusaha memberitahukannya pada orang lain. Ketidakmampuan diri sesungguhnya adalah ide ciptaan kita sendiri, sebagai dalih/pembenaran atas semua alasan enggannya kita dalam memperjuangkan ide-ide kita.

Kepribadian dan pemikiran seseorang dapat dilihat dari tulisannya. Dari sebuah tulisan kita dapat mengetahui dinamika perkembangan idealisme, kematangan pemikiran, sikap, serta derajat intelektualitas seseorang, yang ternyata tidak cukup dinilai berdasarkan gelar formal semata.

Tulisan seseorang sering kali dijadikan sebagai cermin dalam menilai eksistensi dan apresiasi orang terhadapnya. Banyak penulis yang dihargai karena pemikirannya. Sementara, jarang ada orang yang dihargai dengan tulus karena kekayaan materinya semata. Hal ini menunjukkan bahwa tulisan, sesungguhnya, mampu mendobrak belenggu “kasta-kasta sosial yang mungkin hidup dalam masyarakat mana pun.

Seperti sosok aktivis mahasiswa legendaris kita, Soo Hok Gie, yang dicintai orang-orang muda waktu dulu hingga sekarang, karena tulisan-tulisannya yang sangat kritis pada pemerintahan di masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru. Mulai dari satpam, tukang sapu, buruh, pedagang, dan kalangan bawah lainnya, begitu mencintai sosok ini. Mereka merasa sangat kehilangan saat mendengar kabar kematiannya.

Soe Hok Gie tak hanya dikenal, namun juga dikenang sebagai sosok yang berani menyuarakan perubahan dan pembaharuan. Ia terus menulis walaupun berbagai teror selalu menekannya. Bahkan, keluarganya sekalipun pernah mengacuhkan karya-karyanya. Ia bergeming, karena yang dipikirkannya bukan soal apresiasi orang lain, namun demi menyampaikan suara hatinya pada orang lain. Sekarang, banyak orang mengagumi sosoknya, berusaha mengumpulkan berbagi tulisan dan membukukannya, termasuk membuat film sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan idealismenya.

Tulisan-tulisan, buku-buku, serta film tentang Soe Hok Gie bisa menjadi stimulus bagi kita dalam mengembangkan semangat perjuangan di segala hal. Persoalannya, terkait dengan kekuatan tulisan dan semangat aktivis legenda ini, apakah kita akan meneruskannya atau sekadar menjadi penonton semata?

Ide yang kita perjuangkan merupakan perwakilan atau cerminan jati diri atau potensi kita, yang dapat membangkitkan semangat kita dalam meraih cita-cita. Tak masalah jika akhirnya tidak ada orang yang mau mendukung ide-ide kita. Karena, setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda. Padahal, kita juga tidak berhak memaksakan kehendak atau gagasan kita pada orang lain.

Hal paling penting dari semua usaha kepenulisan kita itu adalah pembebasan ide-ide dari penjara ketakutan akan dicemooh oleh orang lain; ketidakpercayaan diri sebagai pembunuh aktualisasi potensi diri; dan ketidakyakinan akan kemampuan diri sendiri. Kita semua bisa menulis. Kita pun sesungguhnya mampu merontokkan belenggu-belenggu mental yang merugikan dan melukai harga diri kita, sebagi manusia bebas merdeka yang berhak menyampaikan gagasan dan pemikiran sendiri.

Puncak kemerdekaan seseorang terletak pada terbangunnya semangat dan keberanian untuk perjuangan ide-ide sendiri. Tidak peduli dengan intensitas kita dalam menulis serta ada-tidaknya pengahargaan orang lain atas karya kita. Sebab, yang lebih penting adalah kemauan dan sikap pantang menyerah kita dalam memperjuangkan ide-ide kita. Apalah arti diri kita ini jika untuk memperjuangkan ide saja kita sudah tidak punya keberanian lagi?[sn]

* Sofa Nurdiyanti adalah mahasiswa semester VI Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia suka membaca buku dan saat ini aktif menulis di majalah “eksis”, sebuah wadah jurnalistik di fakultasnya. Tulisan-tulisannya tersebar di sejumlah website motivasi seperti www.andaluarbiasa.com, www.andriewongso.com, dan www.pembelajar.com. Ia juga tengah semangat berlatih supaya kelak mampu menjadi penulis dan trainer andal. Email: nurrohmah_06[at]yahoo[dot]com.

SILVERQUEEN 25 Maret 2009

Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.
Tags: , ,
add a comment

(for my beloved brother:24 maret)




Ada fragmen kecil

Yang tak terlupakan olehku

Ketika sebatang silverqueen

Terulur dari tangan kakakku

Mengawali senyumku

Di setiap perjumpaan kita



Ada fragmen kecil

Yang tak terlupakan olehku

Ketika aku kehilangan orang yang berarti

Kau pun datang

Mengisi ruang kosong itu

Tanpa keluh



Ada fragmen kecil

Yang tak terlupakan olehku

Ketika harapan yang tersematkan

Dari setiap kata yang kau ucap

Menguatkan aku dalam melangkah

Memberikan jejak baru dari yang hilang dariku



Ada fragmen kecil

Yang tak terlupakan olehku

Setelah melihatmu wisuda

Ada harapan dalam benakku

Ingin ikuti jejakmu

Wisuda dan memakai toga sambil tersenyum bangga



Ada fragmen kecil

Yang tak terlupakan olehku

Saat pupus harapanku

Menggapai mimpi

Kau datang dan berkata

“ Ayo Kuliah di jogja”



Ada fragmen kecil

Yang tak terlupakan olehku

Ketika aku kuliah

Sendirian, kesepian dan masih saja..

Mengharapkan perhatianmu

Lalu kau bilang “manja” dan aku pun marah



Ada fragmen kecil

Yang tak terlupakan olehku

Ketika aku kesulitan

Tak seperti yang kauharapkan, Mengecewakanmu

Lalu kau bilang menyesal

Dan aku pun sedih



Ada fragmen kecil

Yang tak terlupakan olehku

Ketika bertemu denganmu

Seakan hilang semua angkuhmu

Saat itu aku tahu, kau sayang padaku

walau tak selalu kau tunjukkan



Ada fragmen kecil

Yang tak terlupakan olehku

Ketika aku marah, begitu juga denganmu

Terdiam, cukup lama

Karena ego yang berkuasa

Hanya amarah…



Ada fragmen kecil

Yang tak terlupakan olehku

Ketika aku berusaha bangkit

Meredakan emosiku

Dan berusaha membahagiakanmu

Tapi kau tak acuh, aku pun sedih…



Ada fragmen kecil

Yang tak terlupakan olehku

Bahwa kau bukan milikku lagi

Duniamu dan duniaku telah berbeda

Tak lagi sama hingga bisa berjalan seiring lagi

Seharusnya aku sadari hal itu



Ada fragmen kecil

Yang tak terlupakan olehku

Ketika aku marah

Karena kau tak percaya padaku lagi

Setelah semua kegagalanku

Takutkah, jika aku gagal dalam hidup?



Ada fragmen kecil

Yang tak terlupakan olehku

Karena sakit hati

Dan terlupa

Kamu ingin aku bahagia

Walau aku merasa ini terlalu keras



Ada fragmen kecil

Yang tak terlupakan olehku

Ketika aku berharap

Kembali ke masa lalu

Dalam gendonganmu sambil makan silverqueen

Tapi itu tak mungkin terjadi bukan?



Kini aku disini

Berusaha menyatukan kepingan puzzleku

Mungkin benar, aku manja

Tapi kukira tak separah itu

Hingga tak dapat di percaya

Tak pantaskah aku di percaya?



Mungkin benar, mengecewakanmu

Tak sepertimu..

Yang cemerlang dalam prestasi

Tapi aku telah berusaha semampuku

Tak cukupkah?



Mungkin benar, menyusahkanmu

Karena semua sifatku

Ketidakmandirianku

Apakah bosan jadi kakakku?

Kuharapkan tidak

Karena aku bangga kau jadi kakakku



Please forgive me…

Atas semua yang telah kulakukan

Tak ada kata

Tak ada suara

Tak ada bahasa

Yang mampu mewakili perasaanku



Hanya untaian doa

Yang tak kan terlupa olehku

Di setiap sujudku

Untukmu…

Walau kita berbeda

Tak ada yang salah bukan?



Hanya untaian doa

Yang tak kan terlupa olehku

Berusaha mengerti tanpa jeda

atas semua katamu

Walau aku tak suka

Aku hanya berkata “ Mungkin kamu lebih tau dariku



Hanya untaian doa

Yang tak kan terlupa olehku

Moga kau bahagia

Dan tak lagi merasa kecewa

Karena aku atau yang lainnya

Karena bahagia itu milik semua orang



Hanya untaian doa

Yang tak kan terlupa olehku

Selalu kulantunkan sejak kecil

Agar kau mendapat hidayah dari Allah SWT

Walau kutahu..

Hati itu tak bisa dipaksa



Mungkin…

Ada yang terlupa olehku

Kau hanya kakakku

Bukan Bapak

Yang bisa jadi tempatku bermanja



Mungkin…

Ada yang terlupa olehku

Kau hanya kakakku

Bukan malaikat

Yang ku harapkan selalu baik padaku




Mungkin…

Ada yang terlupa olehku

Jika aku bukan anak kecil lagi

Yang harus dituntun lagi

Aku harus berjalan semampuku walau sendiri



Mungkin…

Ada yang terlupa olehku

Langkah hidup adalah perjuangan

Pengorbanan, Ikhlas

Menerima&kehilangan


Mungkin..

Ada yang terlupa olehku

Bahwa Tuhan telah beri yang terbaik

Untuk tiap hambanya dan Anugerah itu

Adalah keluarga yang kumiliki


Mungkin…

Ada yang terlupa olehku

Jalan terbaik untuk hidup adalah bersyukur

Atas semua yang diberikan padaku

Bukannya kufur


Mungkin…

Ada yang terlupa olehku

Jika tak ada hadirmu

Ku tak tahu artinya perbedaan

Dan belajar menghargai itu


Mungkin…

Ada yang terlupa olehku

Kau Telah beri warna baru

Dengan beri tahu langkah lain

dan buatku jadi manusia baru, semakin mengerti imanku


Mungkin…

Ada yang terlupa Olehku

Allah telah beri anugerah

Dengan kehadiran orang-orang yang mencintaiku

Dengan cara unik yang kini kumengerti


Mungkin…

Ada yang terlupa olehku

Sebuah kata yang harusnya kukatakan padamu

Sejak dulu

Bukannya keluh tapi terimakasih



Terimakasih…

Telah sabar dengan kasih

Temani perjalananku tanpa keluh

Tak semua suka itu keluar dengan tawa..

Tak semua harapan itu jadi kenyataan…

Tapi keajaiban tercipta jika kita berusaha menjadikannya kenyataan

Dan keajaiban itu adalah

Mengenalmu dalam bentuk, kau lah yang ditakdirkan Allah menjadi kakakku…

Aku menyanyangimu karena Allah …

Semoga Allah menghimpun kita semua

Dibawah Naungan Cinta-Nya…

Amin…..



Happy birthday my beloved brother…
I miss you..
Cepetan pulang yak :)

Aku ingin waktu… 11 Maret 2009

Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.
3 comments

Aku ingin berlomba dengan waktu

Mengintip masa depanku..

Jika memang ada..


Aku ingin mengalahkan waktu

Agar tak ada yang tersia

Dari hidupku


Aku ingin bercanda dengan waktu

Ketika aku meraih semua

Semua yang jadi mimpiku


Aku ingin melihat waktu

Ketika ia jadi temanku

Teman yang jadi alarm hariku


Aku ingin bertahan dengan waktu

Ketika tak ada kompromi

Atas semua kesalahanku


Aku ingin hakimku adalah waktu

Ketika salah

Ia menghukumku agar tak terlena


Aku ingin berjalan dengan waktu

Ketika sepi datang

Dalam keputusasaanku dan kembali meraih harapanku

Rabu, 4 maret’09

22:42

tak ada ide buat MPKualitatif

Nulis aja, wkwkw :)

Hanya Bintang 11 Maret 2009

Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.
add a comment

Bintang, andai waktu milikku..
Aku ingin melihatmu..
Terus saja..
Sepanjang malam
Tanpa jeda dan lelah

Bintang, andai waktu milikku..
Biarkan aku meresapi
Setiap detik yang datang
Dan ribuan detik kemudian
Untuk menyepi

Bintang, andai waktu milikku..
Tak kan kulewatkan
Setiap sinar yang ada
Berlalu tanpa rasa
Biar hidup tak mati rasa

Bintang, andai waktu milikku
Biarkan kulihat gelap
Selain sinarmu..
Karna indahmu tak kan nyata
Tanpa gelap yang jadi teman abadimu

Bintang, andai waktu milikku
Tak kan kusesali
Sejarah hidup yang terasa beku
Sedingin es di kutub dunia
Biar aku tahu arti syukur dan menghargai

Bintang..
Kau dan aku pun tahu
Bahwa waktu bukan milikku
Tapi milik Raja Semesta
Raja dari segala Raja
Pemilik keagungan abadi

Bintang..
Kau dan aku pun tahu
Jika aku adalah pejalan..
Pejalan yang miliki batas waktu
Entah nanti atau pun esok
Siapa yang tahu?
Jika waktuku akan berakhir
Tanpa salam pisah dan goresan hidup

Bintang..
Kau dan aku pun tahu..
Tak ada sembunyi yang rapi
Serapi serat benang pada kain pun tentu berlubang
Tak ada sembunyi yang rapi
Tak ada
Karena Dia selalu tahu..

Bintang..
Kau dan aku pun tahu..
Jika aku punya jutaan mimpi..
Tak terhitung..
Yang ingin teraih
Tapi aku tetap punya batas waktu

Bintang..
Bisakah kuraih mimpiku?
Mimpi yang merajai jiwa
Mimpi yang seakan jadi debu
Ketika diri terbujuk putus asa
Bisakah kuraih?

Bintang..
Semoga waktu tak jadi musuhku
Ketika ada jutaan detik tersia
Tanpa langkah dan amal yang pasti
Semoga saja..
Kuharapkan begitu walau tak begitu yakin

Bintang..
Semoga waktu jadi sahabatku..
Tak kan ejek aku
Ketika aku lali
Dan tertinggal
Semoga saja
Kuharapkan begitu walau tak begitu yakin

Bintang..
Bisakah aku jadi sepertimu?
Selalu bersinar
Meski gelap mengitari
Selalu bersinar
Menerangi hati yang sunyi

Bintang..
Bisakah aku jadi sepertimu?
Sebuah cita yang jadi mimpi
Sejak pertama aku melihatmu,
Kubulatkan tekadku
Agar bisa jadi bintang
Yang selalu bersinar
Memberi faedah bagi manusia
Bisakah?
Kuharapkan begitu walau tak begitu yakin

Bintang..
Walau tak begitu yakin..
Aku punya tekad yang kuat..
Agar bisa jadi sepertimu..
Bukan maksudku menganggumi berlebihan..
Melebihi Pencipta kita
Karena detak ini tetaplah milikNya..
Tak utuh milikku..

Bintang..
Aku ingat
Segala waktu yang terlewati..
Ada kalanya terasa lambat dan cepat..
Lambat ketika hasrat urung terpenuhi
Cepat ketika angan tak lagi jadi teman

Bintang..
Temani aku
Meraih mimpiku..
Bintang..
Jadilah saksiku
Ketika teraih semua harapan
Bersama waktu yang jadi teman
Moga harapan tak sekedar angan
Karena hidup tanpa terukir goresan harapan..
Adalah pejalan tanpa tujuan
Tak tahu arah
Dan langkah yang pasti
Bintang..
Ingatkan aku..
Tak selamanya bintang kan bersinar abadi..
Agar tak lupa diri
Akan hakekat pejalan
Yang sekarang kusandang..

Bintang..
Jadilah teman
Bersama waktu
Agar teraih
Harapan sebagai hamba
Dalam dekapan kasih sayangNya

Amien…

Kamis, 5 maret ‘09
00:06
saat deadline tugas MPKualitatif belum selesai
HamasahJ

coretan lagi:) 4 Maret 2009

Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.
add a comment

ada yang menjauh dan pergi…

ada yang datang dan menyapa…

ada yang berlalu dengan tawa..

ada yang pergi tanpa jejak…

ada yang berharap untuk kembali..

ada yang berharap untuk dilupakan….

ada yang mengisi sepi dengan canda

ada yang gaduh tanpa hela

ada yang diam tanpa kata

ada yang bicara tanpa nada

kenangan pun seakan jadi peti harta karun

saat waktu tak berdamai denganmu

bayangan mereka kan menghapus gundahmu..

teman, dimana kalian semua??

aku kangen ma kalian semua…

wkwkwkwk…….

hamasah!!!

seperti biasa saat ga da kerjaan, di perpus…

hehe…

SMA dong:) 3 Maret 2009

Posted by nurdiyanti in Coretan Hati.
add a comment

Nah….. pingin belajar nulis kata-kata yang singkat… ne coretan kata waktu sma, waktu lagi ngantuk pas pelajaran, hehe… g tw bisa disebut puisi atau enggak, yang penting mah nulis aja hamasah…

1. Aku belajar menerima dan kehilangan..


Belajar menggenggam mimpi ..

Pada jiwa yang rapuh…

Tapi kan kusematkan kekuatan batinku..

Agar keperoleh rasa bahagia sebagai manusia..

Sebagai jiwa yang tak kenal putus ada..

Dalam berpijak..

Dalam bertindak..

Dalam bersandar…

Semangat nur…

Kamu bisa…

Hamasah always….

Ukhti….

Smile please…

Hehhe…


2. Aku Kembali Pada Pagi

Aku kembali pada pagi…

Yang membawaku pada pusaran waktu yang tak sama…

Yang membuka kisah baru

Yang membuatku melangkah tanpa harus berbalik arah

Yang membuatku belajar akan segala hal….

Yang membuatku bertemu dengan orang-orang yang kucintai

Yang memberiku harapan baru akan masa depanku

Yang menguatkan langkah dalam mengahadapi segalanya

Yang membuatku tersenyum

Yang membuatku menangis

Yang membuatku kecewa

Yang membuatku bangga

Yang membuatku terdiam

Yang membuatku melangkah

Yang membuatku bermimpi

Yang membuatku mengenang masa lalu

Yang membuatku tertatih

Yang membuatku bertemu dengan banyak hal baru

Yang membuatku sadar

Bahwa hidup terlampau berharga untuk disia-siakan

Semangat nur…..


3. AKU

Aku adalah sebuah bayangan

Terseok-seok mengikuti arus

Terbawa angin yang mempermainkan

Mencoba melangkah

Dalam masa

Mencari arah

Kadang aku bertanya

Mengapa hidup

Seperti bayangan

Tak terjangkau

Berubah…

Tak tentu..

Terlihat nyata tapi semu

Karena

Kehidupan abadi

Terlalu berharga

Untuk dipermainkan

Aku adalah bayangan


4. Andaikan Aku Bisa


Andaikan kubisa

Meraih mimpiku

Mengenggam kebahagianku

Merangkai harapanku

Mengintip hari esok

Mengeluarkan kesedihanku

Menjauhkan rintanganku

Menghapus lukaku

Mengenang senyumnya

Mengingat ketulusannya

Mengabadikan kenganan terindahku

Merajai duniaku

Menerima keresahanku

Membagi ceritaku

Mendengarkan suara hatiku

Mendewasakan diriku

Mematuhi perkataaannya

Andaikan kubisa

Kan kulakukan yang terbaik untuk …

Ayahku tercinta….

Sabtu 26 april 2006

5. Beri Aku Bintang


Beri aku bintang, ibu

Agar kuperoleh sinar untuk melangkah

Beri aku bintang, ayah

Agar aku merasa hangat, tak sendirian

Beri aku bintang, sahabatku

Agar aku punya kekuatan, tuk jadi bintang

Beri aku bintang, dan akan ku genggam erat

Kan trus kujadikan bintang

Sebagai teman sejatiku

Tanpa bintang

Aku tak berarti

Karena bintang itu

Adalah kasih sayang kalian

Tanpa bintang

Aku kan sendirian

Menempuh perjalanan panjang

Tuk raih bintang terindah

Beri aku bintang dan senyum kalian

Agar aku sanggup melewati ujian ini


6. Bintangku


Fikirku melayang..

Anganku terkekang…

Indahnya kebebasan…

Zaman pun berganti..

Aku pun tak terpaku..

Lanjutkan hidup adalah langkahku..

Semangat nur…


7. Embun Pagi

Ceritakan padaku sahabat

Segala resah dan deritamu

Karena aku adalah sahabatmu

Janganlah gundah sahabat

Ringankanlah hati dan jiwamu

Hiasilah dengan mimpi indahmu

Raihlah segala cita dan cintamu

Kan kuetemani

Kan ku bagi sgala ceritaku

Kan kudongengkan

Sebuah embun..

Embun pagi

Yang terikat dengan hujan

Yang bersahabat dengan bumi

Yang berjalan di udara pagi

Yang tersenyum bersama mentari

Yang bernyanyi kala kuncup mulai mekar

Lihatlah sahabatku

Dunia begitu indah..

Untuk disalahkan

Tersenyumlah sahabatku

Kan kau raih dunia

Jika kau tersenyum

Rabu 30 nov 2005

Note: buat temen2ku

Aku kangen bgt ma kalian

Semoga kita jumpa dengan senyum

My friend ..

You are my best friend


8. I’m Coming…………..


I’m coming, kebahagiaanku..

I’m coming, impianku

Hujan yang kusukai

Bintang yang terang

Bulan yang menawan

Laut yang biru

Gunung yang sejuk

Danau yang indah

Kicau burung yang merdu

Angin yang bersahabat

Langit yang teduh

Sahabatku yang manis

Kakakku yang kusayang..

Adikku yang tegar

Air yang mengalir

Awan yang megah

AKU AKAN BERRHASIL

Semua hal terindah yang pernah ada

Semua hal terbaik yang pernah kujalani

Kupastikan aku akan bahagia

My BRIGHT FUTURE,….

I’m Coming!!!!

Rabu 19 april 2006

dengan beberapa perubahan

note: jangan berpangku tangan dong!

Ayo kita raih kebahagiaan

Jemput keberhasilanmu dan rangkai mimpi dan harapanmu..

Semangat

Nur in the sky..

9. Sebuah nama…


Mengapa terukir

Mengapa teringat

Mengapa terpendam

Mengapa terngiang

Dalam diam

Oleh suara

Entah siapa

Larut dalam kesunyian….

Mengapa???


10. Kurasa tak da yang beda…


Kurasa tak da yang sama…

Kurasa tak da yang membuatku…

Sadar akan sesuatu…

Jika semua sama..

Apakah itu baik…

Jika semua beda ..

Apakah itu harus membuat jurang baru???

Apa yang sama?

Apa yang beda?

Tak apa jika kau tak mengerti…

Sama dan beda hanya sebagian kecil dari makna hidup yang harus dijalani…

Semangat nur….

Jgn pernah putus asa..

Be the best to your future….

SEJUTA CAHAYA CINTA UNTUK IBU 3 Maret 2009

Posted by nurdiyanti in Uncategorized.
Tags: , , , ,
3 comments

Pernah, di suatu masa
Kita begitu dekat
Menyatu dalam satu raga
Dan merasakan detak yang sama

Bertahun-tahun kemudian
Kita semakin dekat
Senantiasa berbagi di tiap masa
Dengan cerita perjuangan, kebahagiaan dan kesedihan yang sama

Engkau, mengajarkan cinta
Yang begitu tulus
Dan tak mungkin terlupakan

Engkau, mengajarkan arti hidup dan pengorbanan
dengan kesabaran yang seakan tak terbatas
Tiada panggilan yang lebih berarti
Dan membuatku bangga
Selain memanggilmu…
Ibu


Ibu…
Aku lebih suka memanggilmu ibu. Bukan mama, mami, bunda, umi atau sebutan lain yang bermakna sama. Kata ibu lebih mulia dan mempunyai makna yang lebih dibandingkan yang lainnya. Bagiku, ibu adalah sosok yang sederhana dan penuh perjuangan. Ibu adalah panutan sekaligus sahabat terdekat, yang dengannnya aku tidak ragu untuk bercerita dan berbagi rahasia kecil. Ibu adalah kebanggaanku, cintaku, cahaya dan kebahagiaanku. Kasih sayangnya bagai pendar-pendar cahaya yang tak pernah redup yang senantiasa menyinari hatiku dan saudaraku yang lain. Cahaya yang membuat kami hangat dan tak pernah merasa sendirian, karena ada ibu yang menemani setiap langkah dalam menapaki jejak hidup ini.

Ibu…
Kata yang ingin senantiasa kuucapkan adalah kata maaf dan terimakasih atas segalanya. Maaf, karena begitu banyak kesalahan yang kulakukan selama ini. Begitu banyak hal yang sudah kulakukan dan membuatmu kecewa. Namun, tak ada nada marah dan menghakimi seperti yang kuduga. “ Tak apa, besok pasti bisa lebih baik lagi” ucapmu dengan sepenuh hati. Terimakasih Bu, atas semua kasih sayang, doa yang senantiasa kau panjatkan dalam setiap sholat dan sujudmu. Terimakasih atas kesabaran dan persahabatan yang tulus yang ada. Bagiku, ibu lebih dari sekedar ibu. Ibu adalah sahabat terdekat, dimana aku bisa menceritakan segala yang terjadi di hidupku tanpa aku merasa dihakimi, namun dihargai sebagai seorang sahabat dan anak.

Ibu…
Tahun-tahun yang sulit setelah sepeninggal Bapak adalah tahun yang berat bagi kita semua. Seakan kehilangan cahaya kebahagiaan, kita tak lagi mempunyai arah dalam hidup. Gurat kesedihan tergambar jelas di wajah ibu. Airmata kesedihan seakan tak mau pergi mengiringi kepergian bapak dalam usia yang relatif muda dan dengan lima anak yang masih membutuhkan kasih sayang. Ibu, terasa bagi kami kesulitan dan deritamu, namun tak kau tampakkan. Tak terbayangkan perjuangan ibu membesarkan lima anak sendirian tanpa seorang Bapak disisi ibu.

Ibu…
Engkau begitu tegar, menghadapi semuanya. Menghapus airmata kesedihan dan tabahkan diri dengan melihat anak-anakmu yang masih kecil. “ Kekuatan ibu ada pada kalian, ibu akan berusaha membahagiakan kalian semampu ibu. Ibu menderita tak apa, asal kalian bahagia” ucapmu tulus. Mungkin, dulu sewaktu aku kecil, tak mengerti apa makna kalimat itu, yang ibu ucapkan sepeninggal bapak. Tapi bertahun-tahun kemudian, aku memahaminya dengan segala tindakan, kasih sayang dan pengorbanan yang senantiasa membuatku bangga. Bangga menjadi anak yang Allah takdirkan berada di samping ibu dan merasakan kasih sayang yang begitu besar. Meski hidup tanpa kasih sayang bapak, aku tak pernah merasa kekurangan kasih sayang dan sedih karena ada ibu disampingku.

Ibu…
Tak akan kulupakan nasehatmu selalu,”Belajarlah dengan baik nur, supaya jadi orang pintar dan bisa jadi orang sukses. Ibu akan selalu mendoakanmu, supaya bisa hidup bahagia lebih dari waktu sekarang” . Ah, Ibu seandainya ibu tahu. Tahun-tahun yang aku lewatkan bersama ibu adalah waktu yang membahagiakan, ibu tak pernah mengeluh dan memarahi dengan keras. Sebaliknya ibu mengajarkan kesabaran dan kemandirian pada anak-anaknya. Jangan mudah bergantung pada orang lain dan berusahalah sebaik mungkin, karena Allah menghargai setiap perjuangan manusia yang mau berusaha bukan meminta dan berdiam diri saja.

Ibu…
Dalam setiap detik yang kulewatkan sekarang, tak hentinya aku mengucap syukur kepada Allah. Bersyukur karena dianugerahi Allah, ibu yang baik dan penuh perjuangan. Pun, ketika banyak teman-temanku yang putus sekolah karena kesulitan biaya walau mempunyai keluarga yang utuh. Ibu tak menyerah begitu saja, terus saja mencari cara dan berjuang agar kami semua dapat merasakan pendidikan yang baik walaupun tak lagi mempunyai bapak. “Kalian semua tidak boleh berkecil hati, walau tidak punya bapak. Kalian harus belajar dengan sungguh-sungguh dan mengejar cita-cita dengan segenap kemampuan kalian. Kalian harus punya pendidikan yang bagus, karena ibu tak bisa memberi bekal harta, yang bisa ibu berikan tidak lain adalah ilmu yang kalian miliki”. Ibu itulah penyemangat kami selama ini, penyemangat saat rasa putus asa mendera dan tak jua habis ketika banyak masalah datang. Namun, kami senantiasa mengingatnya hingga tak ingin ada kesedihan di wajah ibu. Kami hanya ingin memberikan seulas senyum kebahagiaan walaupun hanya lewat prestasi kecil yang kami ukir. Seulas senyum yang membuat kami pun bahagia, karena bisa membuat ibu bangga.

Ibu…
Masa, telah bergerak jauh dan kini terpisah jarak yang membentang. Sebagian harapan dan perjuanganmu hampir tergapai. Seperti yang ibu inginkan, kini aku berhasil menempuh pendidikan di universitas. Walau dengan penuh perjuangan yang tidaklah mudah. Namun, semua kesulitan seakan tak berarti jika mengingat perjuangan ibu selama ini. “ Nduk, cah ayu. Kalau ingin berhasil harus berani tirakat, hidup prihatin tidak apa-apa jika harus dilakukan, karena kita bukan orang yang kaya. Banyaklah berpuasa, sholat malam dan memohon pada Allah supaya jalannya dimudahkan. Insya allah, allah akan mengijabah doa kita”.

Ibu…
Terkadang, aku merasa malu pada diri sendiri. Karena tidak bisa tegar dan sabar seperti ibu. Mudah putus asa dan menyerah di saat masa-masa yang sulit ada, tapi ibu selalu memberikan semangat dan perhatian yang memberiku kekuatan dalam setiap langkah yang kuayunkan. Aku juga begitu malu, karena walau aku bisa mengenyam pendidikan dan pengetahuan yang lebih dari ibu. Namun, ibu mempunyai pemikiran dan harapan hidup yang tak pernah redup. Harapan melihat anak-anaknya bahagia, menguatkannya. Keyakinan pada rahmat Allah juga lebih besar walau tak mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang agama. Namun, pemahaman dan keyakinan ibu membuatku tak henti belajar dan berjuang untuk menggapai semua yang pernah menjadi mimpi walau itu sulit. Semua itu kami lakukan demi kebahagiaan ibu dan seulas senyum yang semoga saja dapat menjadi penawar kesedihan, pengorbanan walau sedikit.

Ibu…
Terimakasih untuk semua yang telah ibu berikan pada anak-anakmu. Maafkan kami yang belum mampu membahagiakan ibu dengan semestinya. Tapi percayalah Bu, kami akan berusaha semampu kami agar suatu saat ibu dapat bangga karena mempunyai anak-anak seperti kami. Hanya ridho dan doa ibu yang senantiasa kami harapkan dan semoga Allah juga meridhoi setiap yang kami lakukan hingga bisa membahagiakan ibu.
Terimakasih dan syukur yang tak terhingga pada Allah yang telah memberikan seorang ibu yang begitu baik, sabar dan tegar hingga kami tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang walau dibesarkan tanpa kehadiran Bapak disisi kami. Hanya doa yang yang kami panjatkan pada Ibu, semoga Allah mencatat semua amal kebaikan ibu selama ini sebagai pahala bagi ibu. Amien…

Sejuta Cahaya Cinta Untuk Ibu

Artikel ini ditulis saat lomba menulis surat cinta untuk ibu pada Milad Salimah yang ke-8. Hasilnya dapat juara 2, hehe…

Buat Ibu, nur kangen…

cepat sembuh nggih…

Hamasah:p