Melihat ulahnya untuk ke sekian kalinya, akhirnya aku hanya bisa terduduk diam. Menatap punggungnya dengan sedih dan mengehela nafas secara perlahan tanpa berkata apa-apa. Ya, akhirnya aku putus asa lagi. Entah untuk ke berapa kalinya. Terdiam lagi dan berusaha berpikir bagaimana cara menarik perhatiannya agar mau mendengarkan ucapanku atau setidaknya bersikap ‘manis’ barang sejam saja. Tapi itu tidak pernah terjadi. Dia selalu begitu, membuatku kehilangan akal dengan ulahnya yang seringkali tak terduga. Demi melihat wajah murungku, Nurul pun segera menghampiri Anggoro.

Menyentuh lengan baju Anggoro, menatap wajahnya seraya berkata, “Anggoro, kon enggak sayang karo Bu Guru, ta?”

Tegas nurul bertanya hingga membuatku tergelak sesaat. Ah Nurul…. Nurul. Selalu saja, ia yang jadi pembela dan penyemangat saat aku putus asa. Mendengar pertanyaan Nurul—yang dilontarkan ke Anggoro entah untuk ke berapa kali—Anggoro selalu bersikap sama. Tak peduli, dan mengalihkan pandangannya segera. Mencari mainannya, berlari, atau bersembunyi dengan gaya cueknya.

                Pertanyaan itu demikian rajin Nurul serukan saat melihat tingkah Anggoro membuatku sedih dan terdiam. Hem, ya pertanyaan itu—apakah murid-muridku menyayangiku—tercetus begitu saja beberapa bulan yang lalu saat aku kewalahan. Ya, kewalahan karena hampir seharian begitu susah sekali mengajar kelima muridku. Bayangkan, genap lima jari jumlah muridku tapi aku tak kuasa memberikan materi pelajaran kepada mereka. Berlari, bersembunyi, bertengkar, mogok belajar, dan setelah aku ajak bermain pun masih enggan belajar. Aku kehabisan akal. Lalu aku pun bertanya dengan sungguh-sungguh pada mereka.

                “Hayo, siapa yang sayang ibu guru?” Pancingku pada pangeran dan putri dari Negeri Ajaib.

                “Saya…saya….” berebut keempat anak akhirnya mengacungkan tangan tinggi-tinggi padaku, pertanda sayang padaku. Ya, keempat anak, meski pada awalnya hanya Nurul dan Eka yang mengacungkan jari. Akhirnya dengan malu-malu Andri dan Rohman turut mengacungkan tangan. Mereka pun mengelilingiku dan tersenyum sangat lebar. Ya, entah mereka menyayangiku secara sungguh-sungguh atau efek senang sehabis aku ajak main petak umpet. Yang jelas, keempat anak-anak itu mengacungkan tangan dan menyatakan sayang padaku. Aku pun merasa bangga. Titik! Meski bangga, tapi ada satu yang kurang. Masih ada satu anak yang tak acuh duduk di atas lemari sembari memalingkan muka padaku.

Waktu kudekati dan kutanya, “Anggoro enggak sayang ma Ibu Guru?”

“Males Kak,” jawabnya pendek, masih memegang mainannya.

Huaaaa…. Anak itu. Ampun, jual mahal amat sih ma aku? Hiks…. Jual murah aja napa? Batinku kesel hiks… Padahal buat satu anak itu, aku udah usaha mati-matian. Ekstra keras dari yang lain. Meski begitu sampai detik ini pun aku belum mendapatkan jawaban yang amat kunantikan, ungkapan cinta Anggoro hahaha.

Ingin rasanya saat itu aku berkata pada Nurul: Sudah Rul, jangan ditanya lagi. Biarkan perasaan sayang yang tulus itu tumbuh dengan sendirinya suatu waktu nanti. Biarkan perasaan sayang Anggoro ke ibu guru tumbuh tanpa tanda tanya atau tanda seru. Biarkan saja, tinggal menunggu waktu saja, karena pada akhirnya nanti Anggoro akan sayang pada ibu guru meskipun ibu guru dah enggak ngajar kalian lagi. Dan setelah Anggoro sayang ma ibu guru, ia tak akan pernah lupa pada ibu guru untuk selamanya.

Yes, emang beda tipis guru yang optimis ma guru narsis wkwkwk…. Tapi beneran deh. Aku mau bilang itu ke Nurulku tersayang. Buat salah satu muridku yang enggak berhenti bilang: Aku sayang ibu guru. Sungguh kata-kata buat Nurul yang masih terpendam dalam hatiku itu jadi penyemangatku. Penyemangat saat aku sudah kehabisan energi, sedih, dan terkadang menangis di pojok kelas saat anak-anak sudah pulang sekolah. Hem, ya sedihnya terasa sekali saat melihat jajaran kursi di kelas pojok—nama buat kelasku—kosong ditinggalkan murid-muridku. Tingkah anak-anak semakin menjadi saat aku mengajar sendiri tanpa ada guru kelas mereka: Bu Win. Hari Selasa dan hari Sabtu, jadilah dua hari itu, hari intropeksi diri luarbiasa di akhir jam pelajaran. Seringkali sambil menyapu kelas, kuhabiskan waktu barang sejenak untuk merenung. Gimana cara ngajar mereka dengan baik? Semua metode yang pernah kudapat, telah kuterapkan. Tapi, lagi-lagi belum bisa. Ya….

Anggoro Sosro Dewo, itulah nama murid ajaib yang belum bisa kurebut hatinya. Hadeuuhh…. Badannya lebih kecil dari anak yang lainnya, kulitnya hitam legam, rambutnya keriting kecil dengan binar mata yang begitu hidup. Ya, binar matanya begitu hidup dan membuatku selalu rindu untuk berjumpa dengannya. Binar matanya seakan mewakili semangat hidupnya yang membara. Suaranya lantang, pemberani, dan sikapnya amboi layaknya jagoan dalam serial film koboi hahaha…. Sering aku membayangkan Anggoroku jika telah dewasa akan jadi jagoan layaknya di film-film koboi dan pandai berkelahi. Aih, tidak! Kuusir imajinasi nylenehku itu. Anggoroku enggak akan jadi jagoan macam preman cilik lainnya yang sering kutemui di sekitar tempat tinggalnya. Ia harus jadi apapun dalam perspektif positif, cerdas, dan dihargai orang. Tidak dipandang sebelah mata seperti saat orang-orang tahu ia bagian dari anak-anak jalanan yang tinggal di wilayah kumuh.

Anggoro itu anak yang cerdas. Meski ia malas belajar, tapi sekalinya mau mendengarkan, ia bisa menguasai materi dengan baik. Mengerjakan tugas dengan cepat, hanya untuk mengganggu teman-temannya yang belum selesai, atau kabur dari kelas untuk bermain sepakbola bersama dengan anak-anak lainnya. Oh ya, Anggoro sangat semangat saat pelajaran Bahasa Inggris. Ia selalu minta jatah lebih untuk pelajaran Bahasa Inggris. Ya, meskipun gaya cas-cis-cus-ku sangat memprihatinkan tapi masih bisa diandalkan buat pelajaran anak kelas dua wkwk….

Pada awalnya saat ia dan Andri kabur dari kelas, seringkali aku keluar kelas mencarinya, mengejar mereka, dan seperti polisi akan menggenggam tangan mereka erat-erat begitu tertangkap untuk diseret menuju ruang pengadilan a.k.a kelas. Tapi itu hanya untuk beberapa bulan. Selanjutnya aku sudah belajar, tak kalah cerdas dari mereka. Jika mereka kabur aku hanya akan melongok ke luar kelas beberapa saat. Memanggil nama mereka sesaat lalu masuk lagi ke dalam kelas.

Aku sudah memegang ‘kunci’. Mereka tak akan kabur lagi jauh-jauh ke masjid, pasar, rumah Andri, atau bersembunyi di panti asuhan dekat masjid. Saat aku tak juga mencari, mereka akan mengendap-ngendap kembali ke sekolah dan memanggil namaku dari luar kelas.

“Bu Kinur…. Bu Kinur….”

Dan aku kembali meneruskan pelajaran pada ketiga muridku yang lain.

“Bu Kinur…. Bu Kinur,” seru Anggoro lagi. Saat aku memilih tak peduli, Anggoro dan Andri pun akan semakin mendekat. Mengendap-endap perlahan layaknya detektif profesional yang sedang mengintai buruannya. Sesekali berusaha melihatku dari balik kaca jendela dan berseru lagi, “Bu Kinur….” ulangnya dengan suara nyaringnya.

“Ayo Anggoro, Andri masuk. Udah mainnya ntar aja di dalam kelas.” Sahutku pura-pura cuek. Aih, melawan jagoan cilik macam kalian, ibu pun harus pandai berstrategi haha…. Masak selama 4 bulan berturut-turut, ibu harus mengejar kalian terus-terusan macam di film India. Ah, enggak seru. Ibu kan udah kurus ngejar-ngejar kalian selama ini. Bisa-bisa ibu alih profesi jadi guru olahraga dengan spesialisasi cabang atletik: lari. Oh tidak!

Kalau pun Anggoro, Andri, dan Rohman—anak baru yang dulu penurut ini sekarang mulai menunjukkan kebandelannya—kabur dari kelas aku biarkan saja. Jika sudah lelah bermain, berlari, atau main sepakbola mereka akan kembali ke kelas sendiri. Ya, meskipun baliknya selalu mendekati jam pulang, haduh please! Tapi lebih baik mereka ke kelas tanpa ada aksi film India dengan adegan berlari yang begitu dramatis. Biar tumbuh kesadaran pada diri mereka masing-masing untuk belajar bertanggungjawab masuk ke kelas. Ya, meskipun sekali lagi aku harus menyabarkan diri karena nyatanya mereka masuk, duduk manis tanpa rasa bersalah, hanya untuk mengikuti ritual akhir jam pelajaran: berdoa dan salim a.k.a pamit pulang padaku.

Jika pelajaran tak menarik hati Anggoro, dia akan mudah bosan.

Lalu dengan raut muka merayu pun, Anggoro akan berseru, “Bu, main komputer aja.”

“Ga ada komputer kalau enggak rajin belajar!” Tegasku padanya.

“Halah Bu,” raut muka merayu dengan gaya ngambek itu pun akan kembali muncul. Aih, selalu begitu. Halah Bu, yang diucapkan dengan nada menggantung, dan mata meredup kesal itu selalu membuatku tertawa. Lama-kelamaan saat dia kembali ngambek, aku pun turut berseru menirukan ucapannya.

Halah Bu, kuucapkan dengan nada yang tak kalah mendayu sambil memandang wajahnya yang disembunyikan karena malu. Lalu teman-temannya pun akan mengikuti dan tertawa bersama-sama setelahnya. Ya, rayuannya tak lagi mempan padaku.

Dulu, kalau Anggoro meminta padaku, “Bu, main game dulu. Nanti belajarnya habis game.” Aku pun meluluskannya.

Tapi hal itu tidak berlaku lagi. Jika telah terpenuhi keinginannya—bermain game—tetap saja ia tak mau bangkit dari depan komputer. Selalu menunjukkan ekspresi tak peduli biarpun kupinta ia untuk bangkit menuju kursinya. Selalu begitu. Memahami pola perilakunya yang menjengkelkan karena tak menepati janji. Kini, aku ubah peraturanku: game hanya berlaku bagi murid yang rajin belajar. Bagi murid bandel hanya diperbolehkan memandang temannya main game. Beres! Tapi segala peraturan, cara halus, maupun kasar enggak mempan buat Anggoro. Ah, ya sudahlah.

Awal-awal aku mengajar, aku sangat teoritis. Maklumlah guru baru. Fresh from the oven  ala donat yang baru diangkat dari penggorengan. Aku rajin menerapkan berbagai teori dengan amat disiplin. Memakai acara reward and punishment. Kontrak kelas yang jelas, tak luput satu butir pun kulanggar. Kalau enggak ikut pelajaran, bakal pulang telat dari jam biasanya, atau menambah jumlah PR. Perjanjian disetujui, semua manggut-manggut, aku kira akan berjalan lancar, dan merasa gembira. Nyatanya perjanjian itu tinggalah perjanjian.

Dua anak—Anggoro dan Andri—memilih pulang telat. Sepuluh menit pertama, mereka masih kompak membentuk persekutuan tak terkalahkan. Bermain sesuka hati dan tidak mempedulikan keberadaanku. Lalu lima belas menit berikutnya, si Andri mendekat padaku dengan tanda-tanda kekalahan. Mendekat dan mau belajar membaca supaya pulang cepat. Aku pun mengajarinya membaca dan melirik Anggoro yang masih bersikukuh pada pendiriannya. Tak rela, kawan karibnya belajar. Ia pun segera berubah, melancarkan strategi berikutnya supaya Andri tak mau belajar membaca. Namun upaya Anggoro yang mulai tak digubris Andri mulai membuatnya putus asa. Anggoro ikut mendekat padaku, berusaha menawar jatah tugasnya.

“Baca aja ya, Bu. Kayak Andri. Ga usah kerjain tugas….”

“Anggoro kan udah bisa baca, masak belajar baca? Udah kerjain aja 2 nomer tugas tadi. Habis itu pulang,” lanjutku memberikan posisi tawar lainnya.

“Halah Bu, yo wes nek no…. Ga usah maca sekalian. Aku ndek kene ae nganti bengi.”

“Ih sapa yang mau nemenin Anggoro di sini? Ibu kan lapar, mau pulang. Masak Anggoro enggak lapar? Ayo baca aja, habis itu pulang.”

Dan saat Andri berpamitan padaku, lalu pulang. Anggoro pun menatapnya, tak lepas-lepas. Ahay…. Ini anak mupeng juga haha…. Di terpa suasana kelas yang panas, Anggoro pun menurut. Segera belajar, ya meskipun—lagi-lagi aku mengalah—dia hanya membaca satu paragraf pendek. Selepas membaca, langsung dengan raut berseri sang jagoan berpamitan dan berlari keluar kelas. Aih…. Dan setelah menutup pintu kelas, segera aku menemui kepsek yang sedari tadi kulihat melongok ke dalam kelasku. Mungkin dipikir pak kepsek, aku sedang melakukan tindak kekerasan pada anak haha…. Ah, jangankan keras, bersuara keras pun rasanya susah buatku. Dan aku menghindari menyubit anak. Paling banter hukumannya gelitikin anak rame-rame haha…. Itu dulu waktu kesabaran utuh.

Sekarang, aih…. Sudah berubah jadi guru galak deh. Udah mulai nyubit anak meski jarang…. Ampun. Kalau anak-anak normal menolak hukuman, tapi lain dengan Anggoro. Dia justru menantangku supaya dihukum. Sering dia berulah supaya aku hukum dan menawarkan hukumannya sendiri padaku.

“Bu, aku berdiri di depan kelas aja. Kayak gini sampai pelajaran selesai. Enak enggak ikut pelajaran,” jelasnya sambil menyilang kedua tangan memegang telinga, lalu angkat satu kaki sambil menunjukkan ekspresi senang.

Kuperhatikan tingkahnya, “Enggak, enggak mau. Enak Anggoro kalau dihukum kayak gitu. Udah anak-anak ayo serbu Anggoro. Kitik-kitik sampai Anggoro mau maju ke depan kelas,” teriakku mengomando pasukan kecilku. Dan segera setelahnya Anggoro akan melakukan perlawanan, berteriak tidak mau dikitik-kitik haha…. Lalu teringatlah kembali olehku, cerita tentang Bapak Anggoro kalau marah bisa bersikap galak padanya. Oleh karenanya hukum cubitan enggak akan berlaku dengan optimal. Percuma saja. Menambah dosa. Jadi hukuman terbaik sedari dulu hanya dikitik-kitik meskipun itu tak mendidik dan berefek maksimal. Ampun.

Kalau sedang mogok belajar, Anggoro tak bisa diganggu gugat. Memaksanya belajar hanya akan berakibat fatal. Bisa-bisa disobeknya buku pelajaran. Nah, ini tingkahnya yang paling membuatku kesal. Jika itu terjadi, aku akan mendiamkannya. Aku enggak mau lagi dia menyobek buku pelajaran sebagai tanda protes. Kalau dia mau tidur, ya sudah kubiarkan tidur. Dia enggak akan betah lama-lama tidur kecuali memang ngantuk beneran—akibat main petak umpet hingga shubuh. Bangun tidur, dia akan kembali mendengarkan pelajaran meski dengan gaya cueknya. Biasanya sengaja aku keraskan suaraku bertanya pada anak-anak lainnya tentang sebuah materi. Dan seperti biasanya, ada anak yang jawab asal-asalan. Lainnya diam karena merasa tidak tahu. Lalu dengan gaya jengkelnya dia akan segera menjawab pertanyaan yang benar dengan suara lantangnya.

Meski terkesan ‘bandel’, jagoanku anak yang baik. Dia setia kawan dan suka bekerja membantu bila dibutuhkan. Dia yang terlebih dulu menjenguk temannya saat sakit. Bertengkar berkali-kali dengan Andri, membuat Andri menangis, tidak membuatnya benci atau menjauh dari Andri. Ya, namanya juga anak-anak. Bertengkar lalu baikan lagi. Tak ada yang bisa membuat Andri dan Anggoro benar-benar berpisah atau saling membenci terlalu lama. Ikatan rasa sayang di antara mereka lebih besar dari pertengkaran-pertengkaran yang mereka ciptakan.

Bersembunyi di bawah meja guru, di dalam lemari buku, di antara dinding lemari dan rak buku, di kamar mandi, atau di mana saja yang sanggup memuat tubuh kecilnya. Anggoro dan yang lainnya sangat suka dengan permainan petak umpet itu. Setiap hari, selalu membuatku mencari mereka di tempat-tempat yang telah kuhafal letaknya. Tapi tetap saja, mereka merasa hal itu mengasyikan. Mereka tetap tertawa dan pura-pura kesal ketika aku menemukan letak persembunyian. Oleh karenanya aku terkadang mengajak mereka bermain petak umpet di kelas. Meski terdengar konyol, tapi aku sering mengajak mereka bermain di dalam kelas di luar konteks apersepsi. Aku akan menawarkan pada mereka permainan apa yang mereka sukai. Entah itu jamuran, beteng-betengan, pak pos, ular tangga, dsb. Sisi positifnya aku jadi hafal lagi berbagai jenis permainan yang dulu pernah kumainkan hahaha….

Aku menikmati saat-saat bermain bersama mereka meskipun harus berkata, “Ssst…. Mainnya di dalam kelas aja ya? Jangan sampai ke luar kelas. Nanti kalau ketahuan guru lain bisa dimarahi, kita enggak bisa main lagi.” Haha…. Ampun, kupikir akulah yang takut ketahuan guru-guru lain. Tapi buat apa harus menghentikan hal-hal yang membahagiakan? Karena aku mengalami kesulitan untuk berhenti melakukan hal-hal yang membahagiakan, termasuk bermain bersama mereka. Alibiku.

Aku menikmati peran-peranku saat berpura-pura tak tahu jalan permainan. Lalu dengan lagak master maka Anggoro akan berkata, “Wah, Bu Kinur keliru. Jo ngono bu, melu aku wae.” Aku lebih suka Anggoro ceria bermain bersamaku daripada harus melihat dia mogok belajar karena harus menunggu teman-temannya yang lain. Menunggu murid-muridku mencerna pelajaran tak secepat dia.

Kadang, aku merasa takjub mendengar ceritanya saat mengamen dan menggoda polisi pamong praja yang mengusirnya. Anggoro enggak takut dengan siapapun. Ya, dia pemberani tapi terkadang perlu diarahkan. Biar keberaniannya tak merugikan dirinya sendiri. Saat aku datang membantu mereka belajar di malam hari pun kadang aku merasa terharu. Ya, selelah apapun asal tidak hujan, aku akan datang ke pemukiman mereka menggunakan sepeda ibu kos. Soalnya sehabis hujan, anak-anak lebih suka tidur daripada belajar. Saat-saat berkumpul bersama dengan mereka di malam hari sebenarnya sangat menyenangkan. Ada saja tingkah dan celetukan konyol yang keluar dari mereka.

Terkadang saat malam tiba, aku merasa takut bersepeda di jalanan Surabaya yang mengerikan. Penerangan yang minim di jalan raya membuatku semakin deg-degan apalagi beberapa kali nyaris tertabrak atau diserempet kendaraan lain. Tapi ada satu kalimat ajaib yang menyemangatiku: Kalau belum saatnya lihat Surga (PD lagi!) berarti masih bisa hidup di dunia. Kalau jatuh, sakit, bangun lagi. Sayang banget kalau enggak berangkat belajar bareng mereka. Dan lagi, sikap Anggoro lebih manis dan bersemangat belajar saat ada di rumah. Diiringi dengan musik dangdut super kencang, suara tawa menggema, juga asap rokok yang tak berhenti mengembara di udara, aku dan anak-anak belajar bersama. Selain gelap, kadang aku merasa ngeri melihat lingkungan mereka. Tapi sekali lagi, aku yakinkan diriku: aku akan baik-baik saja, ada Allah yang akan menjagaku.

Orang tua mereka juga menyambut ramah kedatanganku. Mereka akan menyapa dan menyuruh anak-anak segera berkumpul untuk belajar bersamaku. Raut-raut wajah menyeramkan itu berubah jadi begitu ramah karena aku di sana menemani anak-anak mereka belajar bersama. Ya, sampai detik ini aku terus berusaha berlaku sebisaku. Menemani mereka belajar juga mendamaikan sikap Anggoro yang ‘ajaib’. Semoga saja, doaku untuk seluruh anak-anakku dikabulkan Allah. Masa depan Anggoro dan teman-temannya akan seterang binar mata mereka yang selalu membuatku rindu. Amin.

23 Januari 2011

9:23

Note: I love you more…. more… and more Anggoro:).

Posted in diari pinguin | Tinggalkan komentar

Senja telah jatuh

Senja telah jatuh

Hati pun ikut terenggut, jatuh

Hanyut bersama aliran hujan kenangan

Muaranya terasa jauh, tak terlihat olehku

Mulai terasa olehku, lelah ketika aku

Menunggumu, hatimu, hingga mati

Atau bergegas melawan bayang kematian

Sebab detiknya terasa kian menyiksaku, sungguh!

 

Senja telah jatuh

Dan aku pun melontarkan jiwaku pada angin

Biar terbawa pergi

Jauh,

Melampaui inginku, akanmu

Biar hilang

Melayangkan rindu

Menderukan keteguhan yang terasa sia-sia

Mengabarkan rasa percaya yang terbakar ingkar janji lalu…

Yang kutahu, permainan kata-katamu

 

 

 

Dan bila senja telah jatuh, sekali lagi

Biarkan semburat merahnya mewarnaiku

Memerah hingga terasa sekali kuatnya, rasa

Sedalam kenangan yang kau tinggalkan

 

 

Jangan paksaku melupa….

Atau bantu aku tepiskan semua rasa

Biar kumiliki lagi cahayaku

Yang terbawa pergi olehmu,

Saat terakhir kali kau pinta padaku: jangan berharap padaku

 

 

Senja telah jatuh

Tak tercerai indahnya meski sesaat

Sempat kusimpan indahnya, untukku

Dan membiarkan gelapnya malam, mengambilnya dariku, sekali lagi

 

Senja telah jatuh

Dan kurasakan lagi, helaan nafasku penuh kerinduan

Rindu yang buatku menangis, deretan puisi kelamku

Helaan nafasku perlahan menciptakan melodinya sendiri

Membisu tanpa kata

Menguarkan segala sesak yang tak tersentuh

Biar membuatku memahami makna lelah menunggu

Lelah menunggu hingga tak lagi menunggu

Memahami makna sakit

Sakit hingga tak mampu merasakan sakitnya

 

 

Dan biarkan senja jatuh

Karena begitulah takdir yang diberikan kalam Ilahi…

Jatuh dan menyatu dalam gelap

Gelap…

Hingga sunyi jadi bahasa indahku

Bukan lagi mimpiku akanmu

Hanya sunyi…

Sunyi…

Antara aku dan mimpiku

Aku pun menatap sedih harapanku

Menjauh dariku, jauh

 

 

Biar kurasa kini, semuanya, kesedihan

Sedih hingga tak bersisa lagi perih

Saat mengingatmu, nanti

Karena senja tak pernah menjauh pergi, tak pernah

 

 

 

Biarpun senja telah jatuh,

Ia senantiasa ada untukku, nanti

Ketika ku telah siap memaknainya sebagai sebuah rasa

Bukan sebuah keegoisan dan memaksakannya padaku

Memaksakannya menjadi milikku

Milikku…

 

 

 

9 Januari 2012

20:35

Note: Loading, please wait…

Posted in Coretan Hati | 2 Komentar

Satu Cahaya

“Kita tak pernah terpisah, sungguh ini benar,” tuturku padanya.

“Tidak, bagaimana mungkin kita tak pernah terpisah?” gugatnya padaku dengan tatapan terkejut.

“Aku dan kamu satu. Satu untukku, satu untukmu kita masih berpegang pada tali yang sama. Seperti nama yang menjadi jodoh raga masing-masing sejak kelahiran kita. Kita adalah layar yang menyatu menaungi semesta dari awal mula tercipta. Mataharilah yang memberikan warna berbeda. Tapi itu hanya tampak permukaan saja. Kita sama. Digariskan hidup dalam pergulatan dunia yang sama. Mempunyai kewajiban yang sama, dan sedang mencari jalan pulang menurut keyakinan masing-masing. Kita sama, percayakah kamu? Ataukah kau harus menunggu langit terlipat saat kiamat baru menyadari kita satu?” Deretan kalimatnya terasa bagai angin pagi yang segera berlalu diterpa hujan. Tak lagi ingin kumengingatnya.

“Aku tak tahu, yang jelas aku terlalu enggan untuk berpikir kita satu. Terlebih lagi, jika sebenarnya kita terpisah jauh. Rasanya terlalu sulit aku memaknai keterikatan yang menyulitkan ini,” tutur malam dengan dengan nada datar.

Diamnya membuat sepi terasa semakin dingin bagiku.

“Berjalanlah terus malam, selama kita masih berpegangan pada tali yang sama, kita akan bertemu di suatu masa di mana perjumpaan adalah jawaban dari segala perpisahan. Di mana harapan dan bekal pencarian kita selama ini menjadi tumpuan hati-hati yang merasa tersingkir dan kerdil di hadapan-Nya. Dan jika tak tertaut kasih yang diharap, tak perlu merana karena kelak kita pasti kan bertemu,” lanjutku berusaha menyakinkannya.

Siang, seperti biasanya berbicara dengan wajah cerahnya. Diselimuti ribuan semangat menyala, seperti sinarnya yang tak pernah meredup. Selalu bercahaya, menyinariku, menyinari semua yang dilaluinya. Pelan sekali berusaha kumaknai semua barisan kata-kata penghibur itu. Pandanganku mengabur melihatnya. Meski sama-sama bercahaya, cahaya kami terasa saling menolak. Antara terang dan gelap. Tak jelas, hingga bayangan pohon ratusan tahun di depan kami pun tampak terasa tak tertanam dengan kokoh. Senyumnya sekali lagi melintas di depan cahayaku, manis dan terasa lekat diingatanku. Amat berbeda dengan cahayaku yang senantiasa diliputi kesedihan. Sejujurnya aku tak begitu yakin, apakah aku mampu menghapus bayangan cahayaku. Akankah jadi lebih terang karena kedatangannya. Aku tak begitu yakin, tapi kupaksakan saja demi melihat cahayanya yang telah lama kurindukan.

“Berapa lama kita tak bersua,” cetusnya sambil mempermainkan cahaya emasnya yang menawan.

“Aku tak begitu yakin, mungkin seribu senja telah berlalu sejak terakhir kita menyalakan api kehidupan.”

“Seribu senja,” desahnya mengambang sambil bergegas menjauh pergi, “Kutak ingin menanti hingga hari akhir terlipat, siang. Aku percaya kamu melebihi birunya langit yang kita saksikan tempat pertama kali kita bertemu. Tak peduli bertemu lagi atau tidak melebihi seribu senja kemarin, aku kan tetap berdiri di kaki langit, seperti sekarang.”

“Tak perlu berjanji malam, karena sudut janji yang tak terbingkai dengan takdir kan menghapus sinarku. Tak perlu berjanji dan biarlah sisi cahaya kita masing-masing kita menyatu dengan sendirinya,” tegasku pada cahayanya yang mulai menjauhiku. Dan berlalulah ia dengan cepatnya dari pandanganku tapi kuyakin ia masih mendengarku.

“Ini untukmu, cahaya kebahagiaanku. Ini untukmu, senja yang selalu kau rindukan,” gaungnya memenuhi cahayaku di tepi takdirku. Dan sesaat aku pun takjub karena hadiah indahnya padaku. Cahaya yang tak pernah kumiliki karena tersimpan dalam diamnya. Semburat merah itu sebentar saja, berkilau dengan anggunnya di balik rasa haruku. Waktu pun terasa berarti, meski selalu kuacuhkan.

“Tak perlu kau menantiku, malam. Karena kagumku jadi milikmu, sejak dulu. Sejak kulihat senja yang menawan hatiku.”

Tetes-tetes bening yang dicurahkan Sang Kuasa pun memaksaku pergi dari tempatku semula. Tempat di mana, cahayaku dan cahayanya menguji nyali. Ah, tak perlu menantiku dan tak perlu menagih janji penantianmu. Biar cahayaNnya yang satukan atau pisahkan dengan sendirinya.

5 Januari 2012

14:57

Note: Hem, akhirnya… Latihanku yang pertama di awal Januari:). Ada yang tau maksudku? wkwk. Buat lunasi janji untuk daeng penyuka biru:))

Posted in Cerpen | Tinggalkan komentar

Penjara Jiwa

Ada rindu yang membelengguku…

Rindu yang buatku menangis…

Ada rindu yang buat hatiku sesak

Rindu yang sulit kutumpahkan…

Ada rindu yang tak mau pergi….

Rindu yang tak mampu kuusir…

 

 

Ada sesuatu yang sulit kumengerti

Sesuatu yang buatku selalu bertanya

Ada sesuatu yang buatku tak tenang

Sesuatu yang membuatku gelisah

Ada sesuatu yang membuatku hilang

Sesuatu yang membuatku tak utuh

 

 

Ada rasa yang ingin kubenci

Rasa yang membuatku jadi manusia bodoh

Ada rasa yang ingin kuingkari

Rasa yang keberadaannya nyata di jiwaku

Ada rasa yang merebut irama hidupku

Rasa yang membuatku terpaku, tak berdaya

 

 

 

Rindu, sesuatu, dan rasa….

Mengapa begitu sulit kumengerti?

Kalian, memenjarakanku dengan kuatnya

Tak berdaya diri…

Tak berdaya….

 

 

Bebaskan….

Tolong beritahu cara lepaskan kalian

Atau buatku bahagia dengan adanya kalian…

 

 

Tunjukkan jalanku…

Kuatkan aku…

Tenangkan diriku

 

 

Tak terbilang waktu berlalu dariku

Aku tetap saja sama

Di sini, menanti

Biar sang waktu bosan padaku

Biar ia pergi dariku

Karena ku kan tetap sama,

Sejak hadirnya kalian

Tak sanggup pergi atau lepaskan

 

 

Kukira aku tahu jawabnya

Kutak pernah bisa lepas

Karena tak ingin melepas

Tetap saja inginkan hal yang sama

Meski tahu mustahil

 

 

Kebahagiaan itu….

Dan usahaku terhadapnya

Membuatku terpenjara

Terpenjara di jiwa

Karena tak mampu hilangkan kalian,

Rindu, sesuatu, dan rasa yang menghuni hatiku…..

 

 

1 Januari 2012

19:48

Note: Sesak sekali rasanya….. Menangis pun tak mampu buatku lega. Sungguh inginkan ia…. Ia yang tak mungkin teraih olehku….

 

 

 

Posted in Coretan Hati | Tinggalkan komentar

Janji

“Jangan mudah berharap dan memberi harapan.”

~ My Sister

Hem, ok kali ini aku mau curhat soal satu hal yang bikin aku kesel banget akhir-akhir ini. Masalahnya terkait dengan janji. Sungguh, saya kecewa!

Aku sudah bergembira dengan amat sangat. Rasanya terbang sampai ke langit (lebay!) kalau mikirin bakal ketemu ma someone. Deuh! Mempertimbangkan aku berangkat atau enggak ke Jakarta itu enggak gampang, aku penuh dengan pertimbangan. Aku merasa lebay ketika aku harus ke Jakarta, tapi dorongan hati tak mampu kutipu. Aku begitu ingin bertemu dengannya. Bayangan senyumnya, senyumku yang hadir karena senyumnya, juga kebahagiaan yang mengelilingiku akhirnya menguatkan tekadku untuk pergi ke sana. Jarak Surabaya-Jakarta rasanya hanya satu jam bagi orang yang berbahagia. Lagi-lagi aku merasa bodoh dan lebay karena begitu bergembira, aih….

Tak ada rasa lelah jika ada cinta sebagai penawarnya. Tapi jalan kebahagiaan memang berliku. Jalan ini begitu sulit kutempuh. Bayangan kebahagiaan itu pun tinggal bayangan saja. Tak jadi nyata untukku. Masji Biru, Masjid Kubah Emas, Pesantren Ustadz Yusuf Mansyur, juga TMII hanya mampir dalam anganku. Dan gamis biru yang sedianya hendak kukenakan saat aku pergi ke Masjid Biru pun tersimpan lagi di tasku. Ya ampun, aku dah berkhayal bakal mejeng di Masjid Biru pakai gamis biru kan kayaknya keren haha. Tapi sayang semua tinggal mimpi, hiks…. Emang dasar enggak boleh lebay. Ampun!

“Benda enggak bisa menebus kebahagiaan,” ini kata-kata yang kurekam darinya. Karenanya meski begitu sulit untukku pergi, kukuatkan langkahku untuk menjumpainya, senyumnya yang kurindukan. Dan sekali lagi, hanya karena kejadian bodoh—aku tidak tahu tindakan bodohnya atau sikapku—yang membuat perjumpaan ini gagal?

Aku kecewa! Begitu mudah baginya mempermainkan janji. Mengingkari janji yang ia ucapkan sendiri tanpa ada yang memaksanya. Aku kecewa! Karena janjinya itulah yang membuatku bahagia dan pengingkarannya membuatku sungguh kecewa. Aku kecewa dan mulai terkikis rasa percayaku terhadapnya. Aku tak hendak mengemis kebahagiaan lagi darinya. Merajam harga diriku sebagai manusia.

Aku kecewa dan tak hendak jadi begini. Siapa juga yang ingin menjadi diriku sekarang? Terpuruk, merasa lemah, dan diliputi kesedihan yang teramat sangat karena janji yang teringkari?

“Tahu, ngerti tapi enggak sadar?”

Ok, kalimat selanjutnya sungguh merajam diriku. Bagaimana cara mengembalikan kesadaranku yang telah lama menghilang? Bagaimana? Tolong beritahu aku biar hidupku tak mengganggu lagi kehidupanmu.

“Sebutkan alasannya, udah kuberi kesempatan ngomong, enggak ada kesempatan lagi.”

Oke, sekarang gantian. Aku enggak akan kasih kesempatan buat diriku sedih terlalu lama. Sudah cukup rasanya segala yang menyedihkan. Huh! Kesel rasanya! Sudah cukup. Aku akan ikuti pesanmu: Stabilkan diriku. Aku enggak akan mau ketemu kamu sebelum aku menemukan kembali kesadaran dan kestabilan hidupku. Aku enggak mau ketemu kamu lagi! Sudah cukup aku membodohkan diriku selama ini.

Hati-hati menaruh rasa percaya dan berjanji pada orang lain. Karena ketika rasa percaya mulai terkikis dan janji teringkari meski tanpa kesengajaan, akan berbanding lurus dengan rasa benci yang mulai hadir sebagai akibat dari rasa kecewa….

Okeeeehhh…..

Sudah cukup kecewanya. Kelak aku kan ke sana, menjelajah berbagai tempat yang membuatku bahagia bersama dengan seseorang yang menggenggam tanganku dengan penuh cinta, tanpa pernah mau melepaskanku lagi. Senyumnya, senyummu terangkai abadi dalam kebahagiaan yang tak terkira. Bunga cinta kan indah terasa bila diiringi oleh ridho Sang Illahi. Ya, hanya yang direstui takdir-Nya, yang akan menenangkan hatimu.

Khayalan labil! Tapi enggak apa-apa kan kalau khayal jalan-jalan bareng suaminya wkwk…. Ok, Kin. Jangan sedih lagi! Enggak boleh jalan-jalan kecuali bareng suamimu ntar. Jadi bersabarlah…. Sabarlah menanti yang terbaik di hidupmu. Ciptakan kebahagiaanmu sendiri. Jangan menggantungkan kebahagiaanmu pada orang lain.

Ingat pesan ibu, “Yen ora trisno awakmu bakal marai soro uripmu.” Makjlep-jlep deh, pesannya ibu. Hiksss…. Sedih :( .

29 Desember 2011

4:04

Note: menghabiskan pagiku untuk curhat. Ah ya, udahlah Kin. Enggak boleh sedih lagi…. Kamu pasti bisa hidup bahagia!!

Posted in diari pinguin | Tinggalkan komentar

Tak Cukup Rindu

Tak cukup rindu tuk menjumpaimu

Rinduku, yang tak mungkin kau rasa

Tak cukup rindu tuk membahagiakanmu

Rinduku, yang tak mungkin luluhkan hatimu

 

Tak cukup rindu

Biar waktu yang mengikis rindu

Hingga hilang semua yang kurasa

Biar kubermanja pada angin yang berhembus di sekelilingku

Cukup angin saja yang bawakan bahagiaku

 

 

Tak cukup rindu

Hingga ingin kuhentikan waktu tuk menjumpaimu segera

Karena hati tak kuasa menahan rindu

Namun langkahku tertahan karena kutahu

Hadirku takkan buatmu tersenyum

 

 

Tak cukup rindu

Hingga ingin kuterbangkan rindu

Biar ia pergi pada yang benar-benar merinduku

Karena telah lelah kumerindu pada ia yang tiada merinduku…

Lelah namun tetap saja kumerindu

Padamu, di tiap waktuku…

 

Posted in Coretan Hati | Tinggalkan komentar

Jiwa Kasih

Perih masih terasa di kaki dan tangan kanannya ketika Rifaldo atau yang akrab dipanggil Aldo siuman dari pingsannya. Kaki dan tangan kanannya telah terbalut perban dengan noda darah yang masih tersembul di sela-sela perban. Pening dan lemas, itu yang dirasakan Aldo. Sejenak ia masih merasa asing dengan ruangan di mana ia berada sekarang. Secara perlahan, Aldo berusaha mengingat kejadian yang menimpanya tadi.

Semalam, Aldo dan beberapa kawan akrabnya baru saja bertemu di sebuah café elit di kawasan Jakarta Pusat. Café tersebut adalah tempat tongkrongan Aldo dan kawan akrabnya jika mengadakan acara ‘pesta’ bersama. Acara yang sering mereka gelar hingga larut malam. Belum sampai 30 menit Aldo dan kawannya bertemu, tiba-tiba terdengar sebuah ledakan keras di pintu café. Belum lagi sempat menyadari apa yang terjadi, Aldo sudah terkapar tak sadarkan diri karena tak sempat berlari. Ternyata ada ledakan bom cukup dahsyat di café tersebut. Perih yang dirasakannya semakin parah, tatkala Aldo mengingat kembali pertengkarannya dengan laki-laki yang dipanggilnya abah sejak kecil, ayah kandungnya.

“Kerjaan lu bagus benar ya, Do? Tiap malam keluyuran, kagak pernah di rumah, kagak mau sholat. Mau jadi apa, lu? Anak durhaka, hah?” tuding abahnya kalap, ketika ia tak acuh melewati abahnya ketika hendak ke luar rumah.

“Mau ngapain juga itu urusan Aldo, Bah. Abah enggak berhak lagi ikut campur urusan Aldo. Seenggaknya Aldo lebih berguna daripada si Rozak, anak kesayangan Abah yang pengangguran itu. Aldo dah kerja, sukses. Kagak pernah ngerepotin Abah lagi.”

“Oh gitu ye? Bagus bener sikap lu ma Abah, Do? Udah belagu sekarang. Mentang-mentang udah kerja, kagak mau hormat, kagak punya sopan santun ma Abah lagi? Abah enggak butuh gaya belagu lu yang sekarang. Sukses dunia sah-sah aje, Do. Buat apa lu sukses di dunia kalo lu kagak pernah sholat? Udah lupa lu ma ajaran Abah dari lu kecil? Di kemanain otak lu, Do?” emosi Abahnya semakin tak terkendali melihat sikap tak peduli yang ditunjukin Aldo, manajer marketing di salah satu perusahaan telekomunikasi di Jakarta.

“Kalau Abah bisa ngembaliin Mama lagi, bisa jagain Mama bener-bener, kagak kelayapan ke luar rumah mulu tiap hari buat main perempuan, Mama bakal masih hidup sekarang, Bah! Kalau Abah bisa kembaliin Mama sekarang, Aldo bakal sholat lagi, kagak jadi atheis kayak sekarang. Mana Tuhan yang Abah sembah tiap hari waktu Mama disiksa ma gerombolan manusia laknat itu, Bah? Mana? Tunjukin ke Aldo sekarang, biar Aldo sholat lagi!” Teriak Aldo tak kalah kalap dengan mata berkilat-kilat marah seakan ingin membunuh abahnya. Dia begitu membenci abah yang dianggap bertanggungjawab atas kematian Mamanya.

Astagfirullah hal hadzim, nyebut-nyebut, Do. Lu masih aja kagak terima Mama lu meninggal? Itu kejadian dah lama, Do. Abah ngaku kilap, saat ntu Abah malah pergi ikut demo, kagak jagain Mama lu pas kerusuhan,” tutur abahnya dengan volume suara menurun dengan mata menyiratkan kesedihan, “Gimana pun, Abah sayang ma Mama lu, kagak mungkin Abah pergi kalau ada kejadian buruk yang bakal nimpa Cici,” jelas abah menyebut nama kesayangan istrinya, Cici alias Lianzi sambil menatap Aldo tajam, mencoba menyakinkan.

“Ah, omong kosong! Aldo gak percaya,” teriak Aldo semakin tak terkendali sambil membanting pintu rumah keras, meninggalkan abahnya sendirian yang terdiam karena diliputi rasa bersalah yang terus menghantuinya.

Jika mengingat tragedi kerusuhan Mei’98, Aldo menjadi penuh amarah. Peristiwa itu benar-benar memukulnya. Di depannya sendiri, mamanya di seret keluar beranda rumah hanya karena wajahnya ber-etnis Tionghoa. Mamanya dianiaya, jadi korban segerombol tak dikenal yang menyebabkan mamanya kritis hingga nyawanya tak bisa diselamatkan.

“Abang, udah siuman ya? Gimana, apanya yang masih sakit, Bang?” Tanya Fatimah, adik Aldo di samping ranjang rumah sakit.

“Gue ada di mane sekarang, Fat?” lanjut Aldo sambil meraba luka di tangan kanannya.

“Lu sekarang ada di RSCM bang, Fat tahu abang di sini karena tadi ada perawat nelpon ke rumah setelah tahu KTP abang. Dedi kena ledakan bom parah, Bang. Sekarang Dedi lagi dioperasi, terus si Shinta koma.

“Bom?”

“Iya Bang, tempat lu pesta sekarang udah hancur berantakan kena bom,” jelas Fatimah.

Hem…. Aldo bergidik miris mendengar berita kedua kawan karibnya tersebut. Mereka teman ‘pesta’ Aldo, pasangan kekasih anak pejabat elit di pemerintahan.

*****

            “Mama, kok Abah ma Mama ibadahnya kepisah, sih? Abah sholat di Masjid Istiqlal, sekarang Mama berdoa di Gereja Katedral,” Tanya Aldo lugu saat berumur 10 tahun di suatu Minggu saat Abah dan Mamanya mengajak ia pergi berjalan-jalan sambil beribadah.

“Aldo sayang, Mama ma Abah emang beda cara ibadahnya. Tapi niatnya sama, ingin ibadah, berterimakasih ma Tuhan. Kalau ntar Aldo dah gede, Aldo pasti ngerti. Aldo boleh sholat bareng Abah atau ibadah di Gereja bareng Mama,” ucap mamanya disertai senyum yang begitu cantik hingga menampakkan kedua lesung pipitnya di wajah putihnya.

“Mama bohong, tiap Aldo pingin ikut Mama ke Gereja, Abah selalu marahin Aldo. Abah enggak ngebolehin Aldo ikut Mama. Selalu disuruh belajar ngaji di Masjid depan rumah tiap habis maghrib,” protes Aldo sambil manyun.

Cici pun tersenyum, sambil berusaha memikirkan jawaban terbaik bagi anak pertama yang dicintainya. Dulu sebelum menikah, suaminya Rojali pernah berjanji kepadanya akan memberikan kebebasan beragama bagi mereka dan anak-anak mereka kelak. Tapi janji tinggal janji, semua anak diwajibkan ikut agama suaminya. Hanya kepada Cici, Rojali tak berani memaksa untuk mengikuti keyakinannya karena besarnya rasa cinta pada istrinya tersebut.

“Aldo sayang, meski sekarang masih bingung ma sikap Abah. Percaya aja satu hal, Abah dan Mama sayang Aldo. Apapun agama yang dipilih Aldo nanti kalau sudah besar, Mama pasti dukung Aldo. Karena Tuhan itu ada di setiap hati yang percaya pada kasih.”

“Do, elu kemana aje? Dari tadi Abah cari. Ayo sekarang ke Masjid Istiqlal lagi. Abah mau ceritain tu mesjid kebanggaan Abah, bahkan kebanggan kite rakyat Indonesia. Kalau udah gede, Abah doain kamu bisa jadi imam Masjid Istiqlal. Belajar ngaji lu bener-bener ye, nurut jadi anak. Ini mesjid Do, bisa nampung seratus ribu orang, lu bisa bayangin kagak? Kalau sekarang masih bingung, ntar kalau lu dah gede juga ngerti sendiri. Ini mesjid mbangunnye aje ye, itu sampai 17 tahun. Nama Istiqlal itu artinye merdeka, Do, buat nunjukin rasa syukut kite sebagai bangsa karena telah merdeka dari penjajahan. Alhamdulillah .…” jelas abahnya memberitahu tanpa melihat pandangan bosan Aldo mendengar ceramahnya.

“Abah, mesjid ini dibuat ma orang Kristen kan?” tanya Aldo teringat dengan buku yang pernah dia baca tentang sejarah pembangunan mesjid Istiqlal. Mendapat pertanyaan yang tiba-tiba dari anak pertamanya tersebut, Rozali langsung terhenyak. Dia memutar kembali memori pengetahuan masjid Istiqlal.

“Iye, arsitekteknya orang Kristen, kalo kagak salah namanye Frederich Silaban. Dia menangin sayembara yang waktu itu diadakan oleh Bung Karno. Tema rancangan arsitekturnya adalah Ketuhanan.” Terang abah Aldo singkat./

Di sisi lain, Aldo lebih menyukai bangunan Gereja Katedral tempat mamanya berdoa tadi. Lebih indah dan megah, seperti istana raja dalam film kesayangannya. Aldo selalu terpikat pada tiga menara Gereja Kathedral dan lonceng besarnya. Menurut buku sejarah yang ia baca, arsitektur gereja Katedral mengikuti arsitektur gereja-gereja neo-gotik Eropa. Tiga menara itu adalah menara Benteng Daud, Menara Gading, dan Menara Angelus Dei. Menara-menara ini dibuat dari besi. Bagian bawah menara didatangkan dari Belanda dan bagian atas dibuat di bengkel Willhelminia, Batavia.

Semasa kecil, mamanya juga sering mengajak Aldo berjalan-jalan menikmati keindahan Kota Tua, Monas, dan berbagai museum bersejarah lainnya. Dan hobi berjalan-jalan menikmati Jakarta itu pun terus melekat hingga Aldo dewasa. Hal ini juga yang jadi alasan penting mengapa ia lebih memilih jurusan Sejarah UI sebagai tempat ia menimba ilmu hingga lulus S2. Semua karena rasa cintanya yang teramat besar pada kenangan masa kecil bersama mamanya.

*****

            “Di mana tu si Rozak, Fat?” Tanya Aldo gusar, begitu ia sampai di rumah sekeluarnya dari RSCM.

“Paling juga ada di Masjid depan, Bang. Ada ape lagi? Jangan ribut-ribut ma Rozak, lu kan habis keluar dari rumah sakit, Bang,” ujar Fatimah menasehati abangnya.

“Halah, ngerti apa lu? Gue mau nanya tu anak, kelakuannya wajib dicurigai. Jangan-jangan dia ikutan ngebom café? Tu anak kan ikut organisasi Islam radikal, Fat,” tuduh Aldo.

“Gue kagak ikutan ngebom café kemarin, Bang,” jawab Rozak yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ruang tamu. Rupanya ia tadi mendengar percakapan kedua kakaknya tersebut, “Gue masih punya iman, Bang. Kagak mungkin gue tega nyakitin orang lain pake bom segala,” tambah Rozak dengan wajah sedih karena dicurigai abangnya ikut ngebom café. Rozak pemuda berbadan kurus, sorot mata teduh, adalah santri lulusan madrasah di salah satu pesantren di Jawa Tengah.

“Halah, ngaku aja deh lu. Lu enggak usah bohong lagi ma gue. Iman apaan? Lu nyembah siapa, Zak? Ga ada yang namanya Tuhan. Tuhan itu cuma dipercaya ma orang-orang bego kayak lu yang takut mati. Bego banget sih, lu? Maunya dibego-begoin ma yang namanya pahala ma dosa, ha?” hardik Aldo penuh kemarahan.

Astagfirullah hal adzim, Bang. Ke mana tu ajaran agama yang Abang pelajari selama ini? Allah itu ada. Selalu melihat dan mengawasi kita,” bantah Rozak dengan perasaan kecewa. Di antara tiga bersaudara yang didik secara Islam, hanya Rozak yang akhirnya memeluk Islam secara kuat. Sedangkan Aldo karena kecewa dengan kematian ibunya, memilih atheis, dan Fatimah lebih memilih mengikuti keyakinan ibunya sebagai pemeluk Katolik yang taat.

“Lu kenapa sih, Bang? Pulang dari rumah sakit malah ngajak berantem adiknya? Gue yakin bang, Rozak kagak mungkin ikut aksi brutal pake acara ngebom segale. Lu kan abangnya, mustinya lu paham gimana sifat adiknya sendiri. Kagak main tuduh sembarangan kayak gini,” bela Fatimah yang sangat menyayangi adiknya. Wanita berperawakan tinggi, berkulit putih, raut muka Cina mengikuti ibunya ini adalah lulusan S2 salah satu universitas di Australia.

“Emang lu kira, gue enggak sayang ma Rozak? Gue sayang kalian berdua, denger enggak? Gue enggak mau kalian salah kaprah, jadi orang-orang bego yang mau-maunya jadi budak agama!” Kilah Aldo tak mau kalah mendebat Fatimah. “Lu juga Fat, jangan keseringan ikut demo-demo mimpin LSM nyindir pemerintah. Bahaye Fat, lu kagak tahu apa yang bisa mereka lakuin buat bikin lu-lu pade diem, biar enggak demo mulu!”

“Iye, Fat ngerti Bang. Tapi abang perlu ngerti juga, Fat demo bukan buat diri sendiri. Tapi buat bela hak-hak kaum yang tertindas. Kita dididik Abah bukan buat jadi pengecut yang sembunyi nyelametin nyawanya karena takut diancam. Kalau Mama masih ada, pasti dukung Fat sekarang. Kagak kayak abang yang kerjanya marah-marah mulu,” dengus Fatimah kesal.

“Lu pade ye, kalau dibilang cuma bisa bantah aje. Terserah lu pade deh. Gue enggak ada urusan ma kalian lagi, kalau kalian kenape-nape ntar,” teriak Aldo marah, merasa perhatiannya diabaikan oleh kedua adiknya.

“Moga Allah kasih hidayah buat Abang ye, Fat?” tutur Rozak tulus.

“Amin, moga Tuhan Yesus selalu menumbuhkan kasih di hati Abang, Zak,” imbuh Fatimah.

*****

            “Bang, Fatimah mati. Tubuhnya ditemuin di dalam mobil, dia mati ditembak orang,” serbu Rozak pada Aldo.

“Heh lu, pagi-pagi jangan ngaco! Maksud lu apa bilang kayak gitu? Lu nyumpehin sodara lu sendiri?” jawab Aldo marah.

“Enggak Bang, gue kagak bohong. Gue baru dapat berita dari rumah sakit. Kita disuruh ke sana sekarang buat ngecek jasad Fatimah,” tukas Rozak yang tak mampu menyembunyikan emosinya lagi. Airmatanya tumpah mengingat nasib tragis yang dialami kakak perempuannya. Meski berbeda keyakinan, selama ini Rozak memang lebih dekat dengan Fatimah yang mampu menjadi kakak sekaligus mama baginya sejak kematian mamanya.

“Siapa yang berani bunuh Fatimah, Zak? Jawab! Biar gue yang bikin perhitungan!”

“Kagak tahu Bang, udah yang penting sekarang kita ke rumah sakit dulu,” tukas Rozak.

*****

            Sinar matahari sudah mencapai ubun-ubun ketika Aldo keluar dari penjara. Panasnya tak mampu menghalangi Aldo untuk terus melangkah, menuju jalan pulang ke rumah. Setelah kematian adiknya, Aldo menyelidiki siapa pembunuhnya. Dan setelah ia tahu bahwa pembunuhnya adalah sahabat sendiri, ia semakin kalap. Sahabatnya merasa gerak-gerik Fatimah membahayakan kedudukannya di pemerintahan. Fatimah sudah berani mengancam akan melaporkan berbagai kecurangan yang ia lakukan sehingga tak ada jalan lain baginya kecuali membunuh Fatimah, meski ia adik sahabatnya sendiri. Semuanya halal demi kelangsungan kedudukan dan kesejahteraannya.

Dan begitu mengetahui hal ini, Aldo langsung balas dendam. Ganti membunuh sahabatnya dengan cara yang lebih sadis. Setelah membunuh, ia segera menyerahkan dirinya ke polisi dan mengakui semua perbuatannya. Selama menjalani hukuman penjara selama tujuh tahun, Aldo telah banyak berubah. Ia kembali menemukan hidayah Allah dan mempelajari agama Islam. Ia telah menyesali segala perbuatannya. Kini ia benar-benar menjadi sosok yang berbeda, bukan lagi Aldo yang cuek dan tak percaya Tuhan seperti sebelumnya.

“Assalamu’alaykum Bah, Zak,” salam Aldo di depan beranda rumahnya.

“Wa’alaykum  salam, ne beneran lu, Do?” ucap Abahnya tak percaya melihat penampilan Aldo yang terlihat lebih santun dan ramah.

“Iya Bah, ne Aldo. Maafin Aldo ya Bah, maafin kelakuan jahat Aldo selama ini. Aldo dah tobat, Bah. Aldo pingin nebus dosa-dosa Aldo selama ini,” ucap Aldo sungguh-sungguh sambil memeluk erat abahnya.

“Iya, Do. Sama-sama. Maafin Abah juga selama ini dah banyak salah.”

“Alhamdulillah, akhirnya Allah kasih hidayah ke Abang,” imbuh Rozak penuh kelegaan. Selama tiga tahun terakhir, Aldo menolak untuk dikunjungi oleh siapapun. Oleh karena itu, selama ini Rozak tidak mengetahui apa yang terjadi pada abangnya, meski ia senantiasa terus mendoakannya.

Sekembalinya dari penjara, Aldo lebih giat melakukan kegiatan sosial untuk kaum marjinal. Aldo membuka sebuah yayasan yang bergerak di bidang kemanusiaan dan menyebarkan nilai-nilai toleransi antar umat beragama. Karena jasanya dalam bidang sosial tersebut, maka pemerintah mengangkatnya menjadi duta kemanusiaan di Indonesia.

Penulis : Caesar Angga A. & Nur Najma

Posted in Cerpen | Tinggalkan komentar

Kuliah di Antar Sedekah

Hari menjelang siang ketika Angga sampai di Masjid Ukhuwah Islamiyah yang menjadi tempat beribadah mahasiswa muslim di Universitas Indonesia. Sosok pemuda jawa yang dengan mimik wajah serius tersebut tengah mengedarkan pandangannya ke sekeliling masjid. Musim kemarau di bulan April belum berlalu, masih menyisakan hawa panas yang senantiasa membuat orang-orang merasa haus. Segera saja ia bergegas memasuki gerbang dan duduk di sisi kiri pelataran masjid. Belum masuk waktu Dhuhur, jadi ia bisa melepas lelah di pelataran sambil berharap ada angin menyapa yang mampu mengurangi hawa panas di sekitarnya. Ini adalah kali ketiga ia datang ke Masjid UI. Tekadnya untuk menjadi mahasiswa UI menjadi pelecut semangatnya untuk mencari berbagai informasi mengenai fakultas, cara pendaftaran, SPMB, dsb. Ribet dan melelahkan, tapi tak di hiraukannya. Ia tetap berjalan menuju impiannya, memakai jaket kuning dari kampus ternama di Indonesia tersebut.

            Beberapa saat kemudian terdengar bunyi adzan dari dalam masjid. Segera ia bangkit dan mengambil wudhu. Setelah Shalat Dhuhur tiba-tiba ada hawa sejuk yang ia rasakan. Hawa sejuk tersebut tak berasal dari angin yang diharapkannya datang sedari tadi. Namun terasa melalui sudut hatinya yang menular ke semua sisi raganya. Sejenak pemuda berkemeja biru tersebut terhanyut dalam nuansa khusyuk doa yang dipanjatkannya.

            “Ya Rabb, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatunya, berilah hamba kekuatan serta kesempatan agar mampu membahagiakan ibu melalui keberhasilanku masuk UI. Berilah hamba kemudahan dan kelancaran dalam mengikuti SPMB kali ini. Amin.” Sepenggal doa yang terucap lirih tersebut terasa mengguncang jiwanya. Ia sungguh berharap bisa lulus SPMB, setelah tahun sebelumnya mengalami kegagalan. Setelah merasa cukup bermunajat kepada Allah, Angga tak lupa bersedekah di masjid sambil berdoa semoga sedekahnya mampu melancarkan niatnya kuliah di UI.

            Kali ini Angga mempersiapkan diri jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Setiap hari ia tekun mempelajari berbagai soal SPMB tanpa kenal lelah di sela-sela kuliahnya di Universitas Komputer Indonesia. Selain persiapan dari sisi keilmuan, Angga juga mempersiapkan sisi ruhiyahnya. Rutinitas ibadah hariannya ditambah, tak hanya sekedar melaksanakan shalat wajib lima waktu, tapi juga berbagai ibadah sunnah. Shalat Dhuha, Shalat Tahajud, Shalat Hajat, memperbanyak tilawah, juga tak ketinggalan sedekah. Semua usaha dilakukan dengan maksimal. Tak boleh ada kegagalan lagi, tekadnya.

            Setelah Shalat Dhuhur, Angga kembali menyusuri Fakultas Ekonomi, UI. Pokoknya harus bisa masuk manajemen, deh! Tekadnya dalam hati. Demi sebuah cita-cita jadi pengusaha nomer satu di Indonesia. Ya, mimpi harus besar. Rasanya tak salah kalau bermimpi menjadi pengusaha nomer satu. Kalau cita-citanya kecil itu bukan impian namanya. Sekali lagi Angga berusaha mengedarkan pandangannya ke segala sisi gedung sembari merasakan aura pencarian ilmu yang nanti akan dirasakannya.

            “Eh…. Kamu Angga bukan?” ujar seorang pemuda dengan rambut ikal

            “Iya, kamu Rizky, kan?” seru Angga tak kalah kagetnya.

            “Iya, aku Rizky. Temen SMP-mu dulu. Ngapain kamu di sini? Kuliah di sini juga?”

            “Doain aja, ini aku mau ikutan SPMB lagi tahun ini. Tahun 2004 kemarin aku gagal masuk UI. Sekarang aku kuliah di Bandung, di Universitas Komputer Bandung.”

            “Ambil apa di sana?”

            “Hubungan Internasional. Wah, enggak nyangka ya, udah berapa tahun kita enggak ketemu. Makin gaul aja ini penampilanmu?”

            “Alah…. Biasa aja kok. Eh ayo main ke kosku. Kamu ke sini ada urusan apa? Udahselesai belum? Kalau udah ke kosku aja, kita cerita-cerita gih. Dah lama enggak ketemu. Ntar aku traktir Soto kesukaanmu, Ang, haha….”

            “Iya-iya…. Bentar mau catat info pendaftaran nih, kemarin aku lupa. Cuma catat jurusan manajemen aja, sastra Jermannya belum.”

            “Mau masuk Fakultas Ilmu Budaya juga? Sama, aku masuk sastra Inggris. Ya udah, kita jalan bareng ke sana, habis itu langsung ke kosku.”

            “Sipp bro….” jawab Angga tak kalah girang bertemu dengan sahabat lama.

***

Tak terasa waktu cepat berlalu. Dua bulan sudah sejak pertemuannya dengan Rizky, Angga banyak mendapatkan bantuan mengenai info pendaftaran, SPMB, dsb. Angga juga sudahsurvey lokasi kos di sekitar kampus. Selama dua bulan itu, Angga bolak-balik Jakarta-Bandung untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Tiap shalat di Masjid UI pun, ia tak pernah absen bersedekah. Hal ini ia lakukan agar Allah mempermudah jalannya menjadi mahasiswa UI.

Ia yakin, kali ini usahanya akan berhasil. Waktu ujian SPMB tinggal beberapa hari lagi. Suhu udara Kota Bandung masih dingin meski hampir memasuki musim kemarau. Namun tak menyurutkan niat pemuda berumur 19 tahun tersebut untuk duduk di halaman kos. Ia tidak begitu terganggu dengan cuaca dingin di sekitarnya. Ia telah akrab dengan hawa dingin semenjak sekolah di Malang.

            “Waduh…. Pagi-pagi udah belajar aja, nih,” tegur Ilham dari arah samping pintu kos.

            “Iya dong…. SPMB dua hari lagi, nih. Doain ya.”

            “Jadi mau masuk UI?”

            “Insya Allah, doain aja biar masuk, Ham.”

            “Ok, sip…sip!”

            Sepeninggal Ilham, Angga kembali meneruskan belajar dan mempersiapkan ranselnya. Esoknya ia akan pergi ke Jakarta dan menginap di kos Rizky. Rencananya malam ujian SPMB ia sudah berada di Jakarta. Dengan begitu ia bisa beristirahat dengan tenang dan tidak lelah ketika ujian SPMB.

Pagi-pagi ia sudah sampai di Stasiun Bandung. Keretanya akan berangkat jam setengah tujuh pagi. Ia segera berdiri di samping rel menunggu kereta api jurusan Argo Parahyangan datang. Suasana Stasiun Bandung sudah ramai meski hari masih pagi. Jadwal liburan di Bulan Juni semakin memadatkan arus penumpang yang sebelumnya memang sudah ramai. Beruntung pagi ini tidak terlalu ramai. Jadi ia lebih bisa leluasa bergerak. Beberapa menit kemudian nampak kereta yang ia tunggu datang. Segera saja ia masuk dan mencari kursinya. Setelah menempuh perjalanan selama dua setengah jam, ia tiba di Stasiun Gambir, Jakarta. Ia pun melanjutkan dengan naik KRL menuju Stasiun UI.

Sebelum menuju kos Rizky, Angga kembali menuju Masjid UI untuk Shalat Dhuha. Penat yang ia rasa selama perjalanan terasa berkurang. Saat ia duduk di halaman masjid, ia melihat pemuda seumuran dengan dirinya sedang mengeluarkan seluruh isi tasnya di lantai masjid. Tampaknya pemuda itu sedang berusaha keras mencari sesuatu. Mendadak Angga merasa bahwa pemuda itu membutuhkan bantuannya. Segera saja ia mendekati pemuda berkulit sawo matang tersebut.

“Assalamu’alaykum Mas,” sapa ramah Angga

“Wa’alaykum salam Mas,” jawab si pemuda kikuk.

“Ada yang bisa saya bantu, kok dari tadi kelihatannya lagi bingung?”

“Iya mas, ini saya cari dompet saya. Dari tadi saya cari di tas enggak ada, padahal kayaknya pas di angkot tadi masih ada. Saya taruh di depan tas habis bayar angkot. Duh, padahal seluruh uang saya ada di situ. Saya di sini enggak ada saudara atau kenalan. Mau ikut SPMB besok, Mas.”

Lah, emang nginepnya di mana? Mungkin tadi ada yang nyopet dompetnya di angkot.”

“Niatnya sih mau tidur di Masjid, Mas. Iya mas, mungkin saja begitu, ceroboh banget saya simpan di depan tas,” jawab pemuda tersebut lemas.

“Oh gitu, ya udah, Mas. Ikut saya ke kos teman saja. Saya juga ikut SPMB besok, mengenai uang mas yang hilang nanti saya pinjami dulu. Tenang aja, enggak usah bingung balikinnya. Yang penting Mas bisa makan dan pulang ke rumah habis ujian.”

“Benar Mas? Kok mau nolong saya? Makasih banyak ya, Mas,” ujar pemuda itu senang.

“Iya, Insya Allah Mas. Saya percaya Mas benar-benar membutuhkan bantuan. Sudah kewajiban bagi sesama muslim untuk saling membantu. Oh ya perkenalkan nama saya Angga. Kartu ujian SPMB-nya gimana? Enggak hilang kan?”

“Saya Aji mas dari Solo. Alhamdulillah kartu ujian masih ada di map, Mas.”

“Ok, ayo ke kos teman saya, dia pasti enggak keberatan menerima Mas di Kosnya.”

“Iya Mas, makasih banyak,” ucap Aji disertai senyum sumringah. Sekarang raut wajahnya terlihat lebih cerah daripada tadi. Segera saja Angga dan Aji berangkat menuju kos Rizky yang letaknya tak jauh dari kampus UI.

***

Suasana pagi di kampus UI sudah ramai. Ribuan calon mahasiswa baru sedang menguji kemampuan mereka. Segala yang mereka pelajari selama bertahun-tahun akan ditentukan selama dua hari ini. Bergegas Angga dan Aji menuju ruangan ujian masing-masing. Rupanya ruang ujian Angga dan Aji bersebelahan. Selama dua hari itu Aji menginap di kos Rizky bersama Angga. Untungnya kamar kos Rizky lumayan besar sehingga mampu menampung mereka bertiga. Rizky pun tak keberatan menolong Aji. Selama dua hari, Angga dan Rizky membantu segala keperluan Aji. Angga pun menepati janji untuk membiayai tiket kepulangan Aji ke Solo. Ia ikhlas membantu Aji dan hanya mengharapkan balasan dari Allah swt. Ujian pun berlangsung dengan lancar meski ia agak kesulitan dalam beberapa soal matematika. Yang jelas ia sudah berusaha maksimal. Segala keputusan ia serahkan pada Allah swt.

***

Setelah mengikuti ujian SPMB, Angga masih merasa was-was. Meskipun ia sudah menyerahkan segalanya pada Allah, tak pelak ia juga penasaran dengan hasil akhirnya. Saat yang dinanti-nanti pun akhirnya tiba, hari pengumuman SPMB. Pagi-pagi sekali ia sudah keluar kos untuk membeli Koran yang memuat pengumuman SPMB. Hawa dingin Kota Bandung pagi itu menusuk hingga ke tulang. Ia kembali merapatkan jaket biru tebalnya. Ah, yang membuat kisruh pagi ini bukanlah hawa dingin yang ia rasakan, tapi pengumuman SPMB.

“Mang, beli koran yang ini,” ujar Angga sambil mengambil sebuah koran nasional sambil menyerahkan selembar uang lima ribuan.

Ieu angsulanan, nuhun.”

Langsung saja Angga membuka halaman pengumuman SPMB dan menelusuri nomer ujian yang telah di hafalnya di luar kepala. Ia begitu hati-hati namun cepat menelusur daftar mahasiswa baru yang diterima di UI. Setelah menelusur deret nomer ujian yang begitu panjang akhirnya ia menemukan nomernya, alhamdulillah.

Ia langsung mengucap syukur sambil tak henti-hentinya tersenyum. Akhirnya Angga menjadi mahasiswa UI meskipun bukan di pilihan utamanya, Manajemen UI. Angga diterima di pilihan kedua, sastra Jerman. Meskipun begitu tak berkurang syukur yang ia rasakan. Segera saja ia menghubungi ibu yang disayanginya dan mengabarkan berita bahagia itu. Sejak saat itu Angga tak pernah lupa untuk terus bersyukur dengan bersedekah di saat lapang maupun susah. Ia percaya Allah yang telah memberikan kemudahan padanya selama ini semenjak ia rutin membiasakan sedekah.

Posted in Cerpen | Tagged , | 2 Komentar

Refleksi Setahun Pasca Jogja

Tak sengaja aku ingat hari ini, 12 Desember 2011 genap setahun aku hijrah dari Jogja. Penuh harapan dan semangat aku melangkahkan kaki menuju Bogor. Berbekal segenggam mimpi menjadi seorang guru, aku berangkat tanpa keraguan sedikit pun. Aku sedang belajar mengambil keputusan terhadap kehidupanku. Belajar bertanggungjawab dan merancang keindahan masa depan sesuai dengan impianku selama ini, menjadi guru. Aku yakin inilah jawaban doaku selama ini. Kubuka hati dengan seluas-luasnya untuk menerima rangkaian cerita baru di hariku selanjutnya. Dan inilah kisah yang telah menawan hatiku selama setahun terakhir.

            Shubuh belum lagi pergi, dan aku telah sampai di pintu gerbang LPI Dompet Dhuafa Bogor. Minggu 12 Desember 2010, menjadi hari bersejarah bagiku. Aku telah dekat dengan tempatku mewujudkan mimpi, Asrama SGEI. Kala itu, paviliun masih sepi. Belum tampak siapapun yang menyambutku pagi itu. Paviliun masih kosong, dan tinggalah aku sendiri menatap hijaunya lingkungan LPI diiringi suara murottal. Damai terasa di hati dan kuyakin aku tak salah pilih, ini sungguh jawaban Allah atas doaku selama ini. Telah dibawanya diriku menuju tempat yang kan merubahku menjadi manusia yang lebih baik. Kudengar, kulihat, dan kurasakan dengan segenap jiwa semua yang mengelilingiku saat itu. Ya, aku bahagia dan merasa damai.

            Kujelajah kota asing itu sendirian saat fajar datang setelah membersihkan paviliun sendirian. Kuhabiskan siangku dalam perenungan akan masa depanku. Dan kutemui dua sahabat pertamaku saat makan malam tiba: Eko dan Syafii. Dengan rasa kikuk yang melekat, kuberusaha menyamankan diri di antara ratusan anak lelaki siswa SMART Ekselensia saat makan malam. Ya, jadi satu-satunya cewek saat makan malam di Mess Hall sungguh membuatku canggung. Dan berakhirlah malam itu dengan tidurku di antara kamar-kamar kosong yang belum berpenghuni.

            Senin pagi, tiba-tiba ada seorang kawan lain datang. Perempuan, namanya Dewi Nurul Maliki dari Jogja, demikian ucapnya singkat mengawali perkenalan kami. Dan dia pun langsung tertidur setelah berucap tak sempat tidur selama perjalanan. Ya, dan sejam kemudian kami bergegas menuju aula yang terletak di bawah masjid untuk mengikuti psikotest. Kuselesaikan psikotest hari itu dengan suasana dingin yang belum akrab denganku. Dinginnya Kota Bogor nyatanya belum mampu mendinginkan raga manusia yang menghuni kota hujan, masih saja terpasang AC dengan suhu yang mampu membuatku flu selama tes berlangsung.

            Selesai mengerjakan tes, satu persatu wajah mulai kurekam dalam benakku. Ya, wajah-wajah asing yang kelak demikian akrab hingga melekat di hatiku. Hari-hari selanjutnya diisi dengan kedatangan satu-persatu sahabat baruku. Kami bersama dalam satunya mimpi, menjadi guru. Namun ternyata langkah yang terbentang di depan kami tak mudah. Allah berniat menguji keteguhan hati kami masing-masing. Masalah pun menghampiri dan membuat masing-masing dari kami mempertanyakan kembali keputusan yang telah di ambil. Bimbang pun menghantui satu-persatu hati kami. Dan waktu pun terus mempertanyakan jawaban kami. Tak banyak waktu, harus segera karena ini terkait dengan langkah masa depan kami selanjutnya.

            Demikian pula halnya yang terjadi pada diriku, aku memilih mencari ketenangan dan memikirkan kembali keputusanku. Bernaung dalam suasana natal yang masih terasa, aku berdiskusi dengan kakakku terkait masa depanku. Jawabnya sederhana: belajarlah bertanggungjawab atas keputusanmu sendiri dan jangan menyalahkan orang lain jika tak sesuai dengan harapanmu. Dia buka wawasanku dan menyuruhku untuk memilih. Ada tawaran yang lebih menjanjikan masa depan jika kumau menerimanya. Tapi suara hatiku lebih kuat untuk mewujudkan mimpi kecilku, menjadi guru. Aku putuskan untuk mencobanya, aku tak mau kehilangan kesempatan mewujudkan mimpiku. Aku tak mau hidup dalam penyesalan nanti jika mundur. Dan kembalilah aku menyusuri tepi kota Bogor, menuju Parung tempatku menimba ilmu.

            Dan Allah pun memberikan hadiah indah-Nya padaku: persahabatan. Kutemui banyak pribadi luar biasa di sini. Tiap pribadi yang ada tengah melukis sketsa mimpi dengan caranya masing-masing. Mereka membuatku terus belajar, memperbaiki diri, dan bersemangat dalam menggapai mimpiku. Hari-hari kuliah yang melelahkan terhapus oleh keceriaan masing-masing anak. Celetukan jayus dari anak-anak, godaan kantuk yang luar biasa di tengah materi kuliah, materi-materi asing yang membuat kepala pening, obrolan seru, maupun perdebatan yang terasa menjengkelkan pernah kami lalui bersama.

            Meski persahabatan itu terasa manis namun adakalanya konflik muncul tanpa bisa kami tebak. Konflik antar sesama mahasiswa maupun mahasiswa dengan trainer. Ya, begitulah realita yang tersaji. Proses adaptasi antar manusia yang berbeda membutuhkan penempaan yang aneh dan tak bisa menghindari konflik secara absolut. Dan herannya aku—pribadi yang secara tegas menolak dan menghindari konflik secara langsung—pernah menciptakan dram konflikku sendiri di hadapan teman-temanku.

Dengan tangan gemetar dan suara yang kukuatkan, aku pernah berkata: “Ini panggung saya, jika Anda tidak terima dengan perlakuan saya, boleh menemui saya setelah ini!” Ok, itu tindakan konyolku hehe… Mencoba menjadi orang lain hanya untuk menegur kawan yang kuanggap bersalah. Aih, semua jadi pembelajaran tak terlupakan, sekali lagi. Namun setelahnya, aku belajar lagi dari awal untuk ‘membaca’ sahabat-sahabat baruku.

Lalu hadirlah mereka yang mempunyai arti lebih bagiku. Kuanggap lebih dari sekedar sahabat, keluarga kecilku: Hula-hula. Sembilan gadis dengan berbagai karakter yang menghuni paviliun dengan pribadinya masing-masing. Lekat dan hangat, begitulah kami berbagi kisah di tiap penghujung waktu. Seakan dunia yang kami jalani adalah mimpi yang yang membahagiakan. Dan saat amanah membuat kami berpisah sementara waktu, kutemukan keluarga baru yang tak kalah seru, Zuma Family.

Zuma Family adalah pelita kebahagiaanku yang baru. Bersama mereka, aku merasa gembira. Petualangan demi petualangan semakin merekatkan ukhuwah yang terjalin di antara kami. Pertengkaran, konflik, rasa jengkel, peraturan rumah tangga aneh, maupun kebersamaan dalam mengemban amanah. Jejak yang terangkai di antara kami terekam begitu kuat di ingatanku. Ya, semuanya membuatku bahagia. Dan aku amat bersedih ketika kehilangan kebersamaan itu.

Zuma Family dan menjadi seorang guru merupakan sebuah kombinasi peristiwa yang unik bagiku. Aku belajar untuk meredakan egoku dalam persahabatan juga belajar ‘mendengar’ anak-anakku. Aku mencintai murid-muridku layaknya anak-anakku sendiri—ya, meskipun aku belum pernah mempunyai anak hehe. Naluri keibuanku terasa tumbuh tiap saat di samping jiwa ‘anak-anak’ yang membuatku cepat akrab dengan mereka. Aku menikmati hariku dan kebahagiaan terwujudnya impianku, menjadi guru.

Dan kini, aku telah berada jauh dari mereka yang kusayang. Ya, tak ada perjumpaan yang abadi sama halnya tak ada perpisahan yang abadi. Segala yang kujalani telah tertulis dalam takdir yang menjadi kehendak-Nya, dan aku hanya menjadi pelaku dalam suratan takdirNya. Sungguh, tak pernah kuduga perjalanan setahun terakhir ini menjadi demikian berarti untukku. Mendalam dan berkesan secara utuh. Dan kini kurasakan betapa banyak berkah kehidupan yang kuterima dari Allah untukku. Lika-liku persahabatan yang kujalani hingga kini menjadi cermin langkah kakiku selanjutnya. Pelajaran yang demikian berarti untukku, semoga semua kisah yang terangkai di hariku kemarin semakin mendewasakanku.

Keberartian kehadiran mereka di hidupku bukan berarti aku selalu hidup dalam kenangan dan tak memandang masa depanku. Tidak! Sama sekali tidak! Aku adalah seseorang yang hidup di antara kenangan dan harapan. Tak mudah lupa akan hal-hal indah yang terjadi di hidupku meski telah berlalu lama. Aku juga tak pernah lupa akan masa depanku.

Aku adalah gadis yang penuh mimpi! Setiap saat tumbuh mimpi baru di jiwaku. Mimpi-mimpi yang terus saja kuupayakan tanpa kenal lelah. Yah, aku bukan pejuang mimpi yang mudah menyerah! Aku adalah pejuang yang selalu berusaha menaklukan setiap rintangan yang ada. Aku tak pernah menyerah. Aku selalu penuh harapan akan masa depanku. Harapan masa depan yang tak pernah pupus dari ingatanku. Aku ingin menggapai mimpi-mimpi kebahagiaanku. Kini, aku demikian bersemangat meraih apa-apa yang selama ini masih menjadi anganku semata. Semuanya, semua yang membuatku begitu bahagia.

Sekarang aku berada di Surabaya, menghadapi berbagai tantangan yang sulit kuatasi. Ya, pelajaran di Surabaya menantang keteguhan hatiku sebagai seorang guru. Sudah setengah tahun aku berada di sini, namun aku merasa belum memberikan manfaat yang berarti. Hem, betapa banyak rahasia yang tak kutahu. rencanaNya pada kehidupanku saat ini membuatku berpikir demikian keras. Akankah aku mampu menyelesaikan tugas ini? Ya, perjuangan terus berlanjut. Aku tak boleh menyerah dalam kesulitan ini. Rasanya tak pantas aku bermimpi tentang masa depan jika menyerah sekarang. Rumah Kasih Sayang, aku menyayangi kalian sedalam harapan akan senyum terbitnya senyum kalian hari ini dan seterusnya. Hamasah

13 Desember 2011

2:58

Note: Ya, kurasa cukup di sini aja refleksiku. Aku sudah tak bisa berkata2 lagi hiksss… Kehilangan mata air bahasaku:(. Refleksi nanggung, tapi mau gimana lagi dah nulis berjam-jam ga selesai2. Yah, semangat!!

Posted in diari pinguin | Tinggalkan komentar

Desember Dalam Tetes Hujan

Bukannya aku ingin hidup di alam mimpi karena terus menyimpan kenangan

Tapi memang beginilah aku, terikat dan lebih suka mengikat diri pada kenangan yang membahagiakan

Mengapa harus meninggalkan masa lalu?

Kurasa tak semua masa lalu buruk dan layak dilupakan

Karena masa depan tak kan pernah terbingkai tanpa hadirnya kisah masa lalu..

 

 

Kuijinkan diriku melebur bersama tetes hujan bulan desember

Biar lebur dan hilang diri bersama aliran air menuju segara kehidupanku yang selanjutnya…

Meski demikian, masih kan tetap terkenang olehku bau tanah dari setiap aliran air yang membawaku, tak kan terlupa karena yang kujumpa di hidupku juga melalui ijin Allah…

Selalu…

 

3 Desember 2011

20:00

Note: Mengenang apa yang ingin kukenang bersama derasnya hujan yang menyapa langit Surabaya:)

 

Posted in Coretan Hati | Tinggalkan komentar